hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for January, 2010

Indonesiana - January 25th, 2010

Ruby Alamsyah dan SMS Roy Suryo

Saya percaya jaman sudah berubah. Pengetahuan yang disembunyikan, tidak akan kemana-mana. Tentu saja dia tidak akan menghasilkan efek negatif, karena dia juga tidak pernah akan menghasilkan hal positif.

Ketika masyarakat diperlihatkan cara kerja skimming ATM, maka secara jelas dan langsung masyarakat telah dilibatkan untuk waspada dan mencegah modus kejahatan seperti ini. Posisi masyarakat sudah satu sama sama para maling itu.

Jadi kalau ada orang yang menyatakan keberatannya kepada Ruby lewat SMS, saya kasihan sama orang itu karena dua hal: satu karena dia hidup di masa lalu, dan kedua karena di jaman twitter, facebook, email; dia masih terjebak di SMS.

Reviews - January 22nd, 2010

Up in the Air

Up in the Air

Malam ini, ribuan orang akan pulang ke rumah, disambut anjing yang meloncat-loncat gembira dan riuhnya putra-putri mereka. Ribuan orang akan tidur nyenyak di samping pasangannya ketika bintang-bintang telah menggelinding maju dari peraduannya. Dan satu dari bintang-bintang itu, yang sedikit lebih terang, adalah lampu sayapku.

Ryan Bingham tinggal di udara. Kabin kelas satu adalah rumahnya, lounge bandara tempat ia sarapan, dan kamar Hilton adalah tempat ia kencan. Tujuan hidupnya mengumpulkan satu juta mil poin frequent flyer, dan—sejujurnya—Bingham menikmati gaya hidup itu. Jika ada satu tempat yang susah ia nikmati, adalah satu: apartemen sesak di alamat suratnya.

Pekerjaan Bingham (George Clooney) adalah berkeliling Amerika membantu bos-bos yang terlalu pengecut untuk memecat bawahannya. Dengan kata lain: juru pecat—profesi yang di era resesi melejit tajam. Tapi gaya hidupnya yang terisolasi terancam berubah total ketika anak kemarin sore lulusan Cornell merancang ulang aturan main kantornya. Pemecatan tidak lagi dilakukan melalui tatap muka, tetapi lewat webcam, melalui internet. Tidak ada lagi yang namanya hidup di udara.

Anak kemarin sore itu adalah Natalie Kenner (Anna Kendrick). Dan bosnya menyuruh Bingham mementori Natalie supaya ngelotok benar dengan industri pemecatan. Tentu saja hubungan mereka tidak gampang. Natalie yang naif dan meyakini cinta, pernikahan, dan membesarkan anak, adalah antitesis dari Bingham. Permasalahannya bukan apakah mereka akan cocok, tapi bagaimana mereka dapat saling mengubah, apalagi dengan munculnya sosok Alex (Vera Farmiga), seorang eksekutif wanita yang seperti replika Bingham tetapi punya vagina.

Di sini George Clooney memang memerankan tokoh keahilannya, suave, parlente, keren. Dan walaupun topik PHK memang tema yang sangat aktual, film adaptasi novel ini tidak meninggalkan cabikan yang mendalam. Setidaknya tidak meninggalkan cabikan yang mendalam bagi juri Golden Globe.

Reviews - January 20th, 2010

The Thirteenth Tale—Dongeng Ketiga Belas

The Thirteenth Tale—Dongeng Ketiga Belas

“Beritahu aku, apakah kau percaya hantu?”

Itu ditanyakan Vida Winters, novelis kawakan yang menemui senja. Di rumahnya yang besar, dengan korden-korden serta karpet tebal sehingga berisik tersunyikan, Vida mengundang penulis muda Margaret Lea untuk menerbitkan biografinya.

Biografi Vida Winters adalah misteri bagi dunia literatur Inggris. Puluhan penulis mencoba mewawancarai masa lalunya, dan kesemuanya berakhir menjadi cerita yang berbeda-beda. Di usianya yang semakin tua dan dikejar waktu, Vida mengundang Margaret untuk  mendokumentasikan kisah keluarga Angelfield, rumah besarnya yang tua dan nyaris ambruk, serta semua penghuninya—hidup atau mati.

Kebencianku bukan terhadap pencinta kebenaran, melainkan pada kebenaran itu sendiri. Bantuan apa, penghiburan macam apa yang terkandung dalam kebenaran, jika dibandingkan dengan dongeng? Apa gunanya kebenaran, pada tengah malam, dalam kegelapan, ketika angin meraung seperti beruang dalam cerobong asap? Ketika kilat menerakan bayang-bayang di dinding kamar tidur dan hujan mengetuk-ngetuk jendela dengan kuku-kukunya yang panjang? Tidak. Ketika perasaan takut dan dingin membekukanmu menjadi patung di tempat tidur, jangan berharap kebenaran dengan tulangnya yang keras berbungkus kulit akan datang menolongmu. Karena yang kaubutuhkan adalah kenyamanan sebuah dongeng. Dusta yang memberikan perasaan aman yang membuai dan menenangkan.

Ketika Margaret semakin tenggelam oleh dongeng Vida Winters, rahasia demi rahasia mulai terkupas, dan kedua wanita itu harus menghadapi masa lalu yang selama ini menghantui mereka.

The Thrteenth Tale, novel Dianne Satterfield, memadukan sisi seram masa lalu Vida Winters dengan penuturan yang romantik, membuat narasi mengalir mencekam tanpa kehilangan keindahannya. Mengacu ke Wikipedia, gaya ini mendekati aliran literatur gothic Inggris seperti terdapat di Jane Eyre, yang juga sering disinggung di novel ini.

Agak berbeda dengan lumrahnya novel suspense, gaya bercerita Satterfield mengijinkan saya untuk tidak tergesa-gesa. Hentinya satu bab bukan seperti titik tolak untuk segera menuju bab sambungannya, melainkan ruang kosong untuk bernafas sejenak.

Terimakasih Hanny atas rekomendasinya!

Pictures - January 19th, 2010

Inilah Avatar Versi Indonesia

Avatar Indonesia

Naytiri Indonesia di TPI

FAIL!

foto dari Deon dan Somemandy.

Reviews - January 18th, 2010

Ramen di Jogja

Setelah demam iga bakar, lalu gandrung bebek goreng, berikutnya Jogja mau mabuk ramen. Tiba-tiba saja ada warung ramen yang berjamuran di kota yang sibuk sendiri ini. Saya mau menceritakan kesan-kesan mencicipi 5 warung ramen di sekitar jalan Kaliurang dalam 7 jam bersama Alle, Choro, Lina, dan Funkshit.

Ramen

Jalan Kaliurang, Depan Superindo

Ramen

Jangan tanya nama warungnya apa, karena papan nama yang terpasang cuma bertuliskan “Ramen” saja, tanpa merek. Diracik oleh mas-mas dengan baju chef Jepang, ramen “Ramen” tergolong otentik Jepang. Mie ramen-nya, walaupun sedikit kematangan, tetap licin dan kenyal di lidah. Sayangnya kuahnya terasa kurang utuh, ada rasa yang hilang di antara kaldu shoyu, ayam, dan ikan. Mungkin kurang garam juga. Dengan harga Rp 10.000 per mangkuk, ramen “Ramen” bisa dibilang lumayan banget, apalagi Anda bisa minta sayurannya dibanyakin.

Samurai Ramen

Jalan Kaliurang, tepat pertigaan Merapi View

Samurai Ramen

Saya agak bingung ini ramen macam apa. Walaupun mereknya “Samurai” tapi rasanya seperti fusi antara ramen, soto, tom yum, dan sop vietnam. Soto karena memakai suwiran ayam goreng, telur puyuh dan bawang goreng; tom yum karena asem, dan sop vietnam karena ada rasa kayu manisnya. Mustinya dinamai ASEAN ramen saja. Saya tidak bilang rasanya nggak enak, cukup layak makan malah, tapi ini bukan ramen. Agak berat melepas Rp 9000 kalau niatnya makan ramen.

Sapporo Ramen

Jalan Kaliurang, seberang kebun buah naga

Sapporo Ramen

Suasananya sederhana sekali, cuma warung tempel biasa. Satu sisi ditutup anyaman, satu sisi dipasang tulisan “tidak buka cabang di tempat lain”. Miso Ramen yang kami pesan rasa kuahnya terlalu asem, tanpa ada kehangatan miso. Dagingya seperti daging rebus saja, dan sayurannya cuma kubis dan parutan wortel. Dengan harga Rp 12000 per mangkok, ramen Sapporo jadi terasa mahal.

Sentana Bistro

Jalan Kaliurang sebelum Ring Road

Ramen Sentana Bistro

Suasana jajan gaya Jepang lekat dengan restoran sepi pengunjung ini. Begitu masuk Anda langsung dikasih gulungan handuk dingin, sencha complimentary, dan salad kentang. Miso ramennya enak. Kentalnya kuah miso cocok banget dimaem anget-anget di saat hujan. Per mangkuk Rp 23.000, lebih mahal daripada yang lain, tapi isinya juga lebih lengkap. Ada bakso ikan merah-putih (kamaboko), cacahan ayam masak teriyaki, dan sayuran standar ramen. Sayangnya seluruh kelezatannya harus turun satu strip karena mie ramennya masih kurang licin di mulut.

Shilla

Ring Road Utara, sekompleks sama Happy Puppy

Ramen Shilla

Porsi shoyu ramennya gede, bisa untuk 2-3 orang. Tidak begitu otentik sebetulnya, karena ada rasa-rasa Indonesia yang bersembunyi di tiap sudut mangkuk. Tetap enak sih, walaupun bisa lebih enak jika rasa Royco-nya tidak membekas di lidah. Dengan harga Rp 23.000 per mangkuk, sebetulnya isinya bisa lebih dari sekedar ayam rebus, bok choi dan taoge. Jika memang diniati menjadi ramen porsi besar, mengapa mie ramennya cuma seperti mie telur biasa ya?

Kesimpulan

Saya jatuh hati dengan miso ramennya Sentana Bistro, kuah misonya yang kental menggenjot stamina badan. Tapi dengan harga 23.000, memang agak kemahalan untuk kelas Jogja. Ramen “Ramen” depan Superindo Jalan Kaliurang bisa menjadi pilihan alternatif yang lebih murah meriah.

Baca juga review Alle dan Choro.

Pictures - January 11th, 2010

Tanah Longsor Berbasis Komunitas

Eh, kayak gini kan udah ada sejak lama?