hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Reviews - December 24th, 2011

Sherlock Holmes: A Game of Shadows

Akhirnya Sherlock Holmes menemui padanannya. Dia adalah Profesor Moriarty, pria tua, dosen. Nampak lemah. Tapi dari cara Moriarty menatap, dan juga cara menggerak-gerakkan pensil, memberi kepastian kepada penonton bahwa sang profesor bisa melakukan hal-hal jahat dan tidak menyesalinya.

Tapi yang terburuk: hingga duapertiga film, kita tidak mengetahui kejahatan apa yang sedang diracik Moriarty.

Begitulah. Berbeda dengan tata krama alur cerita Hollywood yang fokus pada protagonis mencegah kejahatan sang villain, dalam Sherlock Holmes penonton bahkan tidak tahu kasus apa yang harus diselesaikan. Potongan-potongan kejadian nampak terjadi secara acak. Seperti ketika di awal film, saat femme-fatale-nya Holmes, Irene Adler mengirimkan paket kepada dr. Hoffmanstahl, sebagai alat tukar sebuah surat dalam amplop putih kecoklatan. Kejadian itu nyaris terasa tidak signifikan.

Alur gaya Guy Ritchie yang tidak pakem Hollywood ini berhasil menyegarkan bioskop dari film lain yang begitu-begitu saja.

Sayangnya, dialog Sherlock yang diperankan Robert Downey Jr. terasa tidak sesuai jaman, seperti menonton orang jaman sekarang berbicara dengan kostum tahun 1891. Downey juga tidak terlihat berusaha berlogat Inggris. Detektif kawakan dari 221B Baker Street itu telah menjadi Tony Stark dengan gaya busana bohemian, dan hidup di London kuno.

Namun selebihnya adalah istimewa. Seperti penggunaan teknik kamera modern dan reinterpretasi tokoh-tokohanya, sehingga generasi kita punya Sherlock Holmes yang kekinian. Satu yang tidak kekinian justru Profesor Moriarty diperankan oleh Jared Harris. Kompleksitas tokohnya yang tidak terlihat namun terasakan telah membuat Moriarty sahih sebagai villain yang lintas masa.

Cerita Foto - December 23rd, 2011

Cerita Foto: Ketika Kulit Hitam Masuk Sekolah

Ini adalah seri Cerita Foto.

Desegregasi Little Rock

Hari pertama pelajar kulit hitam masuk sekolah kulit putih di Arkansas, AS tahun 1957.

Pada tahun 1954, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa pemisahan sekolah berdasar ras adalah inkonstitusional. Walaupun sejumlah daerah sudah berusaha menggabungkan sekolah kulit putih dengan sekolah kulit hitam, namun di beberapa negara bagian di selatan justru aktif melawan putusan tersebut.

Salah satunya di Arkansas, di mana gubernur Orval Faubus bergabung dengan warga kulit putih setempat menentang masuknya kulit hitam ke sekolah kulit putih. Gubernur Faubus menempatkan pasukan garda nasional untuk menghalangi 9 siswa kulit hitam untuk masuk ke gedung sekolah menengah Little Rock.

Presiden Dwight Eisenhower kemudian menempatkan tentara federal untuk melindungi warga kulit hitam tersebut.

Di akhir tahun ajaran, delapan dari kesembilan siswa kulit hitam dinyatakan naik kelas, walaupun cercaaan dan kebencian terus berdatangan bertubi-tubi.

Gadis kulit hitam di foto itu adalah Elizabeth Eckford, yang terpisah dari delapan siswa kulit hitam lainnya ketika menuju gedung sekolah Little Rock. Perempuan kulit putih yang berteriak di belakang Eckford adalah Hazel Massery, juga pelajar Little Rock. Perhatikan kebencian yang memancar dari Massery.

Ada sedikit paralel antara kasus ini dengan GKI Yasmin yang hari Minggu besok tidak bisa merayakan Natal di rumah ibadah mereka. Walaupun Mahkamah Agung Indonesia (dan juga Ombudsman RI) sudah memutuskan bahwa perijinan gereja tersebut sah, namun walikota Bogor, Diani Budiarto tetap bersikeras menyegel bangunan gereja tersebut.

Sikap Diani juga didukung oleh sebagian masyarakat. Seperti misalnya Keluarga Muslim Bogor  yang mengancam akan mengadakan aksi tandingan jika jemaah GKI Yasmin tetap mengadakan misa natal.

Eisenhower adalah salah satu presiden yang berpengaruh dalam sejarah AS. Ia mengambil keputusan tegas menurunkan pasukan federal ke Little Rock untuk menegakkan keputusan Mahkamah Agung AS, yang kemudian menandai langkah-langkah menuju diberantasnya diskiriminasi di Amerika Serikat.

Jika SBY ingin menjadi tokoh berpengaruh dalam sejarah Indonesia, setidaknya dia juga bisa mulai tegas menegakkan keputusan Mahkamah Agung.

Foto diambil oleh Will Counts.

Politik - December 20th, 2011

Kim Jong-Il Meninggalkan Dunia Dengan Keanehannya

Selesai menulis judul di atas saya berhenti sebentar.

Jika tulisan ini dilanjutkan, maka kesempatan saya memperoleh visa Korea Utara akan pupus sudah. Akan tetapi almarhum Kim Jong-Il adalah diktator yang sukses menciptakan kultus individu dalam kadar sangat lebay. Tentu dengan bantuan represi sistematis oleh sipil dan militer yang membuat pemerintahan Soeharto terlihat humanis.

Seperti misalnya bagaimana TV Nasional Korut memberitakan kematian sang Pemimpin Tercinta:

“Pemimpin berusia 69 tahun itu meninggal karena kelelahan fisik dan mental setelah bekerja terlalu keras untuk memberi ‘bimbingan di lapangan’”

Bagi rakyat Korut yang telah dicuci otak, Kim Jong-Il bukan sekedar pemimpin besar, tapi dewa. Bahkan Tuhan. Dalam biografi resminya, kelahiran Kim Jong Il diramalkan oleh burung layang-layang. Dan pada hari kelahirannya, dua pelangi terbit dari puncak pegunungan dan sebuah bintang lahir dari surga.

Kim Jong-Il menduduki pangkat tertinggi pemerintahan Korea Utara pada tahun 1994, saat sang ayah, Kim Il-Sung mangkat. Jong-Il mengambil gelar Pemimpin Tercinta, dan sang ayah tetap memegang gelar Pemimpin Agung serta ditetapkan menjadi presiden abadi Korea Utara. Pada setiap peringatan ulang tahun Kim Il-Sung, penduduk diharapkan (baca: diwajibkan) menyetor uang sumbangan.

Klaim-klaim fantastis selalu mengelilingi sang Pemimpin Tercinta ini. Ada keyakinan di masyarakat Korut bahwa Kim Jong-Il bisa mengendalikan cuaca dengan moodnya. Kemampuan seninya juga dikabarkan luar biasa hebat: Jong-Il mengklaim telah menggubah enam opera hanya dalam dua tahun. Genius? Kabarnya di usia 3 bulan, dia sudah bisa berjalan; dan di usia 8 bulan sudah bisa berbicara.

Gaya fashionnya juga diklaim telah menjadi tren global dan digandrungi orang-orang sedunia.

Tahun 1978, Kim Jong-il yang maniak film, pernah menculik sineas Korea Shin Sang-ok dan istrinya, Choe Eun-hui. Setelah memamerkan 15.000 film koleksinya, Jong-Il meminta sang sutradara untuk membuat film yang “bagus”. Shin Sang-ok menghabiskan 2 tahun membuat 20 film propaganda atas arahan Jong-Il. Ia dua kali mencoba meloloskan diri, gagal, dan dihukum penjara selama 5 tahun. Pasangan itu akhirnya meloloskan diri tahun 1986 di Wina.

Si Pemimpin Tercinta itu juga memiliki keahlian berinovasi dengan teknologi. Untuk memenangkan Piala Dunia, Kim Jong-il mengaku telah merancang sebuah hanphone ajaib yang tidak terlihat mata. Handphone itu dipakai untuk mengarahkan timnas Korea Utara.

Namun akhirnya Korut kalah memalukan 7-0 dengan Portugal pada Piala Dunia di Afsel 2010. Sepulangnya dari Johannesburg, Timnas Korut dipajang pada sebuah panggung di alun-alun Pyongyang untuk dimaki-maki di depan umum selama 6 jam. Setelah itu, timnas Korut harus balik menyalahkan sang pelatih karena telah mengkhianati putera Kim Jong-Il. Si pelatih akhirnya dipecat dari partai, dan dihukum menjadi buruh bangunan.

Akan tetapi pengamat politik Korea Utara menilai hukuman itu termasuk ringan. Di masa lalu, atlit dan pelatih Korut yang kalah akan dikirim ke penjara.

Mungkin, Kim Jong-Il menuntut lebih, karena dia sendiri adalah atlit yang luar biasa. Pada saat main golf untuk pertama kalinya tahun 1994, ia langsung 11 kali hole-in-one. Setelah itu ia memutuskan untuk pensiun dari golf.

Simpati dan prihatin saya untuk rakyat Korea Utara.

Mereka tidak cuma ditindas oleh pemerintahnya sendiri tapi juga harus menelan dan meyakini kebohongan semacam ini. Dalam kelaparan mereka harus memuja-muji sang diktator, sementara Kim Jong-Il menikmati bergelas-gelas sampanye Hennesy senilai 7 miliar. Mudah-mudahan angin perubahan segara datang, apalagi setelah remaja Korea Utara (yang telah terpapar drama Korea) mulai menyadari bahwa di luar sana kondisinya lebih baik.

Politik - December 15th, 2011

Korban-Korban Mesuji

Pembantaian di Mesuji Lampung Tengah

“Di Kalimantan demi perluasan lahan kelapa sawit orang utan dibantai karena dianggap hama. Di Sumatera manusia dibantai karena dianggap hama,” kata Amir Fauzi melalui Twitter.

Saya tuliskan sebagian dari nama dan kisah mereka yang tewas pada konflik di Mesuji, Sumatera Selatan dan Lampung:

Kakak dari Wayan Sukadana ditembak, pelurunya menembus dari bokong ke lambung. Ia akhirnya meninggal dalam tahanan. Kejadian ini terjadi  bentrokan yang terjadi di Mesuji, Lampung pada April 2011 —Republika

Indra Syafei dan Syaktu Macan meninggal dibacok karyawan perusahaan kelapa sawit PT SWA. Korban dibunuh di sekitar perkebunan kelapa sawit saat hendak kembali ke desanya. 21 April 2011. Keesokan harinya, warga balas mendatangi PT SWA, dan membunuh lima karyawan PT SWA.—MetroTV

Jaelani, 45 tahun, ditembak polisi 10 Nov 2011 di Mesuji, Lampung. Peluru tajam bersarang di kepalanya. Dalam perjalanan ke RS, Jaelani meninggal.—Republika

Made Asta, 38 tahun, warga Pelita Jaya, saat menerjang aparat dan disambut dengan tembakan yang mengenai selengkangan hingga tembus perut. Korban tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.—Tempo

Saya menuliskan ini, supaya tidak terlupakan, supaya tidak sekedar menjadi angka, dan supaya kita berusaha agar tidak membiarkan ini terulang lagi. Apapun itu sumber konfliknya, one death is too many.

Indonesiana - December 15th, 2011

Tendangan Satpam Untuk Suster Ngesot

Lihatlah video heroik satpam yang menendang suster ngesot ini. Tenang, ini bukan suster ngesot beneran, melainkan Mega, gadis 20 tahun yang berdandan seperti hantu untuk memberi kejutan ultah temannya. Sang teman memang terkejut. Demikian juga pak satpam Sunarya yang kemudian secara sigap menendang suster ngesot palsu itu.

Saya mengira kasus sekonyol ini akan berakhir damai. Ternyata tidak. Ayah Mega, Mahfud Djabir akan tempuh jalur hukum untuk pidanakan Sunarya.

Walaupun ini adalah perselisihan antara otoritas (Satpam Sunarya) dan perempuan lemah (Mega), susah bagi saya untuk bersimpati kepada Mega. Sunarya menendang Mega karena refleks ada ancaman. Pada malam itu, Mega bukan gadis berpakaian biasa, ia berpakaian suster ngesot dan ngesot di lantai. Mengingat kebanyakan orang Indonesia masih percaya takhayul, refleks Sunarya menendang Mega adalah keberanian, bukan penindasan.

Akan tetapi yang membuat saya paling kecewa adalah ketika membaca tulisan Mega di blognya:

“Saya baru satu kali melakukan hal tersebut dan saya melakukan itu karena sebuah settingan saya dan teman–teman saya.”

“Mengapa satpam tidak datang kepada saya sampai saat ini, salah atau tidak bersalah pun sudah seharusnya Satpam itu datang kepada saya. Hanya sekedar berbicara tidak ada salahnya kan?”

“MORAL DUTY REQUIRES ME TO CALL THE ATTENTION OF PUBLIC. Mengapa? Karena etika dan moral itu mencerminkan bangsa yang baik. Jangan sampai dengan kejadian seperti ini mencoreng hal tersebut. Pertanggung jawaban itu penting, dan kepatuhan hukum ialah salah satu syarat utama.”

Bagaimana mungkin seorang remaja berusia 20 tahun, yang semestinya pikirannya membawa kebaruan dan anti-feodal, justru mempidanakan satpam Sunarya dan menuntut untuk dikunjungi di rumah sakit, setelah semua kekacauan yang ia ciptakan sendiri?

Belakangan saya baca di berita kalau ayah Mega, ternyata sesepuh Pemuda Pancasila, sebuah ormas yang identik dengan preman.

Lihat juga:

Fallacy - December 8th, 2011

“Mohon Hargai Hak Perokok”

Merokok di tempat umum menganggu

Sebetulnya, mereka yang anti asap rokok hanya menginginkan hak untuk bernafas tanpa terganggu asap rokok. Akan tetapi, pro asap tentu punya sanggahan, walaupun sebetulnya agak-agak ngawur, alias fallacious:

“Mohon hargai juga hak kami untuk merokok!” 

Kalau kita baca sekilas pasti terasa ada yang salah dalam pernyataan di atas. Memang, masalah merokok bukan cuma hak pribadi, tapi juga hak orang lain untuk sehat. Perokok tetap berhak merokok, selama tidak menganggu orang lain. Jawaban untuk sanggahan seperti ini sebetulnya sederhana:

“Hak untuk merokok dapat dilakukan di rumah masing-masing, atau di outdoor.”

Pernyataaan seperti itu masih tetap bisa didebat lagi oleh seorang pro asap. Misalnya:

“Demikian juga yang ingin bernafas tanpa asap rokok, dapat di rumah atau outdoor!”

Argumen di atas juga sesat, karena ini sekali lagi bukan hak merokok, tapi hak untuk sehat. Menyanggahnya gampang:

“Apakah kesehatan perokok terganggu jika bernafas dengan udara yang bersih asap rokok?”

***

Sesaat, perdebatan di atas nampak sudah selesai. Namun sebetulnya masih bisa didebatkan, diperluas, dibolak-balik lagi. Misalnya, seorang pro asap mungkin akan menyanggah seperti ini.:

“Kalau begitu, bis kota juga harus dilarang karena mengeluarkan asap.”

Kalau sudah begini, maka perdebatan sudah melebar. Mungkin sengaja dibuat lebar, mungkin tidak sengaja. Namun akibatnya diskusi jadi tidak fokus dan tidak ketemu titik solusinya. Ada banyak sanggahan, misalnya bahwa pemerintah juga sudah mulai mengatur kendaraan bermotor yang asapnya mengganggu, dan banyak lagi.

Akan tetapi untuk argumen yang konyol, sayang rasanya kalau tidak dipakai buat main-main sedikit:

“Apakah Bung juga mau lari-lari di jalan sambil dinaiki 30 orang,” kata anti asap rokok.

“Lho Anda jangan memperluas isunya dong!”

“Kan Anda dulu yang memperluas, saya jadi terbawa Anda”

Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Padahal masalah ini sebetulnya gampang, perokok boleh merokok di mana saja asal semua asapnya dihisap sendiri.