Indonesiana - February 5th, 2008
White Dictator

Entah siapa dulu yang omong, tapi dia bilang kalau Indonesia butuh dipimpin white dictator. Maksudnya diktator yang mengutamakan kesejahteraan rakyat, tapi mencapainya dengan tangan besi. Bukan seperti Hitler atau Mao, tapi macem Lee Kuan Yew dan Eva Perón (dan suaminya).
Mungkin Indonesia memang butuh. Singapur dan Malaysia pernah mengalaminya. Indonesia katanya juga pernah. Katanya juga hasilnya bagus. Ekonomi tumbuh, situasi aman, perutpun kenyang.
Kenyang dan aman adalah obat, tetapi juga candu. Jika kekuasaan terus menerus dilimpahkan ke diktator; maka pelan-pelan diktator akan terlalu kuat untuk dikoreksi jika salah. Dan siapa yang tidak pernah luput dari kesalahan? Katanya sih tidak ada.
Dalam sebuah diskusi waton bersama Nana di[asal]-simpulkan bahwa ada sejumlah syarat penting supaya seorang white dictator dapat membawa manfaat: dia harus diktator, masa kuasa tidak panjang, memiliki tujuan khusus dan spesifik. Lalu bagaimana jika salah satu syarat tidak dipenuhi, padahal si diktator sudah terlalu kuat? Apakah mungkin dia dapat dikoreksi?
Ya mungkin saja kalau dia orangnya baik .
Ealah. Rupanya ini yang menimbulkan keraguan saya dengan sosok white dictator. Ide ini sepenuhnya mengandalkan personality dan akhlak sang diktator. Kita harus mencari malaikat darat untuk dipasrahi kuasa tak berbatas. Dan jika malaikat itu bukan benar-benar malaikat, maka akan selalu ada ruang untuk hak asasi yang dikurangi, hukum yang dilewati, dan kekuasan yang selalu benar.
Tapi itu saya, yang selalu ketakutan kita akan kembali di bawah kekuasaan mutlak. Apakah orang lain juga begitu? Saya nggak tau.
21 Comments
-
sik mon.. menyelamatkan pertamax… hihihi
*dibantai massa blogger
-
diktator bener2 perlu saat sedang kritis dan genting mon.. tapi kalo untuk waktu yang lama rasanya kurang tepat ya… :0 :)
-
kalo selama itu membuat rakyat kecil tenang, aman dan tidak kelaparan ok aja tuh mas..
-
dulu, ada filosof yang bilang, sebaiknya sebuah pemerintahan negara dipimpin oleh seorang filosof. dia tidak punya ambisi tetapi pintar memimpin, serta tidak punya private interest yang tinggi selain untuk mengabdi.
ketika gus dur memimpin, ada orang yang mengaitkan asumsi itu, inilah… sang filosof telah datang memimpin. nyatanya, tidak begitu banyak ada perbaikan.
apapun tipe pemimpin dan tipe pemerintahan yang ia kendalikan, sepertinya memang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. tinggal kita mau milih yang mana.
Waduh, ini topik serius bung. :)
-
hah? gusdur = filosof? yg bener? dulu aku kira dia itu badut, komedian.
-
dalam politik ada yang white ya mon? bukan hanya abu-abu dan hitam ya?
-
Emang ga ada yang menjamin demokratis membawa kemajuan…
Dan diktator juga tidak sedikit yang bagus, contohe diktator di Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat yang ga rakus2 amat kayak yang lain -
yah baru aja mengkhayal gini bulan lalu
terserah deh mau berapa lama asal jangan korupsi
-
problemnya memang di negeri ini selalu aja ada orang yang nyinyir terhadap siapapun penguasanya. Dan apapun kebijakannya pasti ada para pengkritiknya. Nah diperlukan orang yang tegas untuk mengambil keputusan dan mengawal keputusan2 itu
-
Anang:
diktator bener2 perlu saat sedang kritis dan genting mon
kalau sekarang ini negara ki kritis dan genting enggak ya?goparts:
kalo selama itu membuat rakyat kecil tenang dan tidak kelaparan ok aja tuh
maksudnya… beberapa rakyat kecil tenang dan tidak kelaparan, dan beberapa yang lain tidak tenang dan kelaparan? :Dherman:
apapun tipe pemimpin dan tipe pemerintahan yang ia kendalikan
hai herman! :D Iya memang tidak ada sistem yang sempurna. tapi sistem kediktatoran itu memiliki kekurangn yang cukup berbahaya lho.mbilung:
dalam politik ada yang white ya mon? bukan hanya abu-abu dan hitam ya?
:Dogi:
Emang ga ada yang menjamin demokratis membawa kemajuan…
Dan diktator juga tidak sedikit yang bagus, contohe diktator di Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat yang ga rakus2 amat kayak yang lain
nggak rakus, atau belum terlalu rakus Gik? Kurasa demokrasi ciri penting demokrasi adalah menghargai proses. Akibatnya, supaya selalu ada win-win solution, butuh waktu yang lama untuk mencapai tujuan.mercuryfalling:
yah baru aja mengkhayal gini bulan lalu
mengkhayal apa mbak :Dandri:
problemnya memang di negeri ini selalu aja ada orang yang nyinyir terhadap siapapun penguasanya.
benar, memang selalu ada orang yang nyiniyir tidak konstruktif. Tapi yang nyinyir berkualitas juga ada kan? Gimana kita membedakan mereka? -
masalahnya mas momon, aku lagi gak butuh siapa2..hehehe..lagi sakit jiwa, jadi sebodo amat dengan pemimpin dengan model apapun..udah apatis dan skeptis…
-
Pilihan lainnya, menurut diskusi saya ama seorang senior-citizen: dijajah lagi aja
-
color is in the eye of the beholder
-
ada seseorang yang pemahamannya lebih maju dari banyak orang lainnya. lalu berbicara disuatu masa dimana orang lain meski berada dimasa yang sama, tingkat pemahamannya tidak berjalan seiring dengan waktu. terlebih lagi kalimatnya dipotong seenaknya untuk menyerang dia ataupun untuk menjustifikasi kepentingan beberapa orang atau golongan. apa yang terjadi?
gusdur, let me put it this way, TIDAK DIANGGAP
sorry man, can’t help it. i am a big admirer of gusdur (literary as well. haa :D)
-
Menurut saya, pemimpin yang diktator cocok untuk negara yang rakyatnya masih terlalu berpengetahuan sempit dan tidak tahu apa2 ttg negara, sehingga mereka harus menurut 100% pada pemimpinnya yang paling pandai.
So, dengan berjalannya waktu, apakah rakyat Indonesia masih terlalu “berpengetahuan sempit” dan membutuhkan seorang diktator?
-
lalu siapa diktator yang cocok untuk kita sekarang??
apakah sotoyoso?
-
ah… negara kita mah cuma perlu eksekutor, yang berani menghukum tegas para koruptor ituh
-
jadi? kita butuh presiden baru kan? bukan cuma casing baru :p
tapi ga mungkin deh keknya dapet orang yang bersedia dibatasi masa jabatannya. bukankah kursi itu candu? :p -
Jahhh…
begimana bisa? lha wong masyarakadhna saja juga tekakar-tekukur begitu… -
lebih tepatnya, butuh pemimpin yg bisa tegas yak.
(btw, salam kenal buat semuanya)
-
idealny tipe2 kepemimpinan berubah seiring dengan situasi, ketika negara dalam keadaan genting (misalnya ada suatu wilayah yg mrorongrok kedaulatan negara), ya parah kalo pemimpinnya bertindak permissif, diktator dalam keadaan spt itu memang perlu
hanya sayangnya banyak pemimpin diktator yang kebablasan, pengennya diktator seterusnya, seolah-olah dia adalah kaisar atua bahkan tuhan