Indonesiana - December 15th, 2011
Tendangan Satpam Untuk Suster Ngesot
Lihatlah video heroik satpam yang menendang suster ngesot ini. Tenang, ini bukan suster ngesot beneran, melainkan Mega, gadis 20 tahun yang berdandan seperti hantu untuk memberi kejutan ultah temannya. Sang teman memang terkejut. Demikian juga pak satpam Sunarya yang kemudian secara sigap menendang suster ngesot palsu itu.
Saya mengira kasus sekonyol ini akan berakhir damai. Ternyata tidak. Ayah Mega, Mahfud Djabir akan tempuh jalur hukum untuk pidanakan Sunarya.
Walaupun ini adalah perselisihan antara otoritas (Satpam Sunarya) dan perempuan lemah (Mega), susah bagi saya untuk bersimpati kepada Mega. Sunarya menendang Mega karena refleks ada ancaman. Pada malam itu, Mega bukan gadis berpakaian biasa, ia berpakaian suster ngesot dan ngesot di lantai. Mengingat kebanyakan orang Indonesia masih percaya takhayul, refleks Sunarya menendang Mega adalah keberanian, bukan penindasan.
Akan tetapi yang membuat saya paling kecewa adalah ketika membaca tulisan Mega di blognya:
“Saya baru satu kali melakukan hal tersebut dan saya melakukan itu karena sebuah settingan saya dan teman–teman saya.”
“Mengapa satpam tidak datang kepada saya sampai saat ini, salah atau tidak bersalah pun sudah seharusnya Satpam itu datang kepada saya. Hanya sekedar berbicara tidak ada salahnya kan?”
“MORAL DUTY REQUIRES ME TO CALL THE ATTENTION OF PUBLIC. Mengapa? Karena etika dan moral itu mencerminkan bangsa yang baik. Jangan sampai dengan kejadian seperti ini mencoreng hal tersebut. Pertanggung jawaban itu penting, dan kepatuhan hukum ialah salah satu syarat utama.”
Bagaimana mungkin seorang remaja berusia 20 tahun, yang semestinya pikirannya membawa kebaruan dan anti-feodal, justru mempidanakan satpam Sunarya dan menuntut untuk dikunjungi di rumah sakit, setelah semua kekacauan yang ia ciptakan sendiri?
Belakangan saya baca di berita kalau ayah Mega, ternyata sesepuh Pemuda Pancasila, sebuah ormas yang identik dengan preman.




