hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for April, 2008

Reviews - April 29th, 2008

Terlalu Banyak Film Indonesia

film indonesia kacangan

Sampai kapankah film Indonesia kacangan harus membanjiri cineplex? Hari ini di Jogja, dari 5 studio, 3 diantaranya adalah film-film Indonesia tidak orisinil yang terasa hendak meraih keuntungan cekak semata. Namaku Dick? Extra Large? Tali Pocong Perawan? Hantu Ambulance?

Permasalahannya bukan pada saya tidak ingin memberi kesempatan film Indonesia. Saya sudah.

Permasalahannya, sudahkah kesempatan yang saya berikan dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku industri ini?

Mendaur ulang cerita horor dan komedi porno dan roman picisan tidak menunjukkan kesungguhan sama sekali.

Uncategorized - April 28th, 2008

Facial Tengkleng

Tengkleng Kambing
Hari kemarin, Ibu saya bertandang ke Solo dan pulang membawa tengkleng. Seperti wong Solo selalu bilang, makanan Sala enak-enak, termasuk diantaranya: tengkleng.

Suapan pertama terasa enak. Bumbunya enteng dan santannya ringan. Dagingnya empuk penuh rasa, tapi tetap liat dan tidak sepo. Cocok banget dimakan pake nasi pulen. Di sudut mangkok ada bulat-bulat, ah mungkin ini torpedo kambing. Saya coba ulik daging itu…

Dan ternyata itu adalah bola mata kambing!

OMG. Dan setelah tengkleng itu diaduk-aduk lagi, ternyata yang saya makan adalah rahang kambing beserta gigi-giginya (yang semestinya tidak pernah gosok gigi).

Bener, saya tidak masalah memakan organ. Tapi makan wajah kambing? Ewwww. Priceless?

Gambar pinjam dari postingan di Wikimu. Tengkleng yang saya makan bukan tengkleng yang dibahas di Wikimu.

Uncategorized - April 16th, 2008

Ndoro vs Kambing Jantan

Suatu hari biasa di Blogger’s Day, Ritz Carlton…

Ndoro vs Kambing Jantan

Reviews - April 15th, 2008

Seraphim Falls

Seraphim Falls
Seorang teman yang datang dari jauh menyebabkan saya, Tika, dan Alvonsius menonton film di kala tidak ada film yang bagus. Pilihan pertama jatuh kepada filmnya Andy Lau yang desas-desusnya keceng banget: Three Kingdoms.

Tapi, menurut Tika—yang udah nonton—Three Kingdoms itu jelek.

Maka pilihan pindah ke Seraphim Falls, karena film satunya lagi—The Game Plan—tidak menarik sama sekali.

Jam 21.00 kami duduk manis di Studio 5 menunggu Seraphim Falls diputar. Dan ternyata film itu jelek banget. Adegan kejar-kejaran over heroik yang episodik terus-menerus mengisi layar, untuk kemudian ditutup dengan ending kontemplatif ala indie. Padahal ritme awalnya Hollywood. Sungguh tidak nyambung.

Alangkah baiknya jika tidak disebut film cerita, karena lebih mendekati film dokumenter tentang “Survival Jika Ditembak dan Terdampar di Daerah Barat Yang Liar.” Saran saya, tonton saja ketika tidak ingin nonton film karena menontonya mengakibatkan efek traumatis yang serius.

•••

Esok harinya saya tanya ke Tika: “Emang Three Kingdoms jelek banget ya Tik?”

“Bagus kok. Lebih bagus dariapda Seraphim Falls,” jawabnya.

“Kemarin kamu bilang jelek!?”

“Iya, soalnya aku males nonton Three Kingdoms lagi,” jawabnya sambil meringis.

Sejak saat itu saya memutuskan membenci Tika hingga hari Kamis.

Life - April 14th, 2008

Berburu Tetikus

Pilihan mouse

Kenapa mencari mouse bisa jadi perkara yang sedemikian complicated?

Berburu mouse dari satu toko ke toko lain hasilnya selalu: terlalu kecil—atau terlalu besar. Terlalu ecek-ecek—atau terlalu norak. Desain super-duper ergonomis—atau super-duper maksa. Jika bermerek, mahal.

Tapi merek jreng tidak menjamin fungsionalnya bagus. Ketika akhirnya saya beli mouse besutan Microsoft (yang mahal tapi diskon 50%), sewaktu dipakai… ya tuhaaaaaannnn gerakannya gak akurat banget!

Apakah tidak ada yang menciptakan mouse biasa, ukuran sedang, desain normal, dan berfungsi dengan baik?

Misc - April 9th, 2008

Kasus Serangan di Perkampungan Atlit PON

Budiman berdiri diantara tiupan angin malam yang tak menganggunya. Jangankan angin, riuh sorak para atlit yang merayakan kemenangan mereka, tidak mengusik pikirannya. Sambil menatap langit remang-remang, hatinya tersenyum memikirkan kemenangan esok hari yang pasti ia raih—’pasti Sumilir akan sangat gembira melihatku pulang ke kampung membawa medali emas…’

Ki Sencaka menelusuri malam yang lebih kelam di hutan itu. Buraian hentakan gaduh dari tempat para manusia bercokol sungguh mengusiknya. Dengan gerakan anggun, Ia terobos dedaunan dan ranting kering sambil terus menelisik sumber keributan tadi. Karena ia tak pernah ingat dimana manusia selalu tinggal.

Budiman masih dapat melihat paras Sumilir yang ayu di benaknya, dan juga kemenangan yang pasti ia raih besok. Sedikit jumawa, tapi tak apa. Tidak salah dia dijagokan menang, latihannya yang sudah dimulai sejak lama pantas jika berbuah kemenangan.

Ki Sencaka menyentuh ujung hutan dan waspada sejenak, melihat sekeliling. Sebuah tiang, atau pipa, yang berdiri tegak di dekat rumah manusia menarik perhatiannya. Maka ia tempuh pelataran tak berumput itu, melewati belakang sesosok manusia, lalu naik, dan masuk ke tiang pipa itu.

Budiman tidak sadar kalau jam sudah menyentuh pukul 21. Waktunya tidur. Ia kemas wajah Sumilir ke dalam hatinya sambil tak lupa menahan gembira kemenangan untuk dirayakan besok siang. Ia masuk ke dalam rumah atlit.

Ki Sencaka bergeliat, berenang-renang, dalam kubangan air yang gelap. Tidak ada cahaya, kecuali sebentuk lingkaran yang memendarkan cahaya kuning dari atas. Dengan sebuah hentakan halus Ki Sencaka mengarungi kubangan hingga dapat mencapai sumber cahaya itu.

Budiman mencuci mukanya lalu menggosok gigi. Kemudian ia duduk di toilet karena tadi siang makan banyak.

Ki Sencaka terkejut ketika ada sesuatu yang menyerangnya dari liang sumber cahaya itu. Benda itu menjatuhkan benda padat yang bau, berkali-kali. Karena terusik, maka diseranglah benda itu.

Atlit PON Diserang Duburnja

Medan, MEDAN POS. Budiman (24), atlet kontingen Djawa Tengah, dipastikan tidak dapat mengikuti pertandingan tjabang lari djarak pendek karena digigit ular pada anusnja. Menurut Rohar Simuntung, atlit dari Palembang, dia mendengar djeritan keras dari kamar mandi Budiman. Ketika ditjek, ternjata Budiman sudah tergelimpang di lantai dengan dubur berlimang darah.

Menurut panitia, ular masuk ke toilet dari pipa ventilasi di djamban perkampungan atlit PON Medan. Hingga saat ini panitia belum menemukan ular jang menjerang atlit tersebut. (hmm)