hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for March, 2008

Indonesiana - March 14th, 2008

Semua Salah Mayangsari


Saya kasihan sama Mayangsari dan mayang-mayang yang lain. Kalau sebuah rumah tangga tidak beres, apakah lantas yang disalahkan selalu orang ketiga. Bisa aja yang nakal justru sang suami (atau istri); atau suami (atau istri) dan selingkuhan.

Bapak office-boy di kantor saya juga pernah mengutuk Mayang. Lalu saya mendebat dia (kurang kerjaan bgt): Apakah jika ada suami selingkuh maka itu salah si selingkuhan? Bisa aja si selingkuhan itu cuma pasif, dan si suami yang aktif merayu dan menggombal. Tidak etis kalau yang disalahkan cuma Mayang.

“Tapi laki-laki itu anjing, pasti mau kalau digoda,” tangkis Pak Office-boy.

“Lho, berarti Bambang juga anjing!?” tanya saya.

“Ya … iya … ” gerutu Pak Office-boy.

Pictures - March 12th, 2008

Ketika Duit Sudah Tidak Meteran Lagi


Majalah Forbes mengeluarkan pengumuman besar: Bill Gates bukan lagi manusia terkaya sedunia. Sekarang dia turun jadi manusia ketiga terkaya sedunia, kabarnya gara-gara harga saham Microsoft terbanting 15% setelah gagal meminang Yahoo.

Moralnya? Jangan nembak sembarangan. Ini juga berlaku untuk yang cewek.

Opinion - March 11th, 2008

PSK Eksekutif Emperor’s Club


Hancur sudah karir Gubernur NY Eliot Spitzer, gara-gara memanggil wanita pesanan (atau memesan wanita panggilan ya? whatever!). Tapi yang dipesan Eliot melalui jasa Emperor’s Club VIP bukanlah PSK ecek-ecek, karena Kristen dilepas US$ 1000 hingga US$ 5000, permalam.

Rugi? Jelas lebih rugi Clinton dan Obama karena mereka kehilangan perhatian publik pada pemilu pendahuluan di Mississipi besok.

Politik - March 8th, 2008

Sapu Bersih Antasari


Soal Jaksa BLBI yang dengan mudahnya tertangkap KPK sedang menerima suap, Ketua KPK Antasari Azhar berkata demikian:

Kalau misalnya Anda punya rumah, lalu kemasukan sampah, apakah yang punya rumah akan membiarkan sampah begitu saja? Karena ini sampah, harus kita sapu dong. Kita bersihkan.

Maka pertanyaan ini diulangi lagi: Bagaimana mungkin membersihkan dengan sapu kotor?

Andaikata sapu itu sudah bersih, kotorannya dibuang ke mana? Dan jika masih kotor, jangan-jangan malah yang ikut mengotori rumah itu.

Life - March 7th, 2008

Masker Bu Dokter


Jika tidak bisa melihat wajah seseorang dengan lengkap, maka kita akan mengisinya dengan yang bagus-bagus. Ini bukan hoax. Gue mengalaminya sendiri.

Beberapa kali terakhir berkunjung ke dokter kulit dan kelamin, gue mendapati si bu dokter ini memiliki kebiasaan aneh: dia selalu memakai masker mulut hidung. Itu loh, seperti yang biasa dipakai orang Jepang kalau lagi kena flu. Ngapain juga sih dia kok selalu make masker gitu?

Ada banyak spekulasi. Pertama. dia nggak tahan bau badan pasien-pasiennya. Kedua, bu dokter ini sebetulnya punya identical-twin. Prakteknya diselang-seling gitu, biar ndak capek, secara kliniknya praktek setiap malam. Tapi matanya bagus loh, not a hottie though, and far from a MILF.

Tapi hari Rabu kemarin akhirnya rasa penasaran gue terjawab! Waktu ke rumah sakit tempat bu dokter praktek, gue mendapati dia tanpa masker. And boy! She’s ugly without the mask on.

Salahkah gue kalau mengisi bagian wajah yang selalu ketutup itu dengan hidung yang mancung dan bibir yang manis? I was just trying to be postitive. Like all those saints, self-heal book writers, and the rest of the world said!

FallacyOpinion - March 5th, 2008

Kartu Ad Hominem


Dalam lomba debat, peserta yang melontarkan argumen menyerang pribadi lawannya akan langsung mendapat Kartu Ad Hominem. Mirip seperti pebola yang mendapat kartu merah: untuk selanjutnya dia tidak diperkenankan meneruskan debat dan dinyatakan kalah.

Kenapa begitu? Sebab, ad hominem adalah salah satu bentuk logical fallacy. Dan logical fallacy itu salah besar, karena bisa menjebak perdebatan konstruktif menjadi debat kusir penuh retorika. Dan yang paling penting, logical fallacy menghasilkan kesimpulan yang sesat karena tidak disusun dengan logika yang benar.

Logical fallacy jenis ad hominem—alias serangan pribadi— adalah argumen yang menyerang pribadi lawan debat, bukan argumennya. Parahnya, walaupun serangan pribadi itu salah, dia sukar dipatahkan. Parahnya lagi, ad hominem dapat dilontarkan sangat frontal, dan dapat juga dikemas sangat halus hingga tidak ada yang menyadarinya.

Contoh ad hominem yang lazim:

Si A
FPI merazia hotel2 untuk memberantas perbuatan zinah!
Si B
FPI lagi? Dasar orang-orang munafik.

Salahnya cukup kentara kan? Argumen kedua mengolongkan FPI ke golongan munafik, sehingga perbuatan mereka jadi ‘nampak’ salah. Padahal, terlepas seseorang itu munafik atau tidak, jika yang dia lakukan benar, maka dia benar. Lagipula kita kan meributkan sah tidaknya ormas merazia hotel dengan alasan moral, bukan FPI munafik atau tidak

Contoh lain adalah ketika Megawati mengkritik pemerintahan SBY yang seperti menari poco-poco. Menganggapi komentar itu, juru bicara kepresidenan Andi Malaranggeng menjawab:

“Itu bukan tari poco-poco … tapi saya senang juga dengan pengandaian Ibu Mega karena poco-poco tarian asli dari Sulawesi”

Ini jawaban yang bener-bener bikin saya geli. Bukan karena tidak suka Mega, tapi karena tangkisan Andi yang begitu maut tanpa terlihat galak. Bagi saya ini sudah termasuk ad hominem, karena secara tidak langsung Andi merendahkan keseriusan kritik Megawati, sehingga Mega nampak konyol dan argumennya tidak sahih. Padahal, bisa jadi kan SBY dan tim-nya memang poco-poco?

Ada banyak contoh ad hominem, tapi komen-komen di blog saya kayaknya juga ada beberapa, termasuk juga *mungkin* di postingan-postingannya blog ini. Semoga tidak. Amin.

Satu hal yang pasti, bangsa ini baru akan maju jika sudah terbiasa berdiskusi secara konstruktif, termasuk juga bebas dalam kesalahan berargumentasi.

Sampai ketemu di postingan lain soal logical fallacy, ya Bu?