hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Blogging - May 14th, 2012

Internet at Liberty 2012 di Washington

Era awal Internet diisi oleh orang-orang biasa. Grassroots. Mereka mencerminkan suara masyarakat yang jujur, berpendidikan tinggi, dan terbuka. Tidak banyak yang menyadari bahwa Internet yang di kala itu masih bayi, kelak akan menjadi medium yang mempercepat perubahan sosial, mengubah paradigma bisnis, dan menggeser kekuatan politik.

Jaman sekarang Internet telah dipahami betul potensinya. Mulai dari hal-hal positif yang akan dibawanya, dan kerugian yang dapat ia ditimbulkan. Industri rekaman AS adalah yang termasuk menyadari kerugian yang ditimbulkan file sharing internet, dan mereka menginginkan Internet berubah melalui SOPA. Rumah Sakit Omni menyadari betapa mudahnya cerita buruk tentang pelayanan medis mereka menyebar dengan kecepatan berlipat-lipat di Internet. UU ITE menghukum pencemaran nama baik dua kali lebih berat dibanding KUHP, karena DPR menilai pencemaran nama baik di Internet lebih mudah menyebar.

Akan tetapi, mengubah internet berarti mengubah sifat alamiahnya yang tidak terpusat dan merdeka. Kita sudah memiliki internet dan menikmati kemerdekaannya. Mengapa mereka yang ketinggalan kereta ingin mengubah internet? Mengapa bukan KUHP yang direvisi untuk menghapus pasal karet pencemaran nama baik? Haruskah negara memblokir situs internet, apakah tidak bisa masyarakat menentukan sendiri apa yang ingin mereka lihat dan apa yang tidak?

Saya berharap bisa memperoleh diskusi untuk permasalahan-permasalahan itu dalam konferensi Internet at Liberty 2012 di Washington DC tanggal 23-24 Mei 2012 ini. Konferensi ini akan mempertemukan aktivis global dengan kalangan akademisi, bisnis, media, pemerintah dan NGO melalui seminar dan perdebatan yang nampaknya akan sangat seru. (Presentasi PowerPoint dilarang dalam acara ini).

Konferensi ini akan mengeksplorasi cara-cara kreatif untuk memecahkan batas-batas kemerdekaan berekspresi online; hubungan yang kompleks antara teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan hak asasi manusia; cara-cara warga dan pemerintah menggunakan internet; peran penengah internat; serta isu-isu penting kebijakan dan hukum, seperti privasi dan cybersecurity.

Saya akan melaporkan catatan-catatan saya selama mengikuti Internet at Liberty sepulang dari Amerika Serikat. Selama konferensi saya akan mencoba melivetweet melalui akun Twitter @hermansaksono. Jika ada pertanyaan dan isu yang bisa saya diskusikan di sana, silahkan dikirim pada di bagian komentar posting ini. :)

DISCLOSURE: Kehadiran saya dalam Internet at Libery disponsori oleh Google Inc. Google tidak meminta saya untuk menulis tentang acara ini.

Politik - May 10th, 2012

Pembatalan Diskusi Irshad Manji di UGM

Hari ini kemajuan mundur satu langkah. UGM yang semestinya menjadi tempat lahirnya pemikiran-pemikiran baru, harus membatalkan rencana diskusi Irshad Mandji. Perguruan tinggi itu takut, mungkin takut mahasiswanya diserang, atau parah lagi dianiaya. Lagipula, bukan pertama kalinya FPI dan kelompoknya memakai kekerasan.

Saya memang mengharap UGM lebih berani, walaupun kenyataannya tidak. UGM memang institusi yang lebih besar daripada FPI, akan tetapi UGM tidak cukup kuat untuk meminta polisi mengamankan UGM.

Diskusi Manji itu kemudian diadakan juga di LKiS Yogya. Dan belum lama dimulai, gerombolan Majelis Mujahiddin Indonesia menyerbu diskusi itu. Mereka memecahkan kaca perpustakaan dan menginjak-injak makanan sambil meneriakkan “Allah Maha Besar”. Adik saya yang berada di sana tidak bisa keluar karena dikepung.

Di telepon, adik saya menangis sambil mengatakan “Aku sedih banget negaraku dirusak orang-orang kayak gini.”

Malam itu pendopo LKiS, Irshad Manji hanya bisa duduk bersila menundukkan kepalanya, sementara preman-preman bertabir agama itu memaki-maki, merasa bahwa kebenaran adalah milik mereka. Dan malam itu juga, Jogja yang selama ini menjadi oase dari hingar-bingar intoleransi, akhirnya kalah oleh gelombang radikalisme.

***

Kita semua sudah muak dengan ini. Walaupun topik lesbian bukanlah flagship dari pemikiran Irshad Manji, tetapi dalam beberapa hari ini diskusi telah disederhanakan menjadi itu. Pandangan Manji soal ijtihad (atau mungkin yang sedikit lebih kontroversial seperti jilbab) tidak pernah disentuh dalam perdebatan. Manji telah direduksi menjadi seorang lesbian pembawa penyakit.

Tapi apa yang salah dengan lesbian menyuarakan pendapatnya? Ini Indonesia. Menjadi lesbian, banci, straight adalah pilihan, dan pilihan mereka harus dilindungi negara, seperti negara harus melindungi penduduknya yang ingin beribadah di masjid, bekerja dengan upah layak, belajar di sekolah yang terbaik. Kita boleh berargumentasi bahwa pilihan menjadi lesbian adalah salah, tapi tolong pertahankan ketidaksetujuan itu dalam diskusi saja. Memakai ancaman dan kekerasan justru membuat FPI terlihat menyerah, karena tidak memiliki counter-argument yang cerdas.

Dan jangan lupa, argumentasi berdasar penafsiran atas kitab suci selalu bisa salah, seperti Manji yang juga bisa salah memahami Al-Quran. Manusia hanya bisa mencari kebenaran, namun tidak pernah bisa mendapatkan sepenuhnya kebenaran.

***

Bagaimana menghentikan ini?

Pertama kita harus melihat Indonesia sebagai negara hukum, di mana aturan yang berlaku adalah hukum yang memfasilitasi seluruh warganya, bukan agama tertentu. Tindakan yang salah di mata hukum agama, tidak harus salah dalam hukum Indonesia. Kita bukan negara agama.

Kedua, kita harus membiasakan diskusi publik yang sehat, bukan diskusi yang bermain tuduh, serang sisi pribadi, dan main plintir-kiri-dan-kanan seperti yang biasa dilakukan petinggi FPI. Diskusi seperti FPI yang sangat menyederhanakan masalah memang memudahkan orang untuk berpihak, namun justru membuat pilihan yang kita ambil menjadi tidak sustainable karena tidak didasari pemikiran yang mantap dan mendalam.

Ketiga, kita harus menunjukkan bahwa FPI adalah kelompok kecil. Polisi dan pemerintah selalu dalam posisi sulit karena menindak FPI justru beresiko melukai umat islam. Faktanya adalah, FPI tidak mencerminkan umat Islam Indonesia secara keseluruhan. Mereka yang mendukung tujuan FPI juga tidak harus mendukung kekerasan FPI, karena tujuan FPI dan kekerasannya adalah dua hal yang terpisah. Kita boleh mendukung tujuan FPI, tetapi tidak boleh mendukung semua kekerasan yang mereka lakukan.

***

Para ekstermis ini selangkah lebih maju daripada kelompok moderat dalam menguasai pemikiran publik. Tapi masih belum terlambat, masih ada waktu untuk mencegah sebelum terlambat. Jika ancaman masa lalu Indonesia adalah rezim diktator dan ancaman masa kini adalah korupsi, maka ancaman masa depan Indonesia ada pada intoleransi dan radikalisme agama. Dan kita masih bisa mencegah itu benar-benar terjadi dengan mengubah sekeliling kita terlebih dahulu dulu.

Kita tidak berharap FPI dan pendukung loyalnya akan berubah, tapi kita bisa berharap masyarakat moderat menyelamatkan Indonesia dengan mencegah mereka terjebak dalam kesesatan FPI, MMI, dan kawan-kawannya.

Saya yakin setelah ini saya akan dimaki-maki kafir, murtad, pendukung homoseks, zionis, dan seterusnya dan seterusnya. Tapi tidak masalah. Dituduh kafir, murtad, maupun homoseks (yang saya bukan ketiganya) tidak membuat pemikiran saya menjadi salah. Pribadi saya tidak ada hubungannya dengan pendapat saya, dan itu adalah pelajaran pertama tentang diskusi yang sehat.

***

Baca Juga

Reviews - March 5th, 2012

Hugo

Hugo

“Aku selalu membayangkan dunia ini ibarat mesin yang sangat besar. Mesin tidak pernah memiliki komponen ekstra. Semua komponen sudah pas sesuai kebutuhan. Jadi aku menyadari, jika dunia ini ibarat mesin besar, aku pasti bukan komponen tambahan. Aku ada disini karena sebuah alasan.”

Hugo Cabret menggumamkan itu di depan Isabelle. Hugo yang yatim piatu, tinggal di stasiun Montparnasse di Paris. Ayahnya meninggal dunia dalam sebuah kebakaran di museum, dan meninggalkan sebuah automata rusak—semacam robot mekanik—yang konon bisa menulis.

Di stasiun Montapransse, Hugo tinggal bersama pamannya yang pemabuk. Setiap hari ia merawat gigi dan roda jam mekanik raksasa yang menghidupkan Montparnasse, lalu sesudahnya ia memperbaiki automata yang urung diperbaiki ayahnya. Hugo yakin, automata itu akan meninggalkan pesan penting untuk ayahnya. Ketika sebuah komponen yang penting tidak ia dapatkan, Hugo akan mencuri dari toko mainan Papa George, dan kepergok.

Hugo, memang bukan tipikal film Scorsese. Warna film yang colorful dan hangat, membuatnya seperti film anak-anak yang bukan digarap oleh sutradara Departed dan Gangs of New York. Akan tetapi, Hugo mengeksplorasi topik yang bukan kekanak-kanakkan dan kemungkinan besar akan membuat anak-anak jenuh. Misteri mengapa George menyita buku catatan Hugo, misalnya, mengangkat isu orang dewasa.

Dari segi teknis, Martin Scorsese nampaknya telah menemukan tarian film 3D. Dalam Hugo, pemakaian 3D tidak dalam dosis berelbihan yang membuat lebay, tapi justru memperkuat emosi film dalam sejumlah adegan penting. Namun seorang Scorsese tetap harus tunduk pada kekurangan mendasar 3D, yaitu  membuat gambar 20% lebih gelap. Dalam menit-menit awal, film terasa terlalu gelap. Dalam menit-menit awal juga, film terasa terlalu pelan hingga akhirnya menemukan ritme yang tepat pada babak kedua.

Asa Butterfield, pemeran Hugo cilik yang berusia 12 tahun menunjukkan kemampuan yang piawai mengimbangi aktor kawakan Ben Kingsley yang memerankan Papa George. Asa menggiring film naik dan turun secara emosional, tanpa menjadi teatrikal seperti aktor cilik pada umumnya.

Akan tetapi, apa yang membuat Hugo istimewa ada pada ensembel pemain yang seperti gigi-gigi pada jam mekanik, menggerakkan film secara bersama-sama hingga awal sampai akhir, dan menjawab apakah Hugo memiliki alasan untuk ada di dunia ini?

Reviews - February 22nd, 2012

The Artist

Dimulainya era film talkies—film bersuara—di pertengahan 20-an, mengakhiri karir para bintang film bisu. Emil Janning, aktor pertama yang memperoleh Oscar, terpaksa pensiun karena logat Jermannya susah dipahami penonton. Demikian juga nasib Douglas Fairbanks, Mary Pickford, Gloria Swanston yang ikon Hollywood masa itu. Walaupun logat mereka baik-baik saja, tapi penonton menghendaki bintang baru untuk talkies.

The Artist menceritakan puncak karir George Valentin (Jean Dujardin) di Hollywood dan bangkitnya era talkies. George yang parlente dan ramah, menarik hati Peppi Miller (Bérénice Bejo), seorang gadis muda yang sedang memulai karirnya di Hollywood. Saat studio Hollywood gandrung dengan talkies dan berhenti membuat film bisu, nasib karir George ada di film yang ia produksi sendiri. Dan film bisu George rupanya tayang perdana pada malam yang sama dengan film talkie Peppi.

Uniknya, The Artist juga disajikan tanpa dialog, alias bisu. Dialog hanya dijelaskan dalam teks yang sekali dua kali muncul dan selebihnya adalah musik silent. Sang sutradara, Michel Hazanavicius memang sudah lama bercita-cita membuat film bisu. Sebagai pemanis film yang charming ini adalah Uggie, sebagai Jack, anjing terrier George Valentin yang pintar.

Walaupun memiliki premis yang mirip dengan Sunset Boulevard, The Artis lebih optimis dan sesekali romantis. George Valentin tidak sekadar tokoh putus asa seperti Norma Desmond di Sunset.

Pada saat indera pendengaran kita diredam karena ketiadaan dialog, maka indera-indera lain semakin terasah mengapresiasi apa yang dirasakan tokoh-tokoh “bisu” di The Artist. Pada saat yang bersamaan, saat indera kita terbuka lebar, maka indera yang tertutup itu akan mengabaikan jawaban atas pertanyaan penting film ini.

Tepatnya mengapa George tidak dapat atau tidak mau berpindah karir ke film talkie?

Update: The Artist memenangkan Oscar untuk film, sutradara, aktor, dan musik terbaik.

Reviews - January 30th, 2012

Midnight In Paris

Midnight in Paris

Siapa yang tidak terpesona Paris? Terpesona orang-orangnya, gedung-gedungnya yang kuno, hingga kafe-kafe tempat seniman mahsyur pernah menyesap kopinya. Salah satu alasan Hemingway pindah ke kota itu tahun 1921, salah satunya karena di sanalah orang-orang dengan pikiran menarik berada.

Gil Pender terpesona Paris, sementara tunangannya bosan dengan kota itu. Novelis muda itu mengagumi Paris dan bagaimana Paris menginspirasi para pelukis impresionis. Sementara Inez, tunangannya, lebih suka menonton film Hollywood di bioskop Perancis.

Suatu malam, saat Gil menyendiri di jejalanan kota itu, ketika lonceng jam berdenting dua belas kali, sebuah mobil antik berhenti di depannya. Dari dalam muncul orang-orang berpakaian kuno yang mengajak Gil pergi bersama mereka. Pada sebuah kafe mobil itu berhenti. Dan setelah berusaha memahami apa yang terjadi di tempat itu, Gil disapa oleh Scott Fitzgerald dan kemudian dikenalkan ke Hemingway. Ernest Hemingway.

Banyak bagian dari Midnight in Paris mengingatkan ciri khas sang sutradara Woody Allen, seperti humornya yang minimalis dan dialognya yang cergas dan (sengaja) mengelantur. Si pemeran utama, Owen Wilson membawakan karakter Gil Pender tidak seperti Owen Wilson di film biasa. Ia memerankan Gil dengan keraguan-keraguan tersembunyi yang menggerakkan pengarang muda itu. Walaupun Mario Cottilard bukan pemeran utama, namun keberadaannya membuat film ini tambah menyenangkan.

Woody menjalankan tugasnya dengan baik. Semua pemeran memiliki dosis yang pas, tidak kurang dan tidak lebih. Ansamble pemain itu memerankan tokoh-tokoh historis yang berpikiran menarik, tanpa harus berlagak berlebihan. Mereka cuma, menarik.

Dengan drama yang tidak mendakik-dakik dan dialog yang renyah, komedi romantis (yang agak surrealis) ini sangat nyaman dinikmati. Dan sebagai bonusnya, Anda juga bisa menikmati Paris.

Update: Woody Allen memenangkan Oscar untuk screenplay terbaik.

Reviews - January 24th, 2012

The Iron Lady

The Iron Lady

Selama perjalanan menuju bioskop, saya tahu, saya menonton Iron Lady bukan karena tertarik melihat biografi Margaret Thatcher. Saya ke bioskop dengan harapan dikejutkan sekali lagi oleh Meryl Streep.

And she did.

Meryl selalu membawakan peran yang baru untuk tiap karakter yang ia mainkan. Di detik-detik pertama Iron Lady, kita langsung terkejut ketika menyadari wanita tua yang bungkuk itu adalah Meryl, memerankan Thatcher tua. Sebagai orang yang masih terlalu kecil untuk mengingat Thatcher ketika masih berkuasa, Meryl mengisi imajinasi itu. Ia membawakan kelembutan wanita dan juga kerasnya pendirian seorang pemimpin Thatcherian.

Akan tetapi film itu sendiri terasa seperti thatch—atap ijuk yang berlubang-lubang. Biografi Thatcher ketika berkuasa (dan akan berkuasa) dijalin dengan Thatcher masa kini yang pikun dan demensia. Walaupun mutakhir, gaya penuturan ini tidak disertai benang merah yang kuat. Alur cerita mengambang dari awal sampai akhir, seolah ingin menjadi biografi walaupun banyak dialognya adalah karangan si penulis skenario.

Di saat Indonesia sedang merindukan pemimpin yang kuat, Iron Lady seperti mengiming-imingi apa yang tidak kita miliki. Bagaimana tidak, Thatcher yang cuma perempuan anak pedagang kelontong bisa mengatur pria-pria DPR Inggris dengan penuh otoriter. Thatcher yang nasionalis, penuh ketegasan at-all-cost ketika perang Falkland, dan tidak peduli pencitraan seperti antitesis dari SBY yang peragu dan pencari jalan tengah dan pencitra.

Yang tidak ditekankan film ini adalah cost yang dibayar untuk menikmati ketegasan Thatcher. Kebijakannya yang memberangus serikat buruh, menjatuhkan ratusan korban jiwa di Falkland, hingga pajak-per-orang yang musti dibayar orang miskin; hanya disinggung sambil lalu. Peran pajak-per-orang juga tidak ditonjolkan sebagai penyebab jatuhnya pemerintahan Thatcher.

Namun saya benar-benar menikmati dan kagum melihat akting Meryl. Gayanya berpidato dan memerintah sudah seperti Thatcher andai kata Meryl tidak kelewatan dramatis. Yang saya khawatirkan cuma satu, film ini memberi candu kepada generasi yang tidak mengalami era Thatcher. Candu akan pemerintah otoriter.

Update: Meryl Streep memenangkan Oscar ketiganya untuk film The Iron Lady.