Kekurangan naik becak itu adalah jarak kepala penumpang dengan kepala abang becak yang terlalu jauh. Apalagi kedua kepala tadi disekat oleh kanopi, sehingga ngobrol dengan si abang itu sulit sekali. Bis sama saja. Pak sopir biasanya sibuk mencari cara menyisipkan bis segede gaban agar bisa menembus kerumuman kendaraan. Sementara keneknya lebih lebih concern pada proses penarikan ongkos penumpang yang jauh dekat sama saja itu.
Nah, enaknya naik taksi itu kita bisa ngobrol dengan leluasa dengan pak sopir taksi, terutama kalau pak sopirnya ramah. Ada banyak hal menarik yang dapat kita ketahui dari mereka. Ada yang menawarkan jasa makelar tanah, ada pula yang menawari PSK. Tetapi pada umumnya mereka bercerita tentang betapa beratnya beban seorang sopir taksi. Continue reading …
Pembaca blog yang budiman dan budiwati, apakah anda sudah bermain tktq.net? Sudah sampai level berapa?
Sebetulnya, saya itu menghindari segala jenis game, karena membikin ketagihan. Tapi gara-gara perempuan laknat ini, saya jadi ikut-ikutan. Lha gimana lagi, dia sampai tidak tidur gara-gara mencari clue game laknat ini. Wajar kan kalau saya jadi penasaran.
Kemarin, Toni dan Alvons teman saya (yang geek tulen) menyaksikan langsung angin puting beliung yang membuat daerah sekitar Baciro, Jogja, berantakan. Selangkapnya ada di laporan pandangan matanya Alvons. Continue reading …
Tadi malam beli empat gelas rootbeer dan tiga kotak popcorn dengan adik saya. Habisnya 52 ribu, padahal duit tersisa di dompet pas 50 ribu. Kalau dikembaliin malu, karena sebagian popcorn dan rootbeer sudah dicicil (baca: dimakan). Akhirnya kocek dirogoh, dompet diricek, dan tas diubrek-ubrek, tapi hasilnya tetap nihil. Untunglah di sudut terdalam saku saya ada uang 50 ribu nylempit. Yes sip! Lantas saya mengulungkan dua lembar uang limapuluh ribuan ke mas penjaga cafetaria bioskop yang dari tadi telah menunggu. “Ini mas,” ujar saya.
“Nggak ada uang pas mas?” tanya mas penjaga.
Masnya ini nggak sensitif atau tanya semacam itu memang SOP ya?
Dulu, waktu main ke Singapura, saya beli tiga kuntum bunga plastik yang besar buat ibu saya. Bentuknya bagus, kayak bunga betulan, warnanya merah. Repotnya, sepanjang Orchard Road saya terpaksa menenteng tiga bunga feminim yang panjangnya 70 senti itu. Memang bikin penat, tapi minimal tidak serasa orang sinting, karena tidak ada tatapan aneh ataupun lirikan menghakimi dari para singapurawan maupun singapurawati. Tidak seperti kalau di tempat kelahiran saya. Lagipula, udara Singapura segar dan trotoarnya luas bersih. Nyaman sekali buat pejalan kaki yang menenteng 3 bunga merah besar seperti saya.
Sepulangnya di bandara Semarang, lagi-lagi saya harus menenteng tiga bunga yang mencolok mata tadi, walaupun kali ini lebih repot karena bawaan saya ditambah sebuah koper yang berat. Suasananya juga beda, airport Ahmad Yani tentu saja bertolak belakang dengan Changi. Sudut-sudut yang kumuh disesaki wajah prihatin—plus bau-bau anehnya—rupanya mengingatkan halus kalau saya sudah kembali ke dunia nyata.
Dalam perjalanan menuju parkiran, ada tiga orang bapak sopir taksi yang sedang bersandar di pagar. Dengan gerakan tiba-tiba, salah satu bapak itu dengan lancang menyentuh bunga plastik saya. Lho apa ini, pikir saya. Kemudian dia tersenyum, bersandar ke pagar dan bilang ke teman-temannya, “Tenan to! Mung kembang apus-apusan kok.” Artinya, “Benar kan! Cuma bunga palsu kok.”
Oalah, bapak ini cuma mau memastikan itu bunga palsu, bukan bunga betulan.
Entah kenapa, tapi saya malah senang bapak tadi tidak enggan memastikan bunga itu bukan betulan. Mungkin, si bapak merasa kalau saya dan dia itu cuma saudara jauh. Kalau saudara buat apa enggan?
Dalam hati saya tersenyum simpul dan berpikir, “I am home ”
1 Januari 2007 lalu saya menerima hadiah istimewa dari mas Arief Budiman. Pada awalnya, saya merasa tidak pantas untuk menjawabnya dengan posting balasan di blog, karena seperti orang Jawa yang wajar, hadiah atau prestasi bukanlah sesuatu yang sopan untuk dikoar-koarkan.
Tetapi penghargaan ini sangat istimewa, karena diberikan secara pribadi oleh seseorang yang menghargai kreativitas dan kerja keras. Seseorang yang agency iklannya saya kagumi karena sangat kreatif dan berani. Jauh lebih tidak sopan jika saya tidak mengucapkan sebuah terima kasih dalam blog ini.
Untuk itu, saya matur nuwun atas award sebagai blogger yang paling inspiratif tahun 2006. Dan kalau saya boleh jujur, saya jadi sangat terbebani, karena artinya saya harus terus menulis dengan standar seperti itu. Tidak boleh lebih rendah. Moga-moga saya tidak bernasib seperti Bryan Singer.
Akan tetapi saya ingat Mas Arief pernah bilang: kalau kita tidak pernah menyiksa diri dengan melalui beban-beban yang berat, kita cuma jadi nothing. Saya jadi ingat lagi kalau obstacle is a good thing.
Walaupun saya mendapat award paling inspiratif, tapi sejujurnya, saya telah terinspirasi oleh mas Arief :)
I regard that mind is meant to be free and moving mind to mass is a destiny. I can be geeky when it comes to movies, art and culinary, but really, I am simply a man with an irregularity, or many. Continue » Makalah seminar bisa diunduh di sini