hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘diary’

Life - January 23rd, 2006

Disleksia

Harry Potter and the Half Blood Prince

Tadi malam pas lagi baca Harry Potter 6, kok saya merasakan ada kelainan pada diri saya: saya kesulitan memahami tulisan di buku tersebut. Paragraf-paragraf itu sepertinya… tidak ada artinya. Tiba-tiba suster tersebut mengajak saya untuk masuk ruangan. Perawat itu melayani saya layaknya seorang pasien yang akan operasi, Baju saya dibuka dan rambut kaki saya dicukur habis…. kok jadi kayak sHa gini ya :P

Tapi ini beneran lho, kemarin saya mengalami kesulitan memahami blok-blok tulisan di buku itu. Jangan jangan:

a. Saya ternyata pengidap disleksia
b. Mbak Listiana Srisanti nerjemahinnya memang bikin pusing
c. Saya kebanyakan baca blog

Semoga bukan yang disleksia :(

Uncategorized - December 30th, 2005

Beberapa catatan selama di Jakarta

Busway
Walaupun seharusnya dipanggil dengan nama bis Transjakarta, banyak orang lebih memilih menyebutnya sebagai Busway, yang sejujurnya membuat saya sedikit risih :P . Tapi terlepas dari itu, setelah dua tahun beroperasi ternyata AC bus Transjakarta masih sangat dingin, hingga membuat saya bersin-bersin. Sepertinya, Busway…. errr… Transjakarta… tidak sejelek yang dibilang orang.

Pegawai Giordano
Pegawai perempuan Giordano di Pondok Indah Mall tidak semenarik pegawai Giordano Jogja. Tetapi pendekatan pegawai Giordano Jakarta lebih liar dan impulsif dibanding Jogja. Ketika masuk ke dalam gerai Giordano, pegawai Giordano langsung menguntiti saya seperti singa menguntit seekor antelop yang malang.

Polisi
Polisi lalu lintas Jakarta pada umumnya gemuk-gemuk dan pakaiannya tidak serapi polisi Jogja. Muncul kesan kalau polisi Jakarta itu lebih slebor, tidak memperhatikan kesehatan, dan jarang olahraga.

Uncategorized - December 25th, 2005

Sabbatical

Dalam beberapa hari yang akan datang, saya akan ke Jakarta bersama keluarga. Mohon maaf kalau tidak ada hal baru disini selama saya pergi :)

Herman

Uncategorized - November 1st, 2005

Petualangan Pasar Tiban Kauman

Kauman adalah salah satu daerah di downtown Jogja, tepatnya di sebelah barat Kraton Sultan. Tempat yang dikenal sebagai kampungnya kaum santri ini memiliki sejarah yang panjang. Gerakan Muhammadiyah misalnya, didirikan di tempat ini pada tahun 1912. Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan juga tumbuh dan berkembang di daerah ini.

Setiap bulan puasa, warga daerah Kauman mengadakan pasar tiban yang menjual berbagai makanan untuk berbuka puasa. Disini, sebuah gang kecil sederhana disulap menjadi sebuah surga makanan yang panjang.

Setelah rencana kesana tertunda berkali-kali, akhirnya hari Sabtu kemarin saya dan rekan-rekan saya dapat mengunjungi tempat ini. Tapi perjalanan kesana bukannya tanpa perjuangan, pengorbanan dan tunggu menunggu.

Tunggu menunggu

Pertama, Tika harus menunggu saya dan Chori mengantri tukang cukur karena hari Sabtu adalah kesempatan terkahir untuk potong rambut sebelum lebaran. Setelah itu Antok harus menunggu Chori yang ada urusan ke rumah temannya. Setelah Chori sampai, kami harus menunggu Tika bersiap (yang selalu lama). Sesampainya di Kauman kami harus menunggu Chori sholat Ashar. Menunggu Chori sholat-pun ternyata cukup lama, karena masjid terdekat adalah Masjid Agung yang sebenernya cukup jauh. 30 Menit kemudian kami baru bisa masuk ke gang tersebut.

Di Kauman

Makanan yang ditawarkan disitu, walupun tidak semuanya fantastis, tapi memang membuat bingung karena pilihan yang ditawarkan ternyata banyak sekali. Ada kue-kue, iso goreng, sambel goreng jengkol, sambel goreng teri, tengkleng, buntil dll. Semuanya nampak lezat dan menggiurkan, terutama karena kami kelaparan puasa.

Akhirnya saya membeli martabak manis rasa kacang coklat (itupun harus melalui berbagai perseteruan karena teman-teman saya yang lain kepingin rasa keju). Untuk lauk saya memilih sate usus (yang enak sekali), pepes tongkol dan buntil. Teman saya, Antok memilih wader goreng sementara Chori yang sedikit konservatif memilih sate ayam (yang setelah dimakan rasanya agak basi).

Miskomunikasi

Tapi miskomunikasi kembali terjadi tatkala kami berusaha menentukan lokasi berbuka puasa. Kubu Antok-Tika mengira kami akan makan di depan Benteng Vredeburg, sementara kubu Herman-Chori mengira akan makan di Soceitet. Untungnya miskomunikasi dapat diatasi.

Akhirnya kami berbuka puasa di depan Gedung Agung. Disana Chori kembali kecewa, selain karena satenya rasanya sudah tidak wajar, di tempat kami makan ternyata juga ada yang jualan sate :P

Akhirnya makan selesai. Rencana semula kita mau langsung ke Malioboro Mall dengan dua agenda: 1) Menukarkan baju kerja Atika di outlet The Executive 2) Ngecengi SPG The Executive yang cool dan smart. Tapi ternyata baju yang akan ditukarkan oleh Atika ketinggalan. Otomatis kami terpaksa bergegas kembali ke Gamatechno untuk mengambil baju yang akan ditukarkan.

Di tengah perjalanan, saya sadar kalau helm saya ketinggalan di tempat kami makan! Dengan kata lain selama perjalanan ke Gamatechno saya tidak pakai helm. Untung tidak ada polisi! Coba kalau ditilang polisi… bisa jadi ini menjadi malam minggu yang mahal (Potong Rambut 15rb, Kauman 15rb, ditilang 50rb, helm baru 50rb). Siyal, padahal itu helm baru, helm saya sebelumnya ketinggalan di taksi.

Helm saya akhirnya memang tidak selamat. Dan percayalah, masih ada banyak kejadian menyebalkan setelah itu, yang sepertinya tidak begitu pantas diceritakan.

Life - October 27th, 2005

Menyinggung Maya

Beberapa minggu terakhir saya dipermalukan berkali-kali oleh…saya sendiri… gara-gara nama rekan kantor baru saya Maya, sama persis dengan banyak hal di dunia ini.

Kejadian #1
Ketika Alias, perusahaan software aplikasi 3D ternama dibeli oleh Autodesk, saya langsung berteriak ke rekan kantor saya Thomas:

Mas! Maya dibeli sama Autodesk!

Maya yang duduknya disebelah Thomas langsung nengok kaget.

Oh bukan Maya kamu, Maya… aplikasi 3D…

Kejadian #2
Lagu favorit teman-teman di ruangan adalah Dragoste Din Tei yang populer karena Numa-Numa Dance. Beberapa hari yang lalu, rekan kantor saya, Andi, memutar lagu tersebut. Kebetulan liriknya seperti ini:

Ma-i-a Hi, Ma-i-a Hu
Ma-i-a Ho, Ma-i-a Ha-Ha

Kebetulan saya ikut menyanyikan lagu tersebut. Dan kebetulan Maya teman kantor saya dengar… dan nengok.
Duh…errrrr…aku nyanyi Dragoste Din Tei lho. Bukan manggil kamu… :D

Kejadian #3
Saya menggunakan jingle Indonesian Idol untuk ringtone HP saya. Nah, saya dan rekan kantor saya, Andi dan Thomas, punya kebiasaan ketika ringtone ini bunyi, salah satu dari kami meneriakkan:

Dan Indonesia memilih!

Lalu salah satu dari kita, biasanya secara spontan bergiliran meneriakkan: “Mike!” atau “Firman” atau finalis Indonesian Idol yang lain. Nah pada hari itu, HP saya bunyi lagi mengeluarkan jingle Indonesian Idol, dan secara spontan saya meneriakkan:

Maya!

Otomatis Maya sang teman kantor langsung menoleh kaget. Haloo Maya :D

Kejadian #4
Kemarin saya browsing di Friendster, dan menemukan teman lama di SMA yang baru saja terdaftar di Friendster. Saking excited-nya saya pun langsung berteriak:

Eh, Maya!

Maya staf baru Gamatecho-pun menoleh. Duh… maaf… maksudnya Maya teman saya di Friendster :D

Kejadian #5
Waktu itu Andi saya lagi muter lagunya Ratu yang baru pasca keluarnya Pinkan Mambo. Nah spontan saya langsung tanya ke Andi:

Ini lagunya yang nyanyi Maya ya?

Ups… Maya pun nengok..

Maksudku, lagunya yang nyanyi Mulan…? :D

Duh..

Life - October 26th, 2005

Diselamatkan Google Desktop

Google Desktop sang penyelamat
Pagi tadi saya juengkel setengah mati. Lha gimana tidak, file html dan css desain web yang saya buat semalaman untuk teman saya, lenyap tanpa bekas. Dugaan saya sih, kemarin malam komputer saya mati mendadak dan kebetulan file html dan css tersebut masih terbuka di dreamweaver. Jadi ketika komputernya mati, kedua file tsb hilang begitu saja. Siyal, keja sampe jam 1 malam sia-sia.

Padahal, desain tsb harus diserahkan pagi ini…

Tapi untung saya sempat ingat kalau Google Desktop membuat salinan file-file saya. Dan ternyata benar, setelah searching sebentar, index.html masih ada salinannya di database Google. Yang bikin susah… file CSS yang bikinnya lama banget, ternyata tidak terselamatkan. Yah, setidaknya file html-nya masih utuh, jadi teman saya bisa kerja duluan.

Mungkin inilah indahnya filosofi xHTML 1.0 strict: Data dan Presentation (HTML dan CSS) terpisah mutlak, sehingga developer bisa bekerja paralel.