hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for November, 2008

Misc - November 27th, 2008

Penerima PKBI Blog Award

Okanegara

Seorang kawan saya yang melek informasi tiba-tiba urung membuat blog yang berisi pendidikan seks. Alasannya: takut dijerat UUP.

Anekdot ini cuma secuil cerita tentang ketidaktahuan yang bisa mencegah orang untuk berbuat baik. Dalam konteks teman saya tadi, ia mungkin belum tahu kalau materi seks untuk keperluan pendidikan diperbolehkan oleh UUP. Akan tetapi, ironi ini menunjukkan bahwa ketidaktahuan bukanlah hak orang miskin atau hak kaum terbelakang. Ketidaktahuan rupanya juga menjadi ‘kawan’ masyarakat urban yang biasa mengakses informasi setiap saat.

Maka saya sangat mengapresiasi adanya PKBI Blog Award (yang merupakan kerjasama PKBI Jogja dan CahAndong), karena penghargaan ini pasti akan mendorong blogger untuk semakin rajin berbagi informasi yang menambah pengetahuan masyarakat. Jikapun blog hanya dibaca oleh segelintir orang Indonesia, saya rasa itu bukan masalah. Informasi akan selalu menular dari mulut ke mulut. Yang penting harus ada yang mulai menyediakan informasi.

Saya mengucapkan selamat kepada Mas Oka, Mbak Widari, dan Mbak Titiana atas penghargaan ini. Semoga konsistensi Anda semua dalam berbagi menjadi inspirasi bagi blogger-blogger yang lain.

Misc - November 26th, 2008

Pesta Blogger 2008

Narsis di Auditorium BPPT

Dalam kunjungan yang pendek mengikuti Pesta Blogger 2008 sejak hari Jum’at lalu, ada banyak cerita untuk diingat dan disimpan.

Yang paling mengejutkan tentu penghargaan Blogging for Society Award yang dilimpahkan ke komunitas CahAndong. Ketika menerima award ini saya memang bingung, karena kegiatan di CA lebih banyak makan-makan dan jalan-jalan. Tapi mungkin, sekali lagi mungkin, sering kumpul bareng dan jalan bareng, membuat kami lebih dekat dan lebih kompak; sehingga kegiatan CahAndong lebih lancar.

Para tamu...

Tapi award itu baru sebagian dari cerita. Saya juga akhirnya bertemu dengan Hanny, Kepikcantik, Oelpha, Nike, Itikkecil, Anangku, Epat, Arul, Antown, Mantan Siluman, Mas Kopdang, Priyadi, Eko Juniarto, Fikri Bloggingly, Catshade, dan buanyaaaak lagi. Perhelatan besar itu juga mengobati kerinduan untuk ngobrol langsung (baca: tidak pake YM) sama teman-teman blogger seperti Goenrock, Chic, Tito, Kangtutur, … duh sapa lagi ya banyak bgt e.

Semalam sebelum acara itu, saya mengikuti acara Muktamar Blogger di depan Bunderan HI. Selain bertemu dengan pentolan BHI yang rusak-rusak itu, saya juga sempat ketemu dengan Yenni Wahid. Yang menarik, walaupun hampir semua peserta sudah kucel dan keringetan, Yenny Wahid yang dibungkus kerudung dan jas tebal warna hitam bisa nampak segar. Bahkan bedaknya tidak lengket karena peluh. Kira-kira apa rahasianya?

Jika Muktamar Blogger adalah pre-party, maka usai dari Pesta Blogger saya menuju Wetiga untuk mengikuti post-party. Jika Muktamar adalah pemanasan, maka Wetiga adalah pendinginan. Sambil melahap sate paru khas wetiga, saya ngaso di pojok sambil menonton rombongan lain ketawa ngakak-ngakak.

Post Party at Wetiga

Hari minggu esok harinya acara disambung dengan kopdar makan siang di PIM2. Bersama Antobilang, Nico, Gunawan, Hanny, Faniez, Didut, Iphan, Kepikcantik, Oelpha, Chika, Aprikot, dan Dimas, saya melakukan sesi pemotratan makanan di Sushi Tei. Hampir semua desert dipesan untuk difoto-foto buat kenangan.

Maksi Sushi

Saya suka pesta ini, dan saya benar-benar menikmatinya. Pesta ini menjalankan fungsinya yang paling utama dan paling sentral, yaitu mengumpulkan blogger-blogger dari berbagai penjuru dan berbagai minat untuk saling mengenal dan mengerti. Keakraban ini baru awalnya saja. Terima kasih untuk Panitia! Terima kasih Ndoro, Mas Iman, Mas Enda, Hanny, Balibul, Chika, Dimas, dll.

Jika diijinkan mengkritik, saya berharap acara tahun depan lebih banyak sesi bebasnya, sehingga kami punya banyak waktu untuk bersosial dan ngobrol-ngobrol. Auditorium dan selasar BPPT sepertinya juga kurang mendukung untuk bercengkerama karena terlalu sempit dan layoutnya ruwet. Tapi saya tidak ingin meributkan yang kecil-kecil, seperti lokasi, pendaftaran, acara, atau yang lain.

Karena visi kita terlalu besar untuk mempermasalahkan hal-hal kecil.

Opinion - November 18th, 2008

Bioskop Makan

Image Hosted by ImageShack.us

Blitz Megaplex yang keren itu membuka cinepleks baru di Mall Indonesia. Nah hebatnya, selain nonton, di sini Anda bisa makan di dalam bioskop. Saya belum pernah sih menjajal makan di dalam bioskop, tapi menurut saya itu bisa berbahaya.


Image Hosted by ImageShack.us

Kenapa? Karena makan di tempat gelap itu berbahaya. Siapa yang bisa menjamin kalau makanan di sendok pasti masuk ke mulut, bukan ke lubang hidung. :P

Misc - November 17th, 2008

PKBI Award

PKBI Award

Apakah Anda pernah mampir ke sebuah blog yang peduli dengan wacana kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, atau HIV/AIDS? Kalau ada, sebaiknya blog itu Anda rekomendasikan ke dalam PKBI Award. Nantinya, mereka akan diseleksi dan yang terbaik akan diundang ke Jogja untuk menerima PKBI Blog Award (dan uang saku).

Award ini diselenggarakan PKBI Jogja untuk memberikan penghargaan kepada para blogger yang peduli dan rutin menulis wacana-wacana tersebut. Di lapangan, acara ini juga dibantu oleh rekan-rekan dari CahAndong untuk aspek teknis dan penjurian.

Untuk merekomendasikan blog, Anda bisa langsung kirim email ke pkbi.award@gmail.com. Cukup cantumkan nama pemilik blog, alamat url blog, dan (kalau ada) alamat untuk menghubungi blogger tersebut. Penjelasan lebih lengkap soal award ini, bisa Anda lihat di: pkbiaward.dagdigdug.com.

Opinion - November 12th, 2008

Teori Konspirasi

Kecantikan angin puting beliung di UGM hari Jum’at lalu berbiaya mahal. Cabikannya pada kompleks UGM menelan kerugian hingga 12 Milyar Rupiah. Itu belum termasuk kerugian pengusaha-pengusaha kecil yang gerobak dan dagangannya ikut rusak terkoyak angin. Mereka harus kembali merogoh saku untuk memodali kerusakan-kerusakan itu. Civitas akademika juga harus mengalah, kegiatan akademik dan fasilitas pendukung harus tertunda untuk sementara.

Bencana kemarin lantas dikaitkan dengan UGM yang dibilang sudah tidak merakyat lagi, dikaitkan dengan SPP UGM yang terlalu mahal, dan dikaitkan dengan sengketa tanah dengan UGM. Takhayul atau bukan, mengkaitkan satu kejadian dengan kejadian lain itu memang bakat manusia. Tapi harus hati-hati: kesimpulan salah yang dikoarkan berulang-ulang bisa [dikira] benar.

Kalangan intelektualpun sebetulnya juga sering bertukar takhayul. Mereka menyebutnya teori konspirasi. Topiknya bukan alam, tapi kejadian-kejadian di sekeliling kita. Boleh soal FPI, Menteri, SBY, dll. Tapi itu tidak salah: menganalisis itu tidak salah dan tidak pernah salah. Yang bikin salah adalah jika sumber informasinya sumir dan abal-abal. Ini jenis informasi yang jika ditanya: “Kok nggak masuk media?”, akan dijawab dengan: “Media juga ikut berkonspirasi!”

Nah kalau gini kan berabe, bagaimana informasi itu bisa dipercaya, kalau sumber informasinya tidak ada? Akan teteapi, tetap saja teori-teori itu menjadi obrolan yang asyik untuk menemani seruputan kopi atau teh anget.

Lalu kenapa kita begitu menikmati teori konspirasi? Mengapa sebuah obrolan intelekpun harus dilengkapi dengan bumbu-bumbu teori konspirasi? Jawabannya adalah, teori konspirasi memberikan logika kenapa kita tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan kita. Teori ini melimpahkan kegagalan kita kepada orang lain, atau kekuatan lain. Teori konspirasi, dengan enteng, membebaskan kita dari tanggung jawab.

Lagi-lagi ini tidak salah. Tapi kalau kita salah mengidentifikasi penyebab sebuah permasalahan, dipastikan kita tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan itu.

 

Menurut staf pengajar Fakultas Geografi UGM, Dr. Sudibyakto, angin puting beliung tersebut disebabkan oleh perbedaan suhu udara akibat penggunaan lahan dan polusi udara.

Reports - November 7th, 2008

Puting Beliung UGM

Hari Jumat 7 November, sekitar pukul 15.00 WIB, angin kencang disertai hujan mulai bertiup di sekitar Gedung Pusat UGM. Lima menit kemudian angin menjadi lebih kencang dan mulai mengoyang pepohonan di sekitarnya. Di sebelah selatan, tepatnya di Lapangan Pancasila GSP, angin puting beliung mulai membentuk dan bergerak mendekat:

Angin puting beliung sempat terkumpul dan membesar, tapi tidak sempat mencapai Gedung Pusat, karena meluruh ketika bertumbukan dengan bangunan Grha Sabha Pramana. Akibat dari angin kencang ini sejumlah pohon di UGM tumbang. Saya juga mendapat kabar kalau angin merontokkan pohon dan atap di daerah Bulevard UGM, Fakultas Ekonomi, Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Sekip, dan Masjid Kampus.

Berikut ini adalah rekaman areal di depan Fakultas ISIPOL UGM setelah hujan angin selesai:

Lihat juga: