hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for February, 2008

Pictures - February 15th, 2008

Pentingnya Deodoran Bagi Hillary Clinton

Andaikata iklan model begini ini ditayangkan pada saat pemilu Indonesia, dijamin, kantor Axe akan digerbek massa.


Kenapa begitu? Karena Indonesia kebanyakan pengangguran.

Opinion - February 15th, 2008

Kecantikan Demonstrasi


Demonstrasi adalah sesuatu yang cantik, keren, positif. Lho kenapa bisa?

Ya pertama-tama kita harus sepakat bahwa pemerintah itu penting. Jika kerjaan tidak beres karena terlambat sampai kantor gara-gara banjir, lapar tempe mahal, dan biaya operasional rumah tangga melangit; maka itu semua adalah kesalahan pemerintah.

Ini bukanlah sikap egois, karena pemerintah adalah otoritas yang paling berkuasa merancang pembangunan infrastruktur yang tahan banjir. Pemerintah juga paling berhak membuat aturan main pertempean (serta yang lain). Pemerintah jugalah yang paling berkuasa membuat kebijakan moneter dan fiskal supaya perekonomian kita baik-baik saja. Segala permasalahan memang ujungnya selalu bersimpul ke atas sana.

Akan tetapi, pemerintah itu cuma orang-orang biasa yang tidak lekang kekhilafan. Jadilah kita kejatuhan beban untuk menjalin tali percakapan dengan yang memimpin di atas sana.


Artinya: segala bentuk kritik, protes, ataupun demo unjuk rasa ; bukanlah sikap nyinyir nan bitchy tak berguna, melainkan sebuah perbincangan dengan pemimpinnya di Senayan, Istana Negara, dan lainnya; karena kegusaran memang harus disampaikan, bukan cuma dipendam sambil berharap ‘everything will turn out okay’.

Jika di televisi diskusi politik terkesan reseh dan demonstran terlalu agresif; maka kesalahan bertumpu pada fakta bahwa mereka masih amatir dan sedang belajar menjadi negara demokratis.

Sayangnya keamatiran ini tidak diimbangi dengan kecerdasan mereka yang di pemerintahan. Sehingga yang kita tonton adalah segerombolan orang tolol beradu tanpa arah. Wajar saja kalau sinetron dan Mamamia menjadi pelarian yang menyejukkan.

Yah bagaimana lagi, tidak ada yang namanya kemakmuran instan dalam demokrasi.

Uncategorized - February 13th, 2008

Jalan Panjang Soeharto

Jalan Panjang
Dengan tujuan mendidik masyarakat supaya tidak menghujat Pak Harto, Bupati Sleman Yogyakarta Ibnu Subiyanto hendak mengubah nama Jalan Godean menjadi Jalan Soeharto. Tanpa berniat menambah kontroversi, Ibnu menjelaskan kalau nantinya di jalan itu ada patungnya Pak Harto.

Pak Harto itu tokoh kontroversial. Prestasinya segudang, tapi itu kerap disanggah dan dipertanyakan. Lagipula pujian-pujian kepada beliau sebenarnya cuma mengulang pujian-pujian dari jaman saat Orde Baru masih sangat berkuasa, dengan mesin propagandanya tentu saja.

Selain prestasi, mantan presiden RI ini juga dianggap memiliki dosa-dosa yang ekstrem. Pembantaian dan korupsi yang paling menonjol. Sayangnya dosa-dosa lama itu sulit dibuktikan karena kurangnya bukti dan menyusutnya saksi. Lagipula sang terdakwa sudah semeleh di liang lahat.

Dengan situasi informasi yang serba tidak jelas ini cara yang paling aman adalah memang tidak terlalu gegabah dalam mengutuk ataupun memuji. Bahkan politikus sekelas SBY pun cenderung memilih jalan yang aman-aman saja. Oleh karena itu agak aneh melihat Ibnu Subiyanto tiba-tiba memeluk sebuah kubu.

Memang bukan kali ini saja Pak Ibnu menuai kontroversi. Pada Agustus 2007 beliau menjadi tersangka dalam kasus korupsi proyek pengadaan buku teks wajib Dinas Pendidikan. Kelanjutan kasusnya hingga saat ini… saya juga bingung, dulu panas, sekarang kok nggak ada berita lagi.

Lalu? Apakah urusan nama jalan ini penting? Apakah urusan nama jalan, maaf, atau mempahlawankan seorang almarhum itu penting untuk diributkan?

Saya rasa penting, karena sikap saya dan sampean-sampean mencerminkan wajah Indonesia sebagai negara hukum. Negara hukum, sesuatu yang jelas gagal dicapai Pak Harto selama memerintah selama 32 tahun.

Anecdotes - February 12th, 2008

Kedewaan Manikmaya

Ada yang menarik dalam proses replikasi naskah kuno Jawa, jelas Mas Pejalan Jauh dalam obrolan di Djendelo. Jaman dulu perbanyakan naskah dikerjakan oleh juru tulis, dan juru tulis biasanya merangkap seorang sastrawan. Makanya ketika naskah Hindi disalin ke dalam bahasa lokal, sering sang juru tulis juga mengadaptasi naskah itu supaya lebih ke-lokal-lokal-an.

Saya jadi ingat babon terjadinya alam semesta gubahan Ronggowarsito yang saduran naskah India. Di situ dituturkan bahwa setelah Betara Antaga gagal menelan gunung dan Betara Ismaya sukses menelan gunung tapi bentuk badannya jadi besar, gemuk dan tidak karuan, maka Sang Hyang Tunggal melimpahkan kuasa kedewaan ke putra bungsunya yang bernama Manikmaya.

Kemudian si putra sulung, Antaga, disuruh turun ke bumi menjadi Togog dan ditemani Bilung mendampingi tokoh-tokoh berwatak buruk. Putra kedua, Ismaya diturunkan ke bumi untuk mendampingi para satria baik hati bersama tiga anaknya Gareng, Petruk dan Bagong. Ismaya kemudian berganti nama menjadi Semar.

Manikmaya yang berparas ganteng tanpa cacat pada mulanya congkak karena merasa paling ganteng dan paling berkuasa. Ya jelas aja secara dia merajai khayangan dan menguasai alam semesta! Karena stress anaknya kok jadi belagu gitu maka Sang Hyang Tunggal mengutuk Manikmaya kelak bertaring, bercacat kaki, dan bertangan empat.

Dan kutukan itu bener-benar terjadi. Manikmaya mendapat taring gara-gara mengatai istrinya yang tidak mau melayani nafsu. Padahal waktu itu Manikmaya lagi horny banget. Ya gimana istrinya nggak nolak, lha Manik ngajak gituan di atas sapi terbang. Kalau ketahuan, apa nanti kata tetangga?

Kemudian kaki Manikmaya menjadi lemah karena nyeletuk ‘KAKI MANUSIA KALAU BARU LAHIR LEMAH YA!?” saat menyaksikan kelahiran Yesus. Dan akhirnya tangannya menjadi empat gara-gara dia tertawa terbahak-bahak melihat orang sedang sholat memakai rukuh.

Manikmaya memang mirip Shiva dalam ajaran Hindu walaupun perannya diubah oleh Ronggowarsito. Akan tetapi, peran Manikmaya dari sudut pandang ajaran Nasrani justru ditinggikan karena dia secara gaib mengawasi proses kelahiran Nabi Isa. Dari sudut pandang ajaran Islam, dia mentertawakan orang sholat.

Semestinya pujangga kerajaan Surakarta semacam Ranggawarsita memiliki motif tertentu dalam mencomot sana-sini ajaran berbagai agama. Saya tidak tahu apa alasan dia. Tapi saya tahu kalau gubahan itu diterbitkan jaman sekarang, Ranggawarsita bisa dituduh menodai ajaran agama.

Uncategorized - February 12th, 2008

Mencari Wanita Loyal

Bahwa kreativitas yang disalah-gunakan adalah ciri beberapa bloger Jogja, saya harus malu-malu mengakui itu. Ambil contoh teman saya, cewek, yang iseng mendaftar di situs perjodohan onlen. Ketika ditanya kenapa, “supaya bisa dapet jodoh expat, gajinya dolar,” jawabnya enteng, sinis, dan setengah berteriak “masak gitu aja nggak tahu?” melalui ekspresinya yang datar-datar saja.

Pahitnya, ternyata si teman ini masuk kategori tidak laku di kalangan bule. Buktinya yang nembak dia justru orang Indonesia! Contohnya ini: seorang Suroboyo berumur 43 tahun (tuwek!). Nah, rupanya kriteria pasangan ideal si bapak 43 tahun itu ada empat, yaitu TALL, SMART, LADY, LOYAL.

Loyal? Wow. Kayak cari anjing peliharaan aja

Random - February 9th, 2008

Anak Mereka: Dian Mercuryfalling dan Jack Bauer

Sudah sejak lama Mbak Dian memimpikan pelukan hangat dari Mas Bauer. Berhubung hingga saat ini impian itu belum pernah terwujud, saya ingin mengabulkan sedikit dari mimpinya, yaitu membuat simulasi tampang momongan mereka kelak. Dengan berbekal foto kedua seleb itu:
Komputer menghasilkan perkiraan wajah anak mereka berdua:


Namanya Caroline Bauer.