
Melihat nyawa Pak Harto diulur-ulur di RSPP adalah sebuah tontonan yang membikin bulu kuduk berdiri. Bagaimanapun juga hidup setengah-kopling itu nggak enak, mungkin seperti mimpi buruk yang tidak mau berhenti.
Dalam beberapa kasus serupa yang pernah saya temui, dokter dan keluarga biasanya justru mengikhlaskan mereka yang sudah mendekati sakaratul maut. Bukan karena langkah itu agamis, melainkan demi mengurangi siksaan duniawi yang harus ditanggung.
Oleh karena itu agak aneh ketika keluarga dan dokter justru berusaha menahan Pak Harto supaya tetap hidup selama mungkin, sementara organnya jelas sudah rusak-rusak. Di saat anak-anaknya sudah dewasa dan berkecukupan, apakah ada kewajiban lain yang harus ditanggung simbol orde baru ini?
Pak Harto memang sebuah simbol untuk rezimnya; dan simbol memiliki kekuatan magis untuk mempersatukan dan melidungi orang-orang yang bernaung dibawahnya. Jika simbol itu musnah, maka kesatuan itu akan lepas dan perlindungan atasnya akan meluruh pelan-pelan. Sangat masuk akal jika simbol-simbol harus tetap ditegakkan, walaupun kenyataannya sudah tidak bisa.
···
Pada detik-detik terakhir hidupnya Pak Harto terpaksa harus memikul tanggung jawab yang sangat menyiksa demi tegaknya simbol Orde Baru. Akan tetapi saya rasa itu adalah pilihan yang telah dia ambil ketika memutuskan untuk berkuasa hingga 32 tahun lamanya.