<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hermansaksono &#187; diary</title>
	<atom:link href="http://hermansaksono.com/tag/diary/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hermansaksono.com</link>
	<description>Patternless thoughts, pointless wisdom</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 02:06:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Facial Tengkleng</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/04/facial-tengkleng.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/04/facial-tengkleng.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 01:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/04/facial-tengkleng.html</guid>
		<description><![CDATA[Hari kemarin, Ibu saya bertandang ke Solo dan pulang membawa tengkleng. Seperti wong Solo selalu bilang, makanan Sala enak-enak, termasuk diantaranya: tengkleng. Suapan pertama terasa enak. Bumbunya enteng dan santannya ringan. Dagingnya empuk penuh rasa, tapi tetap liat dan tidak sepo. Cocok banget dimakan pake nasi pulen. Di sudut mangkok ada bulat-bulat, ah mungkin ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img213.imageshack.us/img213/7527/tengklengrq3.jpg" alt="Tengkleng Kambing" class="center" /><br />Hari kemarin, Ibu saya bertandang ke Solo dan pulang membawa tengkleng. Seperti wong Solo selalu bilang, makanan Sala enak-enak, termasuk diantaranya: tengkleng.</p>
<p>Suapan pertama terasa enak. Bumbunya enteng dan santannya ringan. Dagingnya empuk penuh rasa, tapi tetap liat dan tidak sepo. Cocok banget dimakan pake nasi pulen. Di sudut mangkok ada bulat-bulat, ah mungkin ini <abbr title="testikel">torpedo</abbr> kambing. Saya coba ulik daging itu&#8230;</p>
<p>Dan ternyata itu adalah <span style="font-weight: bold;">bola mata kambing</span>!</p>
<p>OMG. Dan setelah tengkleng itu diaduk-aduk lagi, ternyata yang saya makan adalah rahang kambing beserta gigi-giginya (yang semestinya tidak pernah gosok gigi).</p>
<p>Bener, saya tidak masalah memakan organ. Tapi makan wajah kambing? Ewwww. <a href="http://tikabanget.com/2008/04/25/kartu-anti-mutung-ituh/">Priceless</a>?</p>
<div class="seealso">Gambar pinjam dari <a href="http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3265">postingan</a> di Wikimu. Tengkleng yang saya makan bukan tengkleng yang dibahas di Wikimu.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/04/facial-tengkleng.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ndoro vs Kambing Jantan</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/04/ndoro-vs-kambing-jantan.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/04/ndoro-vs-kambing-jantan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 01:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[photolog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/04/ndoro-vs-kambing-jantan.html</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari biasa di Blogger&#8217;s Day, Ritz Carlton&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari biasa di Blogger&#8217;s Day, Ritz Carlton&#8230;</p>
<p><a href="http://imageshack.us/"><img src="http://img208.imageshack.us/img208/925/ndorovskambinguv3.jpg" alt="Ndoro vs Kambing Jantan" border="0" /></a>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/04/ndoro-vs-kambing-jantan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seraphim Falls</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/04/seraphim-falls.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/04/seraphim-falls.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 03:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[movies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/04/seraphim-falls.html</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman yang datang dari jauh menyebabkan saya, Tika, dan Alvonsius menonton film di kala tidak ada film yang bagus. Pilihan pertama jatuh kepada filmnya Andy Lau yang desas-desusnya keceng banget: Three Kingdoms. Tapi, menurut Tika—yang udah nonton—Three Kingdoms itu jelek. Maka pilihan pindah ke Seraphim Falls, karena film satunya lagi—The Game Plan—tidak menarik sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imageshack.us/"><img src="http://img224.imageshack.us/img224/7623/seraphimfallsvb1.jpg" class="center" alt="Seraphim Falls" /></a><br />Seorang teman yang datang dari jauh menyebabkan saya, <a href="http://tikabanget.com/">Tika</a>, dan <a href="http://alvonsius.blogsome.com/">Alvonsius</a> menonton film di kala tidak ada film yang bagus. Pilihan pertama jatuh kepada filmnya Andy Lau yang desas-desusnya keceng banget: Three Kingdoms.</p>
<p>Tapi, menurut Tika—yang udah nonton—Three Kingdoms itu jelek.</p>
<p>Maka pilihan pindah ke Seraphim Falls, karena film satunya lagi—The Game Plan—tidak menarik sama sekali.</p>
<p>Jam 21.00 kami duduk manis di Studio 5 menunggu Seraphim Falls diputar. Dan ternyata film itu jelek banget. Adegan kejar-kejaran over heroik yang episodik terus-menerus mengisi layar, untuk kemudian ditutup dengan <span style="font-style: italic;">ending</span>  kontemplatif ala indie. Padahal ritme awalnya Hollywood. Sungguh tidak nyambung.</p>
<p>Alangkah baiknya jika tidak disebut film cerita, karena lebih mendekati film dokumenter tentang &#8220;Survival Jika Ditembak dan Terdampar di Daerah Barat Yang Liar.&#8221; Saran saya, tonton saja ketika tidak ingin nonton film karena menontonya mengakibatkan efek traumatis yang serius.</p>
<p><center>•••</center><br />Esok harinya saya tanya ke Tika: &#8220;Emang Three Kingdoms jelek banget ya Tik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus kok. Lebih bagus dariapda Seraphim Falls,&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;Kemarin kamu bilang jelek!?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, soalnya aku males nonton Three Kingdoms lagi,&#8221; jawabnya sambil meringis.</p>
<p>Sejak saat itu saya memutuskan membenci Tika hingga hari Kamis.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/04/seraphim-falls.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berburu Tetikus</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/04/berburu-tetikus.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/04/berburu-tetikus.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 12:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/04/berburu-tetikus.html</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa mencari mouse bisa jadi perkara yang sedemikian complicated? Terlalu kecil—atau terlalu besar. Terlalu ecek-ecek—atau terlalu norak. Desain super-duper ergonomis—atau super-duper maksa. Jika bermerek, mahal!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2008/04/mouseku.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1265" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2008/04/mouseku.jpg" alt="Pilihan mouse" width="223" height="289" /></a></p>
<p>Kenapa mencari mouse bisa jadi perkara yang sedemikian <em>complicated</em>?</p>
<p>Berburu mouse dari satu toko ke toko lain hasilnya selalu: terlalu kecil—atau terlalu besar. Terlalu ecek-ecek—atau terlalu norak. Desain super-duper ergonomis—atau super-duper maksa. Jika bermerek, mahal.</p>
<p>Tapi merek <span style="font-style: italic;">jreng</span> tidak menjamin fungsionalnya bagus. Ketika akhirnya saya beli mouse besutan Microsoft (yang mahal tapi diskon 50%), sewaktu dipakai&#8230; ya tuhaaaaaannnn gerakannya gak akurat banget!</p>
<p>Apakah tidak ada yang menciptakan mouse biasa, ukuran sedang, desain normal, dan berfungsi dengan baik? </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/04/berburu-tetikus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memasak Steak Sapi</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/06/memasak-steak-sapi.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/06/memasak-steak-sapi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 04:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/06/memasak-steak-sapi.html</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu kemarin teman-teman kantor kumpul di rumah untuk bikin barbecue steak. Berhubung udah lama gak masak, saya rupanya agak grogi juga. Untung roast potato-nya mateng dan gravy-nya cukup coklat (berkat tips drg. Evy. biasanya kalau bikin gravy gak bisa coklat). Yang jadi masalah justru perdebatan antara kami perihal teknik memasak dagingnya. Dalam soal membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imageshack.us/"><img src="http://img117.imageshack.us/img117/7922/steakpartyyk6.jpg" alt="Image Hosted by ImageShack.us" class="center" border="0" /></a></p>
<p>Hari Sabtu kemarin teman-teman kantor kumpul di rumah untuk bikin <span style="font-style: italic;">barbecue steak</span>. Berhubung udah lama gak masak, saya rupanya agak grogi juga. Untung <span style="font-style: italic;">roast potato</span>-nya mateng dan <span style="font-style: italic;">gravy</span>-nya cukup coklat (berkat tips <a href="http://senyumsehat.wordpress.com/">drg. Evy</a>. biasanya kalau bikin gravy gak bisa coklat). Yang jadi masalah justru perdebatan antara kami perihal teknik memasak dagingnya. Dalam soal membuat steak, yang masalah bukan bumbunya tapi bagaimana memasaknya.</p>
<p><span class="fullpost"><a href="http://img183.imageshack.us/my.php?image=steakgk9.jpg" class="left"><img src="http://img514.imageshack.us/img514/6716/steaktnit7.jpg" alt="Ini potret steak yang kemarin!" border="0" /></a>Bagi kita orang Indonesia, yang namanya daging sapi itu ya harus direbus dulu sampai empuk, atau minimal dimasak sampai sangat matang. Daging sapi lokal yang keras memang mau tidak mau harus direbus. Akibatnya gaya kuliner Indonesia biasanya lebih mengeksplorasi bumbu-bumbunya yang <span style="font-style: italic;">spicy </span>itu. Steak sedikit berbeda karena pusat cita rasa justru pada daging, bukan pada bumbunya.</p>
<p>Untuk kasus steak, karena yang digunakan adalah daging impor yang empuk, merebus justru membuat <span style="font-style: italic;">juice</span> atau sari rasa sapi (yang enak) lenyap. Sementara, kalau digoreng atau dibakar terlalu lama, daging yang terdiri dari protein-protein akan menjadi keras sehingga yang tersisa hanyalah daging berserat. Jadi teknik memasaknya harus pas, panas api harus pas, dan timingnya harus dalam presisi detik. Daging sapi memang lebih menantang dibanding daging kambing karena lebih gampang berserat kalau dimasak kelamaan.</p>
<p>Nah ini ada beberapa catatan saya, setelah bikin steak sapi kemarin (semoga bisa terus diperbaikii):
<ol>
<li>Steak tidak direbus, kecuali bestik jawa.</li>
<li>Untuk menambah rasa, terutama orang kita yang suka spicy, daging boleh direndam (di-marinade) bumbu2 seperti merica, bawang, minyak zaitun dan daun rosemary. Tapi sebaiknya tidak diberi garam karena akan membuat daging menjadi keras.</li>
<li>Daging yang di-<span style="font-style: italic;">marinade</span> harus disimpan di tempat dingin dan tidak boleh terlalu lama; kalau kelamaan, sari daging akan mengalir keluar sehingga cita rasa sapi akan lenyap.</li>
<li>Dalam hal memasak daging sapi, timing adalah segalanya menurut saya; kalau terlalu cepet daging masih mentah, kalau kelamaan daging jadi hambar dan berserat. Kematangan yang ideal, menurut saya, bagian dalam daging ada cairan kemerahan sedikit. Ini bukan daging yang belum matang tapi sari rasa daging.</li>
<li>Menguji kematangan daging cukup dari keras tidaknya daging. Ini butuh pengalaman memasak yang saya sendiri belum terampil. Yang jelas jangan menyayat daging untuk mengecek kematangan karena akan membuat lubang dan membuat sari rasa daging mengalir keluar.</li>
<li>Memasak steak dengan digoreng lebih mudah daripada dibakar. Dengan digoreng, suhu dan panas bisa lebih merata. Dibakar jelas lebih enak karena daging sedikit terbakar sehingga menambah cita rasa, tetapi mengontrol suhu arang itu susah.</li>
<li>Mengunci sari rasa daging itu penting. Daging yang digoreng dengan mentega atau dibakar, kedua sisinya harus segera dimatangkan supaya sari-rasanya tidak bisa keluar.</li>
</ol>
<p>Nah <a href="http://tikabanget.blogspot.com/">mbak Tika</a> ini <span style="font-style: italic;">ngeyel</span> kalau daging steak harus direbus dulu. Lalu, kata dia, sebaiknya dilumuri nanas supaya lebih empuk. Kalau bikin semur dan rendang ya direbus dulu, kalau steak sepertinya tidak lazim ya? Lalu perlukah daging direndam nanas? Dari pengamatan dari beberapa situs <a href="http://www.ochef.com/724.htm">ini</a> dan <a href="http://en.allexperts.com/q/Cooking-Meat-750/tenderizing-beef-1.htm">itu</a>, ternyata nanas memang membantu melunakkan daging, tetapi hanya pada bagian luarnya saja. Nanas justru membuat daging menjadi hambar dan berserat.</p>
<p>Oiya hasilnya? Ada yang empuk, ada yang keras kematangan, ada yang mentah alot. Gak konsisten <label>:P</label>.</p>
<p><span style="font-size:85%;">NB: Yang jepret foto si Pindo.</span></span><a href="http://hermansaksono.com/2007/06/memasak-steak-sapi.html">Baca terusannya &raquo;</a>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/06/memasak-steak-sapi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Bersin Harus Memilih Tisu dan Kacu</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/04/ketika-bersin-harus-memilih-tisu-dan.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/04/ketika-bersin-harus-memilih-tisu-dan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2007 01:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/04/ketika-bersin-harus-memilih-tisu-dan-kacu.html</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini saya gampang bersin. Masalahnya agak ruwet, AC kantor tidak dingin sehingga harus pasang kipas angin. Kalau pakai kipas angin, saya jadi bersin-bersin tidak bisa kerja. Tetapi, kalau tidak pakai kipas, saya gerah sehingga tidak bisa kerja. Saya pilih opsi yang pertama. Masalahnya, bersin pasti diikuti dengan ingus. Supaya tidak belepotan, ingus harus dilap. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/RjFVdJcPwzI/AAAAAAAAASI/j6_FuVLFNrs/s1600-h/facialtissue.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/RjFVdJcPwzI/AAAAAAAAASI/j6_FuVLFNrs/s400/facialtissue.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057917815752737586" border="0" /></a><br />Akhir-akhir ini saya gampang bersin. Masalahnya agak ruwet, AC kantor tidak dingin sehingga harus pasang kipas angin. Kalau pakai kipas angin, saya jadi bersin-bersin tidak bisa kerja. Tetapi, kalau tidak pakai kipas, saya gerah sehingga tidak bisa kerja. Saya pilih opsi yang pertama.</p>
<p>Masalahnya, bersin pasti diikuti dengan ingus. Supaya tidak belepotan, ingus harus dilap. Tidak di meja atau di baju teman. Ini repotnya, saya harus memilih mengelap pakai kertas tisu atau bawa kacu.</p>
<p>Kacu (atau sapu tangan) lebih classy, tetapi setiap dicuci saya menambah buangan limbah cucian yang pada akhirnya mempolusi sungai dan air tanah. Sementara kalau saya pakai tisu, berarti saya membunuh pepohonan, merusak ekosistem, membinasakan paru-paru dunia, dan mempercepat laju global warming.</p>
<p>Akhirnya pilih tisu karena pohon lebih mudah diperbaharui.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/04/ketika-bersin-harus-memilih-tisu-dan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Para Sopir Taksi</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/03/kisah.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/03/kisah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2007 00:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/03/cerita-para-sopir-taksi.html</guid>
		<description><![CDATA[Kekurangan naik becak itu adalah jarak kepala penumpang dengan kepala abang becak yang terlalu jauh. Apalagi kedua kepala tadi disekat oleh kanopi, sehingga ngobrol dengan si abang itu sulit sekali. Bis sama saja. Pak sopir biasanya sibuk mencari cara menyisipkan bis segede gaban agar bisa menembus kerumuman kendaraan. Sementara keneknya lebih lebih concern pada proses [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5030628346557474322" class="left" src="http://bp2.blogger.com/_Rim-cL2259M/RdBh0-mRphI/AAAAAAAAAPM/C0nAWZ_BFks/s400/03taxi.png" border="0" alt="" />Kekurangan naik becak itu adalah jarak kepala penumpang dengan kepala abang becak yang terlalu jauh. Apalagi kedua kepala tadi disekat oleh kanopi, sehingga ngobrol dengan si abang itu sulit sekali. Bis sama saja. Pak sopir biasanya sibuk mencari cara menyisipkan bis segede gaban agar bisa menembus kerumuman kendaraan. Sementara keneknya lebih lebih <span style="font-style: italic;">concern</span> pada proses penarikan ongkos penumpang yang jauh dekat sama saja itu.</p>
<p>Nah, enaknya naik taksi itu kita bisa ngobrol dengan leluasa dengan pak sopir taksi, terutama kalau pak sopirnya ramah. Ada banyak hal menarik yang dapat kita ketahui dari mereka. Ada yang menawarkan jasa makelar tanah, ada pula yang <a href="http://hermansaksono.com/2005/02/my-sex-for-pay-scandal.html">menawari PSK</a>. Tetapi pada umumnya mereka bercerita tentang betapa beratnya beban seorang sopir taksi.<span id="more-298"></span></p>
<p>Di Jogja, <em>supply</em> taksi itu memang melebihi <span style="font-style: italic;">demand</span>. Ada 800 armada taksi, sementara permintaan transportasi taksi menurun sejak tarif taksi dinaikkan (yang dinaikkan karena harga BBM dinaikkan). Setoran taksi ke perusahaan taksi itu lumayan besar, Rp 150.000 per hari. Padahal, katanya, sehari bisa dapat Rp 100.000 itu sudah banyak. Alhasil banyak supir taksi yang mengutang  setoran.</p>
<p>Cara mereka memandang masalah ini sangat beragam. Ada yang pasrah mengadapi cekikan setoran. Ada juga yang menyalahkan reformasi. Kata salah satu sopir, dulu pas jamannya Pak Harto jauh lebih enak: sopir taksi bisa menabung banyak. Sekarang sehari cuma bisa membawa pulang Rp 15.000 bersih. Mungkin Pak Sopir itu lupa kalau yang menyebabkan itu juga Pak Harto. :)</p>
<p>Ada juga yang lebih prihatin. Putranya tiga, sekolah semua, satu mahasiswa. Padahal uang dari narik taksi tidak seberapa untuk biaya hidup, apalagi untuk sekolah. Waktu saya tanya, bagaimana caranya nutup kebutuhan biaya sekolah, pak sopir itu menjawab</p>
<blockquote><p>&#8220;Ya <span style="text-decoration: underline;">harus bisa</span> mas. Dicariin caranya, biar anak saya besok pekerjaannya lebih baik.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ah hebatnya pak sopir ini, pendidikan memang kunci kemajuan bangsa bukan? Andai saja yang di pemerintahan sana semangatnya bisa sehebat itu.</p>
<p>Kemarin saya naik taksi lagi, si pak sopir yang ini juga bercerita tentang setoran yang tinggi dan rendahnya pendapatan taksi, katanya:</p>
<blockquote><p>&#8220;Berat mas. Kalau yang duniawi sudah tidak terkejar, tidak sanggup saya. Saya ngejar yang akherat saja.&#8221;</p></blockquote>
<p>Wah jadi malu saya. Kalau Anda, ngejar yang mana? ;) </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/03/kisah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teka teki laknat</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/02/teka-teki-laknat.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/02/teka-teki-laknat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Feb 2007 02:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/02/teka-teki-laknat.html</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca blog yang budiman dan budiwati, apakah anda sudah bermain tktq.net? Sudah sampai level berapa? :D Sebetulnya, saya itu menghindari segala jenis game, karena membikin ketagihan. Tapi gara-gara perempuan laknat ini, saya jadi ikut-ikutan. Lha gimana lagi, dia sampai tidak tidur gara-gara mencari clue game laknat ini. Wajar kan kalau saya jadi penasaran. Saya melihat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/Rd0G4umRpnI/AAAAAAAAAQU/pq6xCKX7XBw/s1600-h/tktq.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/Rd0G4umRpnI/AAAAAAAAAQU/pq6xCKX7XBw/s400/tktq.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5034187530121094770" border="0" /></a>Pembaca blog yang budiman dan budiwati, apakah anda sudah bermain <a href="http://tktq.net/">tktq.net</a>? Sudah sampai level berapa? <label>:D</label></p>
<p>Sebetulnya, saya itu menghindari segala jenis game, karena membikin ketagihan. Tapi gara-gara <a href="http://tikabanget.blogspot.com/">perempuan laknat ini</a>, saya jadi ikut-ikutan. Lha gimana lagi, dia sampai tidak tidur gara-gara mencari clue game laknat ini. Wajar kan kalau saya jadi penasaran.</p>
<p>Saya melihat. Saya mencoba. Saya ketagihan.</p>
<p>Saya terhenti di level 28 <label>:P</label>.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/02/teka-teki-laknat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Testimoni seorang geek tentang angin puting beliung</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/02/testimoni-seorang-geek-tentang-angin.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/02/testimoni-seorang-geek-tentang-angin.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Feb 2007 01:46:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reports]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/02/testimoni-seorang-geek-tentang-angin-puting-beliung.html</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, Toni dan Alvons teman saya (yang geek tulen) menyaksikan langsung angin puting beliung yang membuat daerah sekitar Baciro, Jogja, berantakan. Selangkapnya ada di laporan pandangan matanya Alvons. Masih seputar angin puting beliung, kebetulan saya kenal empat orang yang tinggal di daerah Baciro. Bu Lilik, guru matematika SMA saya, rumahnya berantakan. Beliau tinggal di seberang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/RdkOjumRplI/AAAAAAAAAP8/KygpFSIjPgM/s1600-h/putingbeliungcover.jpg"><img class="left" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/RdkOjumRplI/AAAAAAAAAP8/KygpFSIjPgM/s320/putingbeliungcover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5033070065530021458" border="0" /></a>Kemarin, Toni dan Alvons teman saya (yang <span style="font-style: italic;">geek</span> tulen) menyaksikan langsung angin puting beliung yang membuat daerah sekitar Baciro, Jogja, berantakan. Selangkapnya ada di <a href="http://alvonsius.blogsome.com/2007/02/18/dikejar-angin-puyuh-di-jogja/">laporan pandangan matanya Alvons</a>.<span id="more-290"></span></p>
<p>Masih seputar angin puting beliung, kebetulan saya kenal empat orang yang tinggal di daerah Baciro. Bu Lilik, guru matematika SMA saya, rumahnya berantakan. Beliau tinggal di seberang bioskop Mataram yang <span style="font-style: italic;">billboard</span>-nya rubuh diterpa angin liar kemarin itu. Alhamdullilah, keluarga beliau baik-baik saja.</p>
<p>Teman SMA saya yang tinggal di belakang bioskop Mataram lebih beruntung, karena rumahnya tidak apa-apa, walaupun angin sampai ke depan rumahnya.</p>
<p>Teman kantor saya rumahnya sedikit rusak, tidak parah. &#8220;Diperbaiki sedikit,&#8221; katanya. Hari ini dia masuk kantor agak terlambat karena harus membersihkan puing-puing yang berserakan.</p>
<p>Bude saya yang tinggal agak jauh dari bioskop Mataram rumahnya tidak apa-apa, tetapi teman-teman calon menantunya menginap di rumah beliau karena asrama Detasemen Zeni yang terletak di sebelah bioskop Mataram rusak.</p>
<p>Saya sendiri belum bisa melihat langsung kondisi daerah tersebut, karena tadi malam jalan masih di tutup polisi. Yang saya tahu, aktivitas masih berjalan normal di daerah-daerah yang tidak terkena angin puting beliung.
<div class="seealso">Foto adalah hak cipta Handri Arto, diambil dari detikcom</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/02/testimoni-seorang-geek-tentang-angin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Uang Pas Enggak?</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/02/ada-uang-pas-enggak.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/02/ada-uang-pas-enggak.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Feb 2007 17:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/02/ada-uang-pas-enggak.html</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam beli empat gelas rootbeer dan tiga kotak popcorn dengan adik saya. Habisnya 52 ribu, padahal duit tersisa di dompet pas 50 ribu. Kalau dikembaliin malu, karena sebagian popcorn dan rootbeer sudah dicicil (baca: dimakan). Akhirnya kocek dirogoh, dompet diricek, dan tas diubrek-ubrek, tapi hasilnya tetap nihil. Untunglah di sudut terdalam saku saya ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi malam beli empat gelas rootbeer dan tiga kotak popcorn dengan adik saya. Habisnya 52 ribu, padahal duit tersisa di dompet pas 50 ribu. Kalau dikembaliin malu, karena sebagian popcorn dan rootbeer sudah dicicil (baca: dimakan). Akhirnya kocek dirogoh, dompet diricek, dan tas diubrek-ubrek, tapi hasilnya tetap nihil. Untunglah di sudut terdalam saku saya ada uang 50 ribu <span style="font-style: italic;">nylempit</span>. Yes sip! Lantas saya mengulungkan dua lembar uang limapuluh ribuan ke mas penjaga cafetaria bioskop yang dari tadi telah menunggu. &#8220;Ini mas,&#8221; ujar saya.</p>
<p>&#8220;Nggak ada uang pas mas?&#8221; tanya mas penjaga.</p>
<p>Masnya ini nggak sensitif atau tanya semacam itu memang SOP ya?  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/02/ada-uang-pas-enggak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

