hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Reviews - January 24th, 2012

The Iron Lady

The Iron Lady

Selama perjalanan menuju bioskop, saya tahu, saya menonton Iron Lady bukan karena tertarik melihat biografi Margaret Thatcher. Saya ke bioskop dengan harapan dikejutkan sekali lagi oleh Meryl Streep.

And she did.

Meryl selalu membawakan peran yang baru untuk tiap karakter yang ia mainkan. Di detik-detik pertama Iron Lady, kita langsung terkejut ketika menyadari wanita tua yang bungkuk itu adalah Meryl, memerankan Thatcher tua. Sebagai orang yang masih terlalu kecil untuk mengingat Thatcher ketika masih berkuasa, Meryl mengisi imajinasi itu. Ia membawakan kelembutan wanita dan juga kerasnya pendirian seorang pemimpin Thatcherian.

Akan tetapi film itu sendiri terasa seperti thatch—atap ijuk yang berlubang-lubang. Biografi Thatcher ketika berkuasa (dan akan berkuasa) dijalin dengan Thatcher masa kini yang pikun dan demensia. Walaupun mutakhir, gaya penuturan ini tidak disertai benang merah yang kuat. Alur cerita mengambang dari awal sampai akhir, seolah ingin menjadi biografi walaupun banyak dialognya adalah karangan si penulis skenario.

Di saat Indonesia sedang merindukan pemimpin yang kuat, Iron Lady seperti mengiming-imingi apa yang tidak kita miliki. Bagaimana tidak, Thatcher yang cuma perempuan anak pedagang kelontong bisa mengatur pria-pria DPR Inggris dengan penuh otoriter. Thatcher yang nasionalis, penuh ketegasan at-all-cost ketika perang Falkland, dan tidak peduli pencitraan seperti antitesis dari SBY yang peragu dan pencari jalan tengah dan pencitra.

Yang tidak ditekankan film ini adalah cost yang dibayar untuk menikmati ketegasan Thatcher. Kebijakannya yang memberangus serikat buruh, menjatuhkan ratusan korban jiwa di Falkland, hingga pajak-per-orang yang musti dibayar orang miskin; hanya disinggung sambil lalu. Peran pajak-per-orang juga tidak ditonjolkan sebagai penyebab jatuhnya pemerintahan Thatcher.

Namun saya benar-benar menikmati dan kagum melihat akting Meryl. Gayanya berpidato dan memerintah sudah seperti Thatcher andai kata Meryl tidak kelewatan dramatis. Yang saya khawatirkan cuma satu, film ini memberi candu kepada generasi yang tidak mengalami era Thatcher. Candu akan pemerintah otoriter.

11 Comments


Leave a Reply