<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hermansaksono &#187; fiction</title>
	<atom:link href="http://hermansaksono.com/tag/fiction/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hermansaksono.com</link>
	<description>Patternless thoughts, pointless wisdom</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 13:51:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Kasus Serangan di Perkampungan Atlit PON</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/04/kasus-serangan-di-perkampungan-atlit.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/04/kasus-serangan-di-perkampungan-atlit.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 16:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misc]]></category>
		<category><![CDATA[fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/04/kasus-serangan-di-perkampungan-atlit-pon.html</guid>
		<description><![CDATA[Budiman berdiri diantara tiupan angin malam yang tak menganggunya. Jangankan angin, riuh sorak para atlit yang merayakan kemenangan mereka, tidak mengusik pikirannya. Sambil menatap langit remang-remang, hatinya tersenyum memikirkan kemenangan esok hari yang pasti ia raih—'pasti Sumilir akan sangat gembira melihatku pulang ke kampung membawa medali emas...']]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Budiman berdiri diantara tiupan angin malam yang tak menganggunya. Jangankan angin, riuh sorak para atlit yang merayakan kemenangan mereka, tidak mengusik pikirannya. Sambil menatap langit remang-remang, hatinya tersenyum memikirkan kemenangan esok hari yang pasti  ia raih—&#8217;pasti Sumilir akan sangat gembira melihatku pulang ke kampung membawa medali emas&#8230;&#8217;</p>
<p>Ki Sencaka menelusuri malam yang lebih kelam di hutan itu. Buraian hentakan gaduh dari tempat para manusia bercokol sungguh mengusiknya. Dengan gerakan anggun, Ia terobos dedaunan dan ranting kering sambil terus menelisik sumber keributan tadi. Karena ia tak pernah ingat dimana manusia selalu tinggal.</p>
<p>Budiman masih dapat melihat paras Sumilir yang ayu di benaknya, dan juga kemenangan yang pasti ia raih besok. Sedikit jumawa, tapi tak apa. Tidak salah dia dijagokan menang, latihannya yang sudah dimulai sejak lama pantas jika berbuah kemenangan.</p>
<p>Ki Sencaka menyentuh ujung hutan dan waspada sejenak, melihat sekeliling. Sebuah tiang, atau pipa, yang berdiri tegak di dekat rumah manusia menarik perhatiannya. Maka ia tempuh pelataran tak berumput itu, melewati belakang sesosok manusia, lalu naik, dan masuk ke tiang pipa itu.</p>
<p>Budiman tidak sadar kalau jam sudah menyentuh pukul 21. Waktunya tidur. Ia kemas wajah Sumilir ke dalam hatinya sambil tak lupa menahan gembira kemenangan untuk dirayakan besok siang. Ia masuk ke dalam rumah atlit.</p>
<p>Ki Sencaka bergeliat, berenang-renang, dalam kubangan air yang gelap. Tidak ada cahaya, kecuali sebentuk lingkaran yang memendarkan cahaya kuning dari atas. Dengan sebuah hentakan halus Ki Sencaka mengarungi kubangan hingga dapat mencapai sumber cahaya itu.</p>
<p>Budiman mencuci mukanya lalu menggosok gigi. Kemudian ia duduk di toilet karena tadi siang makan banyak.</p>
<p>Ki Sencaka terkejut ketika ada sesuatu yang menyerangnya dari liang sumber cahaya itu. Benda itu menjatuhkan benda padat yang bau, berkali-kali. Karena terusik, maka diseranglah benda itu.</p>
<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2008/04/atlit.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-1240" title="atlit" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2008/04/atlit.gif" alt="" width="280" height="441" /></a></p>
<div style="border: 1px solid #cccccc; margin: 0pt auto; padding: 1em; width: 220px; font-family: Times New Roman;"><span style="font-weight: bold; line-height: 1em; font-size: 2em;">Atlit PON Diserang Duburnja</span></p>
<p><small style="text-transform: uppercase;">Medan, MEDAN POS.</small> Budiman (24), atlet kontingen Djawa Tengah, dipastikan tidak dapat mengikuti pertandingan tjabang lari djarak pendek karena digigit ular pada anusnja. Menurut Rohar Simuntung, atlit dari Palembang, dia mendengar djeritan keras dari kamar mandi Budiman. Ketika ditjek, ternjata Budiman sudah tergelimpang di lantai dengan dubur berlimang darah.</p>
<p>Menurut panitia, ular masuk ke toilet dari pipa ventilasi<span style="font-style: italic;"> </span>di  djamban perkampungan atlit PON Medan. Hingga saat ini panitia belum menemukan ular jang menjerang atlit tersebut. (hmm)</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/04/kasus-serangan-di-perkampungan-atlit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Penunggu Baru Sumur Tua, bagian 2</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/02/kisah-penunggu-baru-sumur-tua-bagian-2.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/02/kisah-penunggu-baru-sumur-tua-bagian-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 13:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misc]]></category>
		<category><![CDATA[fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/02/kisah-penunggu-baru-sumur-tua-bagian-2.html</guid>
		<description><![CDATA[« Baca bagian satu. Di Minggu pagi yang tenang itu, hamparan ilalang harus terusik oleh langkah kaki seorang wanita yang berjalan menuju sebuah sumur. Apa yang ditunggu Anita sudah ada di sana: sebuah amplop kotor yang duduk rapih di dekat sumur. Baunya tanah. Amplop itu ia raih. Ada secarik kertas putih di dalamnya. &#8220;UANG DAN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>« Baca <a href="http://hermansaksono.com/2008/02/kisah-penunggu-baru-sumur-tua.html">bagian satu</a>.<br />
<img class="aligncenter size-full wp-image-548" title="womansumurpintu" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2008/06/womansumurpintu.jpg" alt="" width="200" height="290" /><br />
Di Minggu pagi yang tenang itu, hamparan ilalang harus terusik oleh langkah kaki seorang wanita yang berjalan menuju sebuah sumur. Apa yang ditunggu Anita sudah ada di sana: sebuah amplop kotor yang duduk rapih di dekat sumur. Baunya tanah.</p>
<p>Amplop itu ia raih. Ada secarik kertas putih di dalamnya.</p>
<div style="text-align: center;">&#8220;UANG DAN HARTA?<br />
INIKAH YANG MEMBUAT KALIAN TERCERAI BERAI?<br />
ADA-ADA SAJA.</p>
<p>OMONG-OMONG, MAKANAN ORANG BUMI SEPERTI APA?&#8221;</p>
</div>
<p>Membaca pesan itu, Anita seperti mau geli.</p>
<p>Dia memutuskan akan memasak tempe goreng, sayur lodeh, dan sambal terasi. Berarti dia harus segera mandi dan ke pasar sebelum tempe habis dibeli orang.<span id="more-445"></span></p>
<div style="text-align: center;">···</div>
<p>Maghrib sebentar lagi. Sayur lodeh ditaruh di rantang bawah, nasi di rantang tengah. Lalu di rantang paling atas, Anita menaruh lima buah tempe dan sambal, kemudian menutup rantang kuat-kuat. Bau harum santan dan bumbu-bumbuan berhambur dengan aroma hangat nasi pulen.</p>
<p>Di kamar tidurnya, Murtaji masih terlelap. Tadi malam dia pulang pagi setelah semalaman minum-minum. Dengkurannya keras.</p>
<p>Sambil menenteng rantang  di tangan kiri, dan tali di tangan kanan, Anita menyusup ke ladang ilalang dan menghampiri sumur kering yang setahu dia adalah tempat para alien bertandang. Dari langgar yang jauh terdengar suara adzan, yang bagi Anita lebih sunyi daripada degupan jantungnya.</p>
<p>Sesampainya di sumur, dia ikat pegangan rantang kuat-kuat dan ketika rantang itu hendak diturunkan sebuah cengkraman kuat menghampiri pundak Anita dan menariknya ke belakang hingga jatuh. Sayur lodeh tumpah di tanah.</p>
<p>&#8220;NGAPAIN KAMU? KAMU PUNYA PACAR BARU YA!?&#8221; ujar Murtaji. Matanya bengis.</p>
<p>&#8220;enggak mas,&#8221; kata Anita.</p>
<p>&#8220;BOHONG! Koranku hilang! Uangku hilang! Sekarang kau selundupkan makanan ke dalam sumur. Siapa yang bersembunyi di sana?&#8221;</p>
<p>&#8220;nggak ada mas&#8230;&#8221; isak Anita.</p>
<p>&#8220;DASAR PEREK! NGAKUUU!&#8221;</p>
<p>Suara &#8216;plak!&#8217; yang perih berhambur di udara ketika Murtaji menampar istrinya. Anita terisak lirih. Lodeh sudah tumpah dan pertanyaan alien tidak akan terjawab lagi untuk selamanya.</p>
<p>Murtaji menengok ke dalam sumur dan menemukan sederet tangga besi yang dipasang di dinding sumur, dulu biasanya dipakai petugas mengecek sumur. Maka dengan pongahnya Murtaji masuk ke sumur dan turun menggunakan tangga-tangga besi. Sambil turun ke bawah, mulutnya mengeluarkan sumpah-sumpahan semacam &#8216;ANJING!&#8217;&#8230; dan &#8216;BABI!&#8217;</p>
<p>Anita tahu betul, ketika suaminya naik darah tidak ada tindakan yang lebih baik selain diam. Dia pulang kembali ke rumah dan menata hati supaya bisa melupakan proyek kecil yang ia lakoni.</p>
<p>Suara Murtaji kadang terdengar dari kamar tidur, tempat Anita tidur terlentang menatap langit-langit sambil menata hati kalutnya hingga akhirnya terlelap.</p>
<div style="text-align: center;">···</div>
<p>Anita bangun lagi pukul 8 malam. Dipanggilnya nama si suami berkali-kali, tapi percuma, karena satu-satunya jawaban hanya pantulan suaranya sendiri. Tidak ada satu lampu rumah yang menyala, seolah ada yang lupa menyalakan sebelum Maghrib. Diraihnya senter di atas rak lalu Anita menelusuri kegelapan sambil—satu demi satu—menyalakan lampu rumah. Sesekali ia memanggil lagi nama suaminya.</p>
<p>Jantungnya lewat satu denyut ketika menyadari pintu depan masih terbuka. Dengan gerakan takut-takut Anita berjalan keluar, mengawasi kegelapan, hingga perhatiannya tertuju pada sumur kering di ujung ladang ilalang. Disana semua ini bermula!—maka Anita mulai menerobos embun di rerumputan dingin yang kini tidak lagi permai dalam gelapnya malam.</p>
<p>Di dekat sumur tidak ada siapa-siapa. Hanya rantang nasi dan lodeh yang tadi sudah tumpah, serta sehelai kertas putih yang duduk manis tak tertiup tarian angin. Diraihnya kertas itu, dan dibacanya pelan-pelan:</p>
<div style="text-align: center;">&#8220;WAH MAKANAN BUMI ENAK SEKALI</p>
<p>TERIMA KASIH</p>
<p>ALIEN GASTRONOMO&#8221;</p>
<div class="seealso">Cerita berdasar dari cerita yang saya ndak tau dari mana. Ilustrasi pinjam dari <a href="http://www.gettyimages.com/Search/Detail.aspx?axd=DetailPaging.Search%7C1&amp;axs=0%7CRL001038%2c75042838%2c72025251%2c57315311%2cdexil002_023%2ciwruggia0133c%2c57297339%2c56920374%2c57315310%2c55995519%2c55995195%2c55994959%2c082828%2c080051%2c56920376%2c72310622%2cbat89720%2c57315303%2cbat165008%7C0&amp;id=bat165008">sini</a>.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/02/kisah-penunggu-baru-sumur-tua-bagian-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Penunggu Baru Sumur Tua</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/02/kisah-penunggu-baru-sumur-tua.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/02/kisah-penunggu-baru-sumur-tua.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 07:49:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misc]]></category>
		<category><![CDATA[fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/02/kisah-penunggu-baru-sumur-tua.html</guid>
		<description><![CDATA[Langkah kaki Anita menyibak pelan debu tipis di pekarangan rumahnya. Suaminya, masih di ujung kamar makan, menggosok senjata tajam koleksinya. Badik, tapi bagi Anita cuma senjata tak berguna. Tapi itu tidak penting: ketakutan bertahun-tahun kepada suami dan kerinduan dinamika kota, sejenak terusik oleh sebuah kertas putih yang menari-nari di ujung jauh kebun ilalang permai. Kertas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp1.blogger.com/_Rim-cL2259M/R7fJOIZ4-YI/AAAAAAAAAgs/lAAURcNUSjQ/s1600-h/womanwell.gif" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167820342042360194" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_Rim-cL2259M/R7fJOIZ4-YI/AAAAAAAAAgs/lAAURcNUSjQ/s400/womanwell.gif" border="0" alt="" /></a><br />
Langkah kaki Anita menyibak pelan debu tipis di pekarangan rumahnya. Suaminya, masih di ujung kamar makan, menggosok senjata tajam koleksinya. Badik, tapi bagi Anita cuma senjata tak berguna.</p>
<p>Tapi itu tidak penting: ketakutan bertahun-tahun kepada suami dan kerinduan dinamika kota, sejenak terusik oleh sebuah kertas putih yang menari-nari di ujung jauh kebun ilalang permai. Kertas itu masih menari dengan angin hingga akhirnya Anita mendekat ke sumur kering dan menangkap tarian sang kertas. Ada tulisan di kertas itu.</p>
<div style="text-align: center;">&#8220;KAMI ALIEN PLANET GASTRONOMO.<br />
KAMI INGIN MENGENAL BUDAYAMU.<br />
KIRIM KE SUMUR&#8221;</div>
<p><span id="more-444"></span>Kata &#8216;Alien&#8217; memecut sel-sel otak Anita yang sudah lama mati-rasa sejak ia dipinang suaminya. Tinggal di pedalaman sungguh membosankan: kosakata &#8216;alien&#8217; terakhir ia dengar 10 tahun yang lalu, dan membacanya di secarik kertas putih misterius seperti meneguk segelas air sejuk di siang yang paling terik.</p>
<p>Sejenak ia pandangi sumur itu sekali lagi sementara kertas putih masih tergenggam erat, kemudian kaki-kaki kecilnya melangkah—kali ini lebih cepat—ke rumahnya. Dari garasi, dia ambil ember tua, tali panjang, dan setumpuk koran kemarin; kemudian kembali bergegas ke sumur tua tadi.</p>
<p>Tali ia ikat ke ember, koran masuk ke ember, dan ember dikerek masuk ke sumur kering. Karena tali tak cukup panjang untuk menyentuh dasarnya; maka ia jatuhkan saja benda-benda itu hingga lenyap dalam gelapnya lubang sumur. Lalu Anita lekas pulang, sambil menyembunyikan senyum simpulnya. Proyek kecil ini mengasyikkan!</p>
<div style="text-align: center;">···</div>
<p>Asyik sekali, hingga Anita tidak lagi menghiraukan Murtaji, suaminya, pemabuk, yang selalu sinis sejak 3652 hari terakhir.</p>
<p>&#8220;Senyum-senyum mikirin siapa!? Hendri yang di kota!?&#8221; gertak Murtaji sambil memukul meja makan dengan jemarinya yang kasar.</p>
<p>&#8220;Enggak mas&#8230;&#8221; balas Anita pelan, sambil menundukkan kepalanya. Hendri itu mantan pacar, pacar  yang membuat patah hati. Tapi Hendri sudah tidak penting sejak 10 tahun yang lalu. Sekarang &#8216;proyek kecil&#8217; jauh lebih seru!</p>
<div style="text-align: center;">···</div>
<p>Saat fajar subuh hampir terbit betul, Anita bangun untuk segera melihat sumurnya. Langkah-langkahnya menelusuri padang hijau yang berkilauan sinar pagi. Dan di dekat sumur, sehelai kertas menari-nari digoyang angin yang tidak pernah ada. Anita memungutnya.</p>
<div style="text-align: center;">&#8220;BUDAYA KALIAN MENGERIKAN DAN MENAKJUBKAN<br />
KENAPA BANGSAMU SELALU RICUH?<br />
KIRIM KE SUMUR</p>
<p>ALIEN GASTRONOMO&#8221;</p>
</div>
<p>Ember dan tali yang kemarin, kini teronggok di dekat sumur.</p>
<p>Senyum simpul terburai di wajah Anita. Akan tetapi subuh sudah mulai basi, dan Anita harus cepat pulang untuk menyeduh telur setengah matang dan kopi pahit sebelum suaminya—yang cuma pegawai kasar—bangun.</p>
<p>Sarapan pagi hari itu, yang disajikan adalah telur matang dan kopi manis karena Anita sibuk berpikir cara menjawab pertanyaan Alien Gastronom. Proyek kecilnya.</p>
<div style="text-align: center;">···</div>
<p>Seperti biasa, sore hari Murtaji selalu mandi kurang lebih 10 menit lamanya. Anita hapal betul itu. Maka diam-diam dia mengutip uang Rp 10.000 dari dompet Murtaji , memasukannya ke amplop, dan lari sekencang mungkin ke sumur di ladang hijau. Cepat-cepat ia lempar amplop dan koran ke sumur, dan lalu kembali ke rumah terbirit-birit.</p>
<p>Murtaji cemberut melihat istrinya duduk tersengal-sengal di dapur.</p>
<p><span style="font-style: italic;">Bersambung ke <a href="http://hermansaksono.com/2008/02/kisah-penunggu-baru-sumur-tua-bagian-2.html">bagian dua</a>&#8230;</span></p>
<div class="seealso">Cerita diilhami dari cerita lain yang saya ndak tau dari mana. Ilustrasi pinjam dari <a href="http://www.gettyimages.com/Search/Detail.aspx?axd=DetailPaging.Search%7C1&amp;axs=0%7CRL001038%2c75042838%2c72025251%2c57315311%2cdexil002_023%2ciwruggia0133c%2c57297339%2c56920374%2c57315310%2c55995519%2c55995195%2c55994959%2c082828%2c080051%2c56920376%2c72310622%2cbat89720%2c57315303%2cbat165008%7C0&amp;id=bat165008">sini</a>.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/02/kisah-penunggu-baru-sumur-tua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasus Seseorang Di Dalam Sel</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/07/kasus-seseorang-di-dalam-sel.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/07/kasus-seseorang-di-dalam-sel.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 13:58:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misc]]></category>
		<category><![CDATA[fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/07/kasus-seseorang-di-dalam-sel.html</guid>
		<description><![CDATA[Jam 8.14 pagi Penduduk memindahkan mayat pemuda itu. Mereka menutupnya dengan koran. Di sudut ruangan, Pak Diman terduduk sayu, tampangnya pucat pasi. Sesekali ia memperhatikan kain batik warna hijau yang tergantung pada terali besi pada jendela sel polsek. “Kain itu! Kain itu tidak ada tadi malam!” hentak pak Diman. 15 menit sebelumnya Pak Diman berjalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Rim-cL2259M/RpZSlRtM5nI/AAAAAAAAAXA/TSuv5K_eKUg/s1600-h/HantuSel.gif"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_Rim-cL2259M/RpZSlRtM5nI/AAAAAAAAAXA/TSuv5K_eKUg/s400/HantuSel.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086343629523183218" border="0" /></a><br />
<h4>Jam 8.14 pagi</h4>
<p>Penduduk memindahkan mayat pemuda itu. Mereka menutupnya dengan koran. Di sudut ruangan, Pak Diman terduduk sayu, tampangnya pucat pasi. Sesekali ia memperhatikan kain batik warna hijau yang tergantung pada terali besi pada jendela sel polsek. “Kain itu! Kain itu tidak ada tadi malam!” hentak pak Diman.</p>
<h4>15 menit sebelumnya</h4>
<p>Pak Diman berjalan tergopoh-gopoh ke luar. Dengan nafas tersengal-sengal dia menghampiri rumah pak Syukri yang dekat kantor polisi, dan berteriak “Tahanan itu mati! Gantung diri!!”</p>
<h4>3 menit sebelumnya</h4>
<p>Pagi yang dingin itu membuat tulang-tulang rematik Pak Diman kedinginan. Dia membuka gembok kantor polisi desa Sukasana. Jam menunjukkan jam 8 kurang 10 menit. Lalu, dengan langkah pelan dia meraih sapu di sudut ruangan dan mulai menyapu. Ketika melihat sosok yang tergantung di dalam sel tahanan, jantungnya kehilangan satu denyutan dan disusul dengan sebuah denyutan yang sangat kencang. “Dia bunuh diri,” teriak Pak Diman dalam hati.</p>
<div style="text-align: center;"><span style="font-size:85%;">***</span></div>
<p>
<h4>8 jam sebelumnya, 11.58 malam</h4>
<p>Hamid menarik nafas terakhir, lalu loncat, dan seluruh ingatan tentang orang-orang yang pernah dia sayangi mulai hilang perlahan-lahan. Pandangannya lama-lama menjadi kabur dan suram. Udara singup yang tersisa tinggal sedikit, dan terasa sangat sangat menyesakan. Sudah terlambat untuk tidak melakukan hal ini, tapi hidup ini terlalu pahit untuk dijalani.</p>
<h4>10 menit sebelumnya</h4>
<p>Tangan dekil itu mengakhiri kisahnya, lalu mengulungkan sebuah kain panjang yang dililit. Hamid menerimanya dan mulai mengikat kain itu di sekeliling lehernya. Untuk sesaat sosok dekil itu tersenyum ganjil, tapi wajahnya tetap pucat.</p>
<h4>40 menit sebelumnya</h4>
<p>Orang dekil itu duduk bersila di pojok sel. Dia melihat Hamid sudah bangun dan melempar sebuah tatapan aneh yang menyiratkan kisah-kisah pahit. Dia memperkenalkan, “aku… saipul,” ujar orang itu. Dengan nada yang ragu-ragu dan terpatah-patah oraing itu memulai ceritanya, “Aku dikurung… karena mencuri ayam… malu aku mas…,” sementara Hamid mendengarkannya dengan seksama.</p>
<h4>1 menit sebelumnya</h4>
<p>Hamid terbangun. Gerak-gerik sunyi diantara kesenyapan malam itu membuatnya tidak jenak. Ada orang lain: sebuah sosok kurus sudut ruangan. Kulitnya nampak pucat dan rambutnya tipis tidak teratur. “Kapankah dia masuk?” bisik Hamid dalam benaknya.</p>
<h4>1 jam sebelumnya, 10.07 malam</h4>
<p>Hamid terjaga dari tidurnya di sel polisi itu. Dinginnya begitu menusuk.</p>
<p>Dari matanya yang masih kabur ada gerak-gerik aneh dibalik kegelapan sel tahanan. Tapi badannya terlalu lelah sehingga tak lama kemudian ia pun kembali tertidur.</p>
<h4>80 menit sebelumnya, 8.46 malam</h4>
<p>Sudah hampir jam sembilan malam. Pak Diman menutup pintu masuk polsek. Wajahnya nampak tidak tenang, tapi pintu itu akhirnya ditutup dan dikunci sebelum dia menatap jeruji jendela sel tahanan. Setelah semua lampu mati, satu-satunya cahaya cuma dari  lampu neon di luar Polsek. Kini, Hamid satu-satunya orang di situ. Sungguh tidak terasa dia sudah interogasi 5 jam lebih. Luka akibat dihajar warga masih terasa pedih. Tetapi rasa penat di sekujur badannya sudah tak tertahankan dan tak lama kemudian dia terlelap dalam kegelapan dan dingin yang menusuk.</p>
<h4>60 menit sebelumnya, 7.45 malam</h4>
<p>Pak Polisi Sutarman memasukkan pemuda itu ke dalam sel kosong kantor polisi, badannya babak belur ditutupi perban dan obat merah ada dimana-mana. Hamid namanya, umurnya baru 18 tahun, dia dikeroyok warga karena tertangkap mencuri ayam milik Wak Mansur. “Apes betul aku hari ini,” pikir si Hamid. “Kurang ajar si Udin ninggalin aku,” gerutunya.</p>
<p>Pak Polisi Sutarman menutup sel tahanan, “Interogasi kita lanjutkan besok saja,” ujarnya. Sesaat, bapak tua penjaga nampak terbelalak melihat jendela sel. Bapak tua itu, Pak Diman, bilang: “Nak Polisi, saya pulang agak nanti, saya mau bersih-bersih dulu.”</p>
<h4>8 jam sebelumnya, 13.00 siang</h4>
<p>“Maling!! Maling!!” teriak penduduk desa Sukasana. Mereka menangkap seorang anak muda, belum 18 tahun, dan menghajarnya sampai babak belur. Untung tak lama kemudian Pak Polisi Sutarman dan Pak Polisi Wijayana datang mentertibkan situasi.</p>
<h4>20 menit sebelumnya</h4>
<p>Pemuda itu menyelinap. Temannya, si Udin, sudah di depan. “Lumayan, kalau hari ini bisa dapat curian aku bisa ntraktir minum anak-anak,” bisik Hamid dalam hati, sambil tersenyum riang. “Si Wati pasti tambah suka sama aku kalau aku bisa mentraktir anak-anak geng-ku.”</p>
<div style="text-align: center;"><span style="font-size:85%;">***</span></div>
<p>
<h4>20 tahun yang lalu</h4>
<p>Pagi itu Pak Diman masuk ke dalam kantor polisi. Dia hendak melihat kondisi anak malang gitu. Yang ia dapati sungguh diluar dugaan, pemuda malang itu mengakhiri hidupnya dengan gantung diri memakai sebuah kain batik. Jantung Pak Diman berdegap kencang, ia segera bergegas keluar dan berteriak memberitahu warga desa berita buruk itu.</p>
<h4>12 jam sebelumnya, jam 9 malam</h4>
<p>Anak muda itu nampak sayu. Matanya kosong, wajahnya penuh sesal. Polisi memegangnya dan memapahnya menuju sel. Bajunya dekil, badannya penuh luka-luka dikeroyok penduduk karena tertangkap mencuri ayam. Tapi dia tidak punya pilihan, karena adiknya sakit dan biaya obatnya mahal sekali.<br />Ketika sel hendak ditutup, pak Diman, pegawai kebersihan di situ, berkata “Sebentar nak polisi, saya beri selimut dulu. Kasihan sel ini dingin sekali,” sambil menyelimutkan sebuah kain batik berwana hijau pada si pemuda. Saipul namanya.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/07/kasus-seseorang-di-dalam-sel.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasus Ancaman Via Yahoo Messenger</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/02/kasus-ancaman-via-yahoo-messenger.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/02/kasus-ancaman-via-yahoo-messenger.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Feb 2007 12:29:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misc]]></category>
		<category><![CDATA[fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/02/kasus-ancaman-via-yahoo-messenger.html</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu, Kaserse Udin duduk termenung di mejanya, masih berusaha menemukan benang merah sebuah kasus pembunuhan seorang mahasiswi perhotelan di Bandung. Tragis sekali, dibunuh ketika tidur di kamar indekos. Sudah sejak lama Kaserse Udin memelototi berkas-berkas itu. Tentu yang paling menarik perhatiannya adalah transkrip chat yang ditemukan di laptop milik si mahasiswi naas. Novi memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/RdrnEemRpmI/AAAAAAAAAQI/JEK_LrSOK2E/s1600-h/bah059.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/RdrnEemRpmI/AAAAAAAAAQI/JEK_LrSOK2E/s320/bah059.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5033589597659047522" border="0" /></a><br />Malam itu, Kaserse Udin duduk termenung di mejanya, masih berusaha menemukan benang merah sebuah kasus pembunuhan seorang mahasiswi perhotelan di Bandung. Tragis sekali, dibunuh ketika tidur di kamar indekos. Sudah sejak lama Kaserse Udin memelototi berkas-berkas itu. Tentu yang paling menarik perhatiannya adalah transkrip chat yang ditemukan di laptop milik si mahasiswi naas. Novi memang terakhir chat dengan seseorang misterius sebelum tidur.</p>
<div class="chat"><strong>pangeran_dewa:</strong> halo sayang<br /><strong>pangeran_dewa:</strong> belum tidur?<br /><em>evanova:</em> halo :)<br /><em>evanova:</em> ini siapa ya?<br /><strong>pangeran_dewa:</strong> pengagum rahasia<br /><em>evanova:</em> emang kita pernah ketemu?<br /><em>evanova:</em> lama bgt jawabnya</p>
<p><strong>pangeran_dewa:</strong> rambutmu wangi sekali<br /><em>evanova:</em> kamu siapa sih!<br /><em>evanova:</em> ini dendi yaaaaa<br /><strong>pangeran_dewa:</strong> bukan sayang :)<br /><em>evanova:</em> lalu siapa<br /><strong>pangeran_dewa:</strong> dulu kita pernah ketemu sekali<br /><em>evanova:</em> kapan?<br /><strong>pangeran_dewa:</strong> sejak itu aku tidak bisa melupakanmu<br /><strong>pangeran_dewa:</strong> kadang2 aku harus menyayat kulitku<br /><strong>pangeran_dewa:</strong> karena rasa sakitnya membantu melupakanmu<br /><em>evanova:</em> jangan bikn takut dong<br /><strong>pangeran_dewa:</strong> malam ini kamu akan bertemu denganku untuk kedua kalinya<br /><strong>pangeran_dewa:</strong> jangan kuatir, aku akan mencekikmu pelan pelan<br /><strong>pangeran_dewa:</strong> supaya tidak sakit</p>
<p><strong>pangeran_dewa has signed out (9/28/2003 11:38 PM)</strong></div>
<p>Kaserse Udin menutup map berkas-berkas, mematikan lampu, lalu meninggalkan ruangannya. Dia berusaha merekonstruksi kejadian demi kejadian dalam benaknya.</p>
<p>Menurut data yang berhasil dikumpulkan kepolisian, Novi memang sangat ketakutan sesaat setelah seseorang dengan identitas pangeran_dewa itu sign out. Dia langsung menutup laptopnya, mengambil bantal &#038; selimut, dan naik ke tempat tidur saudaranya yang juga <span style="font-style: italic;">roommate</span>-nya (yang saat itu sudah tidur), lalu bersembunyi di balik selimut. Di laporan, katanya Novi sempat melihat sosok besar menerawang korden jendela kamar kostnya. Yang jelas Novi berusaha tidur, walaupun tidak bisa. Dari laporan si roomate ini pula, sosok besar itu sepertinya masuk ke dalam kamar, walaupun kunci pintu tidak pernah dibuka.</p>
<p>Aneh betul, pikir Kaserse udin, yang masih tidak paham.</p>
<p>Tentu saja Kaserse Udin tidak paham. Dia hanya tahu kalau keesokan harinya, Novi terbangun dan mendapati teman kamarnya sudah tidak ada di tempat tidur. Kasur yang mereka berdua pakai basah dan baunya seperti bau kencing. Ketika menoleh ke atas jantung Novi nyaris copot ketika mendapati temannya, Eva, tewas digantung di atas tempat tidur. Lehernya tercekik. Mulut dan kedua lengan &#038; kakinya membiru.</p>
<p>Kaserse Udin juga hanya tahu juga kalau Novi masih syok, belum bisa ditanya lebih detail.</p>
<p>Yang Kaserse Udin belum tahu, malam itu Eva belum <span style="font-style: italic;">sign-out</span> dari Yahoo Messenger, dan ancaman dari pangeran_dewa ditujukan kepada YahooID Eva, bukan orang yang memakai komputer.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/02/kasus-ancaman-via-yahoo-messenger.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Mimpi Tentang Keranda</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/02/kisah-mimpi-tentang-keranda.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/02/kisah-mimpi-tentang-keranda.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 09:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misc]]></category>
		<category><![CDATA[fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/02/kisah-mimpi-tentang-keranda.html</guid>
		<description><![CDATA[Herdi, seorang pegawai konstruksi, mengalami mimpi yang aneh. Dalam mimpi, dia mendapati dirinya terbangun di desa asalnya, Klaten. Tidak seperti biasanya, pagi itu rumahnya sangat sepi, tidak ada bapak ataupun ibunya. Murwanti—adik bungsunya—ataupun Herjun, suami Murwanti, juga tidak terlihat. Suasananya terasa serba tidak wajar; desanya yang biasanya cerah dan sejuk, pagi itu terasa singup berkabut.Tiba-tiba, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img185.imageshack.us/img185/4747/kerandapv2.gif" alt="" class="center" /></p>
<p>Herdi, seorang pegawai konstruksi, mengalami mimpi yang aneh. Dalam mimpi, dia mendapati dirinya terbangun di desa asalnya, Klaten. Tidak seperti biasanya, pagi itu rumahnya sangat sepi, tidak ada bapak ataupun ibunya. Murwanti—adik bungsunya—ataupun Herjun, suami Murwanti, juga tidak terlihat. Suasananya terasa serba tidak wajar; desanya yang biasanya cerah dan sejuk, pagi itu terasa singup berkabut.<br /><span class="fp"><br />Tiba-tiba, di ujung jalan muncul sosok kakek tua berpakaian putih seperti seorang imam. Berbaris di belakangnya ada beberapa orang yang memikul keranda. Kakek tua itu mendekat, menghampirinya, dan berkata: &#8220;Masih bisa untuk satu orang lagi, nak.&#8221; Ucapan itu membuat Herdi berjengit dan menggelengkan kepalanya. Kemudian kakek tua itu menundukkan kepala dan berjalan menjauh, sambil terus-menerus berteriak: &#8220;Masih bisa untuk satu orang lagi! Bisa satu orang lagi!,&#8221; sampai akhirnya suaranya tak terdengar, terkubur oleh kabut dan kesunyian pagi.</p>
<p>Herdi tidak ingat betul lanjutan mimpinya, apalagi mimpi itu lalu tercampur dengan mimpi-mimpi yang lain. Tapi kedatangan kakek tua dan kerandanya terus terngiang dalam benaknya.</p>
<p>Keesokan harinya, seperti biasa, Herdi kembali bekerja di sebuah lahan konstruksi di daerah Kelapa Gading. Menjelang jam istirahat, dia diperintah mandornya untuk menangani lantai 15. Herdi pun bergegas menuju lift. Di sana ia mendapati dua buruh lain sudah di dalam lift yang juga disesaki beberapa bahan bangunan. Salah satu buruh berkata: &#8220;Ayo, masih cukup kok. Masih bisa untuk satu orang lagi.&#8221;</p>
<p>Kata-kata itu membuat Herdi ketakutan setengah mati. Dia langsung terhenyak menjauh meninggalkan kedua temannya. Beberapa saat kemudian, ketika berada di lantai 13, terjadi kerusakan pada lift sehingga lift tersebut jatuh. Dua temannya tewas seketika.</span>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/02/kisah-mimpi-tentang-keranda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

