hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Reviews


Reviews - January 30th, 2012

Midnight In Paris

Midnight in Paris

Siapa yang tidak terpesona Paris? Terpesona orang-orangnya, gedung-gedungnya yang kuno, hingga kafe-kafe tempat seniman mahsyur pernah menyesap kopinya. Salah satu alasan Hemingway pindah ke kota itu tahun 1921, salah satunya karena di sanalah orang-orang dengan pikiran menarik berada.

Gil Pender terpesona Paris, sementara tunangannya bosan dengan kota itu. Novelis muda itu mengagumi Paris dan bagaimana Paris menginspirasi para pelukis impresionis. Sementara Inez, tunangannya, lebih suka menonton film Hollywood di bioskop Perancis.

Suatu malam, saat Gil menyendiri di jejalanan kota itu, ketika lonceng jam berdenting dua belas kali, sebuah mobil antik berhenti di depannya. Dari dalam muncul orang-orang berpakaian kuno yang mengajak Gil pergi bersama mereka. Pada sebuah kafe mobil itu berhenti. Dan setelah berusaha memahami apa yang terjadi di tempat itu, Gil disapa oleh Scott Fitzgerald dan kemudian dikenalkan ke Hemingway. Ernest Hemingway.

Banyak bagian dari Midnight in Paris mengingatkan ciri khas sang sutradara Woody Allen, seperti humornya yang minimalis dan dialognya yang (sengaja) mengelantur. Si pemeran utama, Owen Wilson membawakan karakter Gil Pender tidak seperti Owen Wilson di film biasa. Ia memerankan Gil dengan keraguan-keraguan tersembunyi yang menggerakkan pengarang muda itu. Walaupun Mario Cottilard bukan pemeran utama, namun keberadaannya membuat film ini tambah menyenangkan.

Woody menjalankan tugasnya dengan baik. Semua pemeran memiliki dosis yang pas, tidak kurang dan tidak lebih. Ansamble pemain itu memerankan tokoh-tokoh historis yang berpikiran menarik, tanpa harus berlagak berlebihan. Mereka cuma, menarik.

Dengan drama yang tidak mendakik-dakik dan dialog yang renyah, komedi romantis (yang agak surrealis) ini sangat nyaman dinikmati. Dan sebagai bonusnya, Anda juga bisa menikmati Paris.

Reviews - January 24th, 2012

The Iron Lady

The Iron Lady

Selama perjalanan menuju bioskop, saya tahu, saya menonton Iron Lady bukan karena tertarik melihat biografi Margaret Thatcher. Saya ke bioskop dengan harapan dikejutkan sekali lagi oleh Meryl Streep.

And she did.

Meryl selalu membawakan peran yang baru untuk tiap karakter yang ia mainkan. Di detik-detik pertama Iron Lady, kita langsung terkejut ketika menyadari wanita tua yang bungkuk itu adalah Meryl, memerankan Thatcher tua. Sebagai orang yang masih terlalu kecil untuk mengingat Thatcher ketika masih berkuasa, Meryl mengisi imajinasi itu. Ia membawakan kelembutan wanita dan juga kerasnya pendirian seorang pemimpin Thatcherian.

Akan tetapi film itu sendiri terasa seperti thatch—atap ijuk yang berlubang-lubang. Biografi Thatcher ketika berkuasa (dan akan berkuasa) dijalin dengan Thatcher masa kini yang pikun dan demensia. Walaupun mutakhir, gaya penuturan ini tidak disertai benang merah yang kuat. Alur cerita mengambang dari awal sampai akhir, seolah ingin menjadi biografi walaupun banyak dialognya adalah karangan si penulis skenario.

Di saat Indonesia sedang merindukan pemimpin yang kuat, Iron Lady seperti mengiming-imingi apa yang tidak kita miliki. Bagaimana tidak, Thatcher yang cuma perempuan anak pedagang kelontong bisa mengatur pria-pria DPR Inggris dengan penuh otoriter. Thatcher yang nasionalis, penuh ketegasan at-all-cost ketika perang Falkland, dan tidak peduli pencitraan seperti antitesis dari SBY yang peragu dan pencari jalan tengah dan pencitra.

Yang tidak ditekankan film ini adalah cost yang dibayar untuk menikmati ketegasan Thatcher. Kebijakannya yang memberangus serikat buruh, menjatuhkan ratusan korban jiwa di Falkland, hingga pajak-per-orang yang musti dibayar orang miskin; hanya disinggung sambil lalu. Peran pajak-per-orang juga tidak ditonjolkan sebagai penyebab jatuhnya pemerintahan Thatcher.

Namun saya benar-benar menikmati dan kagum melihat akting Meryl. Gayanya berpidato dan memerintah sudah seperti Thatcher andai kata Meryl tidak kelewatan dramatis. Yang saya khawatirkan cuma satu, film ini memberi candu kepada generasi yang tidak mengalami era Thatcher. Candu akan pemerintah otoriter.

Reviews - January 16th, 2012

Wicked Musical

Wicked Musical Singapura - Glinda Elphaba

Awal tahun 1900-an sebuah topan besar di Kansas menerbangkan rumah si gadis cilik Dorothy Gale. Rumah ini mendarat di Oz, tepatnya di atas sang Wicked Witch of the East—Nenek Sihir dari Timur—dan menewaskannya. Kemudian datanglah Glinda—Sang Peri dari Utara—yang membimbing Dorothy menemui The Wizard of Oz supaya bisa kembali ke rumah.

Dibantu oleh Scarerow, Tin Woodsman, and Cowardly Lion, Dorothy akhirnya mengalahkan The Wicked Witch of the West—Nenek Sihir Dari Barat. Dan berkat kemampuan sihir sepatu merah rubi milik Nenek Sihir dari Timur, akhirnya Dorothy kembali ke rumahnya di Kansas.

Itulah kisah The Wizard of Oz yang juga difilmkan tahun 1939.

Musikal “Wicked” menceritakan kejadian sebelum Dorothy datang dari Kansas dan kejadian di baliknya. Elphaba, yang dilahirkan berkulit hijau, selalu menjadi bahan ejek-ejekan di Shiz University, termasuk oleh Glinda yang paling populer di kelas. Namun suatu hari, karena suatu kesalahpahaman, Elphaba dan Glinda menjadi sahabat dekat.

Kelak Elphaba akan menjadi The Wicked Witch of the West.

Wicked Musical Singapura - Elphaba and Glinda

Karena kemampuan sihir Elphaba, ia dan Glinda diundang ke Emerald City oleh Wizard of Oz. Namun di sana, Elphaba menyadari kalau Wizard of Oz tidak memiliki kemampuan sihir. Sang Wizard hanya ingin memperalat kemampuan sihir Glinda. Sambil menyanyikan “Defying Gravity”, Glinda terbang meninggalkan Emerald City dan kedua sahabat itu berpisah.

Bagi penggemar Glee mungkin ingat pada season 1 Rachel dan Kurt pernah berduet menyanyikan Defying Gravity.

Setting pertunjukkan ini mengulang-ulang penggunaan motif jam, karena kisah Wicked memang merupakan flashback sejak matinya Elphaba oleh Dorothy. Jika dibandingkan dengan Phantom dan Lion King, set dan lighting Wicked memang terasa biasa. Demikian juga dengan kostumnya, masih terasa biasa dan repetitif.

Kekuatan Wicked memang pada dialog yang ngepop untuk melihat kisah Wizard of Oz dari sudut pandang tokoh antagonisnya. Elphaba bukan lagi villain yang satu dimensi, melainkan sosok yang terbuang oleh masyarakat. Demikian juga Glinda yang selama ini digambarkan baik hati, ternyata semula adalah gadis ambisius tapi agak dangkal.

Wicked Musical Singapura - Wizard of Oz

Musikal ini tidak terlalu berat untuk dinikmati. Sang penggubah lagu, Stephen Schwartz memilih aransemen pop untuk Wicked. Sayangnya musik yang seharusnya menjadi kekuatan sebuah musikal, justru terasa kurang mengugah pada saat pertama didengarkan. Mungkin karena Jemma Rix yang memerankan Elphaba nampaknya kurang dalam menyelami karakter yang keras kepala dan penuh konflik diri. Seperti ketika membawakan Defying Gravity, titik tertinggi musikal ini masih terasa nanggung. Untungnya Suzie Mathers lebih terampil membawakan tokoh Glinda yang selalu positif, hingga kadang terlalu positif.

Sejumlah elemen musik lain cukup asyik dinikmati, seperti ketika David Harris yang memerankan Fiyero membawakan Dancing Through Life. Lagu ini juga menbawa kita ke awal mulai persahabatan Elphaba dan Glinda. Persahabatan ini kemudian diuji pada lagu I’m Not That Girl dan kemudian ditutup pada lagu For Good. Dengan segala kekurangannya, Jemma dan Suzie bisa membawakan harmonisasi yang cantik untuk lagi penutup itu.

Pertunjukan Wicked akan main di Marina Bay Sands, Singapura hingga Maret 2012. Nontonlah jika sempat. Musiknya akan semakin asyik setelah beberapa kali didengarkan, tapi hiburan utamanya adalah bagaimana kisah klasik The Wizard of Oz diputarbalikkan oleh Wicked.

Wicked Singapore Stage

Reviews - December 24th, 2011

Sherlock Holmes: A Game of Shadows

Akhirnya Sherlock Holmes menemui padanannya. Dia adalah Profesor Moriarty, pria tua, dosen. Nampak lemah. Tapi dari cara Moriarty menatap, dan juga cara menggerak-gerakkan pensil, memberi kepastian kepada penonton bahwa sang profesor bisa melakukan hal-hal jahat dan tidak menyesalinya.

Tapi yang terburuk: hingga duapertiga film, kita tidak mengetahui kejahatan apa yang sedang diracik Moriarty.

Begitulah. Berbeda dengan tata krama alur cerita Hollywood yang fokus pada protagonis mencegah kejahatan sang villain, dalam Sherlock Holmes penonton bahkan tidak tahu kasus apa yang harus diselesaikan. Potongan-potongan kejadian nampak terjadi secara acak. Seperti ketika di awal film, saat femme-fatale-nya Holmes, Irene Adler mengirimkan paket kepada dr. Hoffmanstahl, sebagai alat tukar sebuah surat dalam amplop putih kecoklatan. Kejadian itu nyaris terasa tidak signifikan.

Alur gaya Guy Ritchie yang tidak pakem Hollywood ini berhasil menyegarkan bioskop dari film lain yang begitu-begitu saja.

Sayangnya, dialog Sherlock yang diperankan Robert Downey Jr. terasa tidak sesuai jaman, seperti menonton orang jaman sekarang berbicara dengan kostum tahun 1891. Downey juga tidak terlihat berusaha berlogat Inggris. Detektif kawakan dari 221B Baker Street itu telah menjadi Tony Stark dengan gaya busana bohemian, dan hidup di London kuno.

Namun selebihnya adalah istimewa. Seperti penggunaan teknik kamera modern dan reinterpretasi tokoh-tokohanya, sehingga generasi kita punya Sherlock Holmes yang kekinian. Satu yang tidak kekinian justru Profesor Moriarty diperankan oleh Jared Harris. Kompleksitas tokohnya yang tidak terlihat namun terasakan telah membuat Moriarty sahih sebagai villain yang lintas masa.

Reviews - November 20th, 2011

Twilight: Breaking Dawn

Twilight Breaking Dawn Part 1

Bella Swan masih ragu-ragu ketika digandeng ayahnya menuju pelaminan. Tapi di ujung sana ada Edward Cullen yang pucat. Dan cemberut di wajah Bella berkurang sedikit, lalu langkahnya menjadi semakin pasti. Bella tahu, Edward adalah lelaki yang akan menemaninya sepanjang hidupnya. Atau sepanjang masa, jika Bella akhirnya menjadi vampir.

Tentu adalah impian kebanyakan gadis belia untuk menemukan lelakinya, di mana kebahagiaan dan kegusaran akan selalu dijalani berdua dan bersama-sama. Dan tak lupa, pesta pernikahan yang indah dan sempurna. Resep inilah yang nampaknya rahasia kenapa seri Twilight—romansa segitiga antara manusia, vampir, dan serigala jadi-jadian—sukses membius jutaan ABG di seluruh dunia, melalui buku dan film. Stephanie Mayer, sang pengarang, tahu betul apa yang diinginkan seorang gadis yang baru gede.

Akan tetapi, menikah dengan Bella tidak ada kebahagiaan. Bella lebih banyak bersedih, termenung, dan merengut; dan Edward tetap bisa mengerti dan memahami. Saya tidak mengerti, kenapa Edward begitu tahan? Ini misteri yang tidak terjawab sampai akhir film.

Pada dasarnya sudah tidak ada yang baru di seri ke-4 Twilight ini, karena Bella, Edward, dan Jacob sang manusia serigala, masih sama seperti dulu. Jika ada yang berbeda, tentu karena akhirnya Bella dan Edward melakukan hubungan suami-istri setelah menikah. Ini poin moral yang pertama. Poin moral kedua adalah Bella tidak mau mengaborsi janin yang dikandungnya, walaupun bayi itu berpotensi melahirkan monster yang lebih berbahaya daripada vampir.

Dan disinilah alur cerita menjadi mirip horor kacangan Indonesia. Adegan Bella minum darah segar supaya bayinya tetap sehat mengingatkan adegan Diperkosa Setan, di mana ada sang ibu kalap makan daging mentah.

Untunglah sinematografinya bagus, alurnya bernalar, dan aktingnya bolehlah. Jika tidak, selesai nonton saya pasti akan berpikir: “Lho sekarang Nayato Fio Nuala bikin film bahasa Inggris??”

Reviews - November 12th, 2011

The Adventures of Tintin: Secrets of the Unicorn

Ada sensasi menyenangkan ketika panel-panel komik Tintin menjadi hidup di layar bioskop. Adegan-adegan awal di Secret of the Unicorn yang diterjemahkan ulang dengan detail-detail baru—layak membuat adaptasi layar lebar ini sah sebagai reinterpretasi Tintin. Bukan memfilmkan komik Tintin.

Adalah miniatur kapal Unicorn yang menggiring Tintin dalam perburuan lintas benua. Wartawan muda itu tidak menyadari kalau Unicorn menyimpan rahasia yang telah turun temurun sejak abad ke 17. Setelah mendapati seorang laki-laki ditembak mati di depan pintu rumahnya, keesokan harinya Tintin dibius klorofor, diperangkap, dan digotong dengan kapal Karaboudjan menuju gurun Sahara.

Reninterpretasi ini menggabungkan tiga komik (Kepiting Bercapit Emas, Rahasia Kapal Unicorn, dan Harta Karun Rackham Merah). Unicorn sebagai cerita intinya dan Kepiting Bercapit Emas sebagai plot bertemunya Tintin dengan Haddock, sahabat petualangannya. Karena Tintin tanpa Haddock, ibarat sayur tanpa garam.

Dan selebihnya adalah komik petualangan yang konyol, seringkali mustahil, tapi menghibur. Adegan Thomson dan Thompson mengejar pencopet dompet dari Unicorn dipertahankan plek seratus persen. Namun adegan Haddock dan Tintin (dan Snowy) mengendalikan pesawat amphibi di gurun Sahara dirombak sepenuhnya, dan tetap komikal. Senafas dengan komik Hergé.

Nuansa Hergé untungnya masih muncul di mana-mana. Mulai dari nama-nama yang konyol sampai deus-ex-machina yang nyata-nyata mustahil.

Animasinya sendiri sempurna. Memakai teknologi animasi yang sama dengan Avatar, guratan-guratan tinta Hergé menjadi hidup dan likeable. Jamie Bell memerankan Tintin yang optimis dan penuh semangat. Tapi bintangnya adalah Andy Serkis yang perankan Kapten Haddock, pelaut putus asa yang hanya sadar jika minum whiski. Jika Anda lupa, Serkis adalah pemeran Gollum dalam Lord of the Rings.

Sayangnya, pengalamanan saya nonton Tintin versi 3D tidak menyenangkan. 3D memaksa mata untuk fokus pada efek 3D-nya dan menjauhkan dari ekspresi karakternya.

Walaupun saya mengharapkan film yang lebih perfect, namun The Adventures of Tintin adalah pembuka yang baik untuk trilogi Tintin. Jika pendapatan box-officenya bagus, mungkin 2013 atau 2014 kita boleh mengharapkan sequel Tintin (mungkin dari Tujuh Bola Kristal), seperti yang dijanjikan Spielberg dan Jackson. Nyawa trilogi ada di seri ke-dua. Ujian terbesar dua sutradara mahsyur itu tertuju pada sequel Tintin.