hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for April, 2009

Politik - April 3rd, 2009

Saya, Istri dan PKS

Sembari menulis review partai yang lain, ijinkan saya memposting sebuah kisah pendek dari seorang penulis tamu—guest blogger—Bung Budi_santoso.

***

Saya harus mengakui saya seorang sekuler. Saya biasa membedakan urusan agama dengan sektor kehidupan yang lain. Sebagai muslim, saya juga mungkin teramat sangat toleran. Ketika aksi demo pluralisme di Monas digebuki anak buah Munarman, mulut saya betul-betul sukar dikendalikan untuk menyumpahi orang satu itu.

Tapi itu, saya… istri saya beda. Ia punya pandangan yang amat bertolak belakang. Biarpun tidak berkerudung, kalau sudah membahas hal yang berkaitan dengan agama, maka apapun adalah benar di matanya. Peristiwa kecil saja, ia mendukung penuh kalau ada ormas-ormas agama yang menggrebek kafe-kafe atau tempat hiburan. Bagi saya itu anarkis, bagi dia itulah jihad.

Suatu hari, saya terpaksa mengalah dengan berdiam diri hanya karena goyangan Inul dan Undang-undang AntiPornogrofi. Sebagai orang yang (sok) openminded, saya tentu menentang keras UU tersebut. Sebaliknya istri… wah mendukung sekali, sampai memojokkan saya tak sanggup berkata-kata lagi… haha…ha.

Saya sendiri heran, koq sampai hari ini saya bisa cocok ya. Tapi sudahlah, saya pikir-pikir jodoh mungkin bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti.

Kembali ke soal tadi. Atas dasar karakter istri itulah, dalam konteks Pemilu 2009 ini, saya menduga istri tentu akan memilih PKS (dalam soal prinsipil, kami memang tak pernah memaksakan pilihan masing-masing). Saya kira, dalam banyak hal ia cocok dengan PKS. Karenanya, dalam sebuah pagi saat bersama-sama pergi ke kantor, iseng-iseng saya tanyakan kepadanya. “Nanti bakal pilih PKS ma?”

Jawabannya ternyata mengagetkan saya. Pendek saja, “Tidak.” Langsung saya sambar, “Lho kenapa?” “Habis Tifatul-nya istrinya dua…,” jawabnya. Saya hampir tak bisa menahan tawa. Saya tidak tahu kabar poligami Tifatul itu isapan jempol atau fakta, tapi bagi saya itu tidak lah penting. Ternyata wanita tetaplah wanita…

Politik - April 3rd, 2009

Partai Amanat Nasional (PAN)

150px-partai_amanat_nasionalsvgPartai Amanat Nasional dilahirkan dengan semangat reformasi di era reformasi. Warna pembaruan PAN juga diperkuat oleh tokoh-tokoh cendekia di jajaran kepartaian. Tapi otak di belakangnya tentu saja Amien Rais.

Sayangnya ketokohan Amien Rais tidak cukup mengangkat PAN untuk mendapatkan kursi DPR yang memadai. Dalam Pemilu ’99, PAN hanya dapat meraih 7,4% suara. Menariknya, jumlah kursi yang pas-pasan tidak membuat PAN kehilangan gigi. Partai ini berhasil mengantarkan Amien menjadi ketua MPR, mengamandemen UUD ’45, membentuk poros tengah, mengangkat Gus Dur sebagai presiden, dan kemudian menjatuhkannya.

Dalam Pemilu 2004 Amien mentargetkan 15% suara di parlemen. Tapi lagi-lagi PAN harus kecewa karena hanya meraih 6,4% suara.

Permasalahan PAN memang terletak pada Amien Rais. Tidak berarti Amien adalah orang yang buruk, tapi ia tidak berhasil menuntun PAN untuk berdiri sendiri. Ketika Amien mengijinkan Sutrisno Bachir untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan, kondisinya sudah terlambat. Tokoh cendekia PAN sudah banyak yang lepas.

Akibatnya partai biru ini seperti kehilangan warna. Arah kebijakannya tidak kuat, seperti tidak tahu mau ke mana.

Belakangan ini PAN sering dijuluki Partai Artis Nasional gara-gara calegnya banyak dari kalangan artis dan seleb. Disinyalir, setelah setahun di DPR, PAN akan mengganti para seleb itu dengan kadernya yang lebih kompeten.

Tentu ini adalah trik yang sah dan cerdik. Tapi di lain sisi juga menimbulkan kesan kalau PAN tidak sedang memperjuangkan nasib konsitutuennya, tapi justru sedang kewalahan menyelamatkan kapalnya yang mau karam.