hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Life


Life - November 5th, 2010

Mengungsi dari Merapi

Peta radius merapi
Setelah Merapi terus menerus bergeleduk sepanjang malam (4/11), akhirnya pukul 12 malam hujan pasir menyiram atap rumah dengan suaranya yang berdetik-detik. Saya, Mimit, dan Bapak mulai khawatir; apalagi setelah muncul informasi kalau daerah aman diperluas dari 15km menjadi 20km (ditarik dari puncak Merapi).

Ini tentu menakutkan, karena rumah saya sekitar 25km dari Merapi.

Jujur saja, susah untuk bisa tidur nyenyak mendengar suara geleduk merapi yang bersahut-sahutan dengan halilintar. Keadaan diperparah dengan Bapak yang tiba-tiba memutar ringtone perempuan menjerit-jerit, yang membuat saya dan Mimit lari panik ke luar.

Akhirnya tadi malam kami “mengungsi”, walaupun Edo, Tihek, Respo, dan Gembrot peliharaanku ditinggal. Feeling saya awan panas tidak akan sampai rumah malam itu. Sengaja kami tidak memberi tahu Ibu yang sedang di Schiphol, supaya tidak kepikiran. Dengan bagasi terisi tas-tas isi baju, mobil kami bergerak.

Suasana di jalan yang saya lewati terhitung lenggang, walaupun biasanya lebih sepi pada jam segitu. Saya melewati Gejayan, Baciro, Kotabaru, Gondolayu, dan Mangkubumi. Udara diliputi oleh abu-abu halus yang membuat lampu malam berpendar kuning. Jarak pandang sangat pendek, mobil yang disetir Bapak bergerak dengan kecepatan 30.

Tugu Jogja terkena abu vulkanik Merapi

Abu membuat palet kota berubah. Jogja menjadi kontras, warna-warna menjadi lebih tajam, karena permukaan-permukaan ditutup oleh abu putih.

Mobil akhirnya mendarat di rumah Bude. Sambil ngantuk nonton TVOne yang sering ngaco, mulailah muncul berita-berita sedih itu. Sejumlah desa terbakar, dan jatuh korban jiwa. :(

Doa saya untuk semua warga di Jogja, semoga tabah dan tidak patah semangat melewati bencana ini.

Life - October 25th, 2010

Rapat Evaluasi

Rapat evaluasi diadakan di tepi danau. Apa hasil evaluasinya?

Life - August 13th, 2010

Penipuan Dengan Kapal Api

Penipuan berkedok Kapal Api

Pagi-pagi Mbak Ami, PRT keluarga saya heboh. Wajahnya berbinar-binar sambil menunjukkan selipat kupon dari bungkus kopi Kapal Api. Tertulis kalau ia memenangkan satu buah mobil Mazda.

Kupon itu dicetak menggunakan printer inkjet, kelihatan dari tinta yang tidak rata. Juga tertulis kalau pemenang harus membayar pajak hadiah sebesar 20%. Sukar mengakui kalau itu bukan penipuan. Tetapi siapapun yang melihat keriangan Mbak Ami menceritakan kemenangannya, pasti tidak punya hati untuk mengatakan yang sebenarnya. Kita cuma bisa mewanti-wanti kalau itu bisa saja cuma penipuan. Continue reading …

Life - August 6th, 2010

iPad For Free

Seharian ini banyak undangan ke event “iPad for Free” di Facebook. Sayang event ini USA Only.

Tapi saya tidak punya teman FB yang di USA lho.

Lantas kenapa teman-teman FB saya menginvite yaa?

Life - May 14th, 2010

Rumitnya Pesan Makanan di KFC

Seingat saya, jaman dulu, beli makan di KFC adalah sesuatu yang cepat dan praktis, sehingga julukan fast food adalah sesuatu yang layak.

Tetapi, entah kenapa, sekarang KFC berubah menjadi complicated food.

Ketika kemarin hari saya (dan kakilangit) ke KFC dengan niat membeli salad dan air putih, ternyata prosesnya tidak sesederhana mengatakan “salad satu dan aqua”. Pada kenyataannya kami diberondongi dengan pertanyaan demi pertanyaan oleh mbak yang selalu berwajah ceria.

  • Saladnya mau yang kecil atau yang besar? Besar.
  • Saladnya pakai ayam atau tidak? Tidak.
  • Mau pesan ayam? Tidak.
  • Temannya mau pesan ayam? Iya.
  • Ayamnya yang crispy apa original? Crispy.
  • Yang crispy pakai black pepper atau tidak? Pakai black pepper.
  • Mau pakai nasi organik atau upgrade ke kentang goreng? Nasi saja.
  • Mungkin mau tambahan yang lain? Tidak.
  • Minumnya apa? Aqua.
  • Aku dingin atau biasa? Dingin.
  • Temannya minum apa? Coca-cola.
  • Coca-colanya pakai es atau biasa? Pakai es.
  • Masnya dapt bonus goceng, mau ambil yang mana? Ini? Ini? Ini? Atau ini mungkin? Ini.
  • Mungkin mau beli CD-nya mas? 1
  • Makan sini atau dibawa pulang? 2
  • Jadi salad, aqua, paket nasi ayam, coca cola, dan gocengnya ambil es krim waffle strawberry. Ada lagi mas?

TIDAAAAK!!!

1Update dari aalaya.

2Update dari Choro.

Life - April 30th, 2010

Es Teh Tawar Dua

Salah satu cara memperoleh kenyang tanpa menimbun nasi di piring adalah minum yang banyak. Saya, kalau makan, biasanya lebih banyak minumnya daripada makannya. Bukankah banyak minum es bikin gemuk? Ah siapa bilang. Yang bener minum es yang diberi gula itu bikin gemuk. Penggemuk ada di kimiawi gula (yak, bahkan gula itu termasuk kimia), bukan di suhu.

Tapi tentu ada orang-orang yang merasa tidak nyaman melihat saya banyak minum. Ekspresi yang paling wajar itu kaget sambil teriak “Dua Mon?”. Nah untuk ini saya sudah punya jawaban yang manjur: “Mampu kok”, tentu dengan memasang ekspresi kalem. Biasanya manjur, mereka yang reseh itu langsung gondok.

Belakangan ungkapan “mampu kok” jadi populer di CahAndong untuk menunjukkan kejumawaan dalam kebercandaan. Padahal aslinya ungkapan itu untuk membuat orang reseh lekas diam.

Tetapi hobi minum banyak ini lebih sering membawa mudharat. Kemarin lusa di Nanamia, gara-gara pesan Aqua dua, pelayannya lupa tidak membikinkan Strawberry Lassi. Lantaran di meja sudah ada dua minuman, pelayannya berasumsi kalau pesanan sudah lengkap jika jumlah gelas di meja sama dengan jumlah orang yang duduk di meja itu.

Dan kemarin ke Nanamia lagi, hal yang serupa terulang lagi. Betul, saya jadi meragukan maksud dan tujuan menulis pesanan di kertas.

Yang paling menyebalkan tentu saja hari ini di kantin Perpustakaan UGM (jika tidak begitu menyebalkan, tentu saya tidak akan menulisnya di sini bukan?). Di kantin itu, sudah lumrah saya pesan “soto tanpa nasi ples es teh tawar dua”. Tentu saja pesanan itu sempat membuat ibu-ibu pengelola kantin tertegun, tapi setelah makan di sana berbulan-bulan mereka mulai agak terbiasa.

Hari ini nyaris sempurna. Tidak ada lagi tatapan aneh ketika memesan “soto tanpa nasi dengan es teh tawar dua”. Sotopun terasa segar dan gurih. Tak lama kemudian “es teh tawar dua” saya mendarat di dekat mangkuk soto yang gurih itu. Dan—dengan inosennya—orang yang duduk di sebelah saya mengambil satu dari dua gelas es teh tawar itu. Dan langsung menyeruputnya. Dan langsung celingukan mengeluarkan ekspresi aneh.

“Tawar ya mas? Itu punya saya,” saya bilang.

Saya belajar banyak hari ini. Lain kali saya pesan “es teh tawar tiga”. Mampu kok.

Foto dari Swastika Rahmadani.