hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Blogging - November 21st, 2011

Deklarasi ASEAN Blogger 2011

“Suara itu tak didengar sama sekali. Dua moderator di depan tak mendengarnya. Mereka sibuk mengubah beberapa kata yang terlihat di layar tanpa mengacuhkan apa yang aku sampaikan. Pendapatku diabaikan.”—Anton Muhajir, soal penyusunan naskah deklarasi blogger ASEAN.

Bagi yang belum tahu, satu dari dua moderator itu adalah saya. Dan satunya lagi adalah Nona Dita, yang berlaku sebagai notulen rapat sidang deklarasi ASEAN Blogger di Bali.

Saya bisa membayangkan kekecewaan Anton, karena saya juga kecewa tidak bisa memfasilitasi keinginan semua peserta sidang.

Sebelumnya, perlu saya jelaskan bahwa ketika Anton mengangkat tangan untuk berbicara, wakil dari Kamboja, Anirudh, sudah lebih dulu mengangkat tangan. Saya harus mendahulukan Anirudh. Harapan saya, Anton bisa mengutarakan pendapatnya setelah itu. Namun beberapa saat kemudian, saya lihat Anton sudah tidak di tempatnya.

Pada kali kedua Anton mengangkat tangan untuk bicara, waktu sudah habis. Namun karena Anton memaksa, saya merasa bahwa apa yang akan disampaikan sangat penting, sehingga saya persilahkan. Dan memang penting. Namun usulan Anton untuk mengganti deklarasi dari “Deklarasi Blogger ASEAN” menjadi “Deklarasi Blogger Asia Tenggara” menurut saya tidak tepat. Tentu saja masih terbuka untuk diskusi ini, tapi karena saya sendiri dikejar-kejar panitia agar sidangnya segera diselesaikan, maka dengan sangat terpaksa gagasan dari Anton tidak dapat dimasukkan.

Peserta ASEAN Blogger Conference

Proses Deklarasi

Memang dari proses yang tidak sempurna menghasilkan deklarasi yang tidak memuaskan. Sewajarnya, draf naskah deklarasi memang sudah diterima peserta minimal sehari  sebelum konferensi. Dengan demikian, para wakil bisa mengkonsultasikan butir-butir deklarasi dengan kelompoknya. Namun, di lapangan, naskah draf baru disusun oleh Pak Haz Pohan setelah diskusi kelompok peserta konferensi. Rencananya, naskah itu kemudian akan diplenokan bersama seluruh peserta konferensi.

Blogger dari Filipina, Tonyo Cruz, kemudian mengatakan ke saya bahwa: “Akan lebih baik jika panitia konferensi menjelaskan inti dari deklarasi tersebut ke wakil-wakil ASEAN”. Kemudian hal tersebut saya sampaikan ke Mas Iman Brotoseno, selaku presiden ASEAN Blogger Chapter Indonesia. Beliau dan Pak Haz Pohan setuju.

Perlu diketahui saya bukan anggota ASEAN Blogger, ataupun panitia. Saya hanya peserta yang ditunjuk menjadi ketua diskusi kelompok.

Dan siang itu, di tengah sesi Onno W Purbo, satu per-satu perwakilan dari negara ASEAN meninggalkan ruang auditorium untuk menerima penjelasan dari Pak Haz Pohan. Mewakili Indonesia, adalah Poetra, Agus Lahinta, dan saya.

Memang tidak semua ikut, demi alasan keefektifan. Lagipula Poetra dan Agus Lahita boleh dianggap mewakili karena sudah memimpin rapat kelompok diskusi.

Dalam pertemuan dengan Pak Haz Pohan itu, sejumlah diskusi menguat. Seperti antara lain soal pencantuman kemerdekaan berekspresi dalam butir deklarasi, serta penggunaan bahasa yang lebih informal. Oleh karena materi diskusi semakin banyak, saya mengusulkan agar naskah tersebut dibahas satu persatu saja, ditembahi dan dikurangi melalui konsensus. Pak Haz Pohan mempersilahkan semua wakil ASEAN untuk membahas deklarasi tersebut, serta meminta saya untuk memimpin sidangnya.

Suasana ASEAN Blogger

Sidang Naskah Deklarasi

Sidang itupun sebetulnya tidak tepat jika dibilang panas. Lebih tepat dibilang ketat dan padat, karena waktu terbatas sementara gagasan yang harus disampaikan sangat banyak. Sebagai ketua sidang, tantangan terberat adalah menjaga agar semua wakil negara punya jatah bicara yang seimbang. Sangatlah memalukan jika Indonesia mengklaim melindungi kemerdekaan berekspresi, namun perdebatan dalam sidang deklarasi dikuasai orang Indonesia sendiri.

Tapi saya cukup puas bahwa butir bahwa blogger harus menjunjung kemerdekaan berekspresi masuk ke dalam deklarasi. Poin positif lain adalah menetapkan 16 November sebagai hari blogger ASEAN, serta pengakuan bahwa blogger juga memiliki peran penting menyuarakan masyarakat pedesaan.

Namun saya juga kecewa bahwa butir tentang “Blogger menyuarakan pentingnya akses internet yang cepat dan terjangkau” akhirnya lepas dari deklarasi.

Saya rasa, dengan segala keterbatasan penyelenggaraan Konferensi ASEAN Blogger, deklarasinya pun tidak bisa sesempurna yang kita harapkan.

Akan tetapi Deklarasi Blogger ASEAN tidaklah ditatah pada sebilah batu. Selalu ada ruang untuk mengkoreksi dan menyempurnakan. Dan mumpung masih hangat, tulislah dalam blog Anda, apa yang kurang dan apa yang bagus, sehingga proses perbaikan bisa segera dimulai melalui diskusi.

16 Comments


Leave a Reply