<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hermansaksono &#187; guest blogger</title>
	<atom:link href="http://hermansaksono.com/tag/guest-blogger/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hermansaksono.com</link>
	<description>Patternless thoughts, pointless wisdom</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 02:06:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Guest Blogger: Liang Kubur Orang Individualis</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2011/07/liang-kubur-orang-individualis.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2011/07/liang-kubur-orang-individualis.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 11:13:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[guest blogger]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1549</guid>
		<description><![CDATA[Pembantu rumah bertanya: kalau hubungan dengan tetangga kurang akrab, nanti kalau meninggal siapa yang menggali liang kubur?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Spesial hari ini, ada guest blogger yang mengisi blog ini. Perkenalkan Noor Rahmani, ibu saya, yang menulis soal individualis. :D</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pagi ini sambil menyapu, Si Mbak pembantu rumah ngobrol dengan saya. Dia bertanya, kalau hubungan dengan tetangga kurang akrab, nanti kalau meninggal siapa yang menggali liang kubur?</p>
<p>Saya jawab: kita bayar orang.</p>
<p>&#8220;Oooo.. kalau di desa saya, tetangga desalah yang menggali,&#8221; jawab si Mbak.</p>
<p>Dalam hati saya geli, membayangkan tetangga RT saya Pak Bambang Sudibyo, dr. Sunarto, Pak Zaki Baridwan dan Pak Samsubar menggali liang kubur saya.</p>
<p>Kemudian si Mbak bertanya lagi: &#8220;Kalau tidak dekat dengan tetangga, siapa yang layat?&#8221;</p>
<p>Dalam masyarakat kolektif, kehidupan sangat tergantung pada pertolongan dan bantuan dari orang2 yang tinggal disekeliling kita, yaitu tetangga. Bagaimana dengan masyarakat individualis? Orang sering salah persepsi, mengatakan bahwa masyarakat individualis itu asosial.</p>
<p>Bagaimana mungkin? Bukankah manusia itu makhluk sosial?</p>
<p>Sebenarnya tidak ada perbedaan antara masyarakat individualis dengan masyarakat kolektif, tetap sama2 makhluk sosial. Hanya bedanya, pada masyarakat  kolektif, hubungan sosial <em>default</em> dengan tetangga.</p>
<p>Kondisi ini berasal dari kehidupan jaman dahulu, ketika manusia masih hidup di tengah hutan yang penuh dengan mara bahaya. Manusia harus bersatu agar bisa selamat bahu membahu menghadapi kekerasan alam. Mereka menciptakan norma-norma bermasyarakat dalam suku, yang harus dipatuhi agar suku menjadi solid dan kuat menghadapi mara bahaya. Hubungan baik, kedekatan dan interaksi intensif harus dilakukan oleh anggota suku untuk memaintain eksistensinya di dalam suku. Kalau melanggar norma-norma suku, seseorang bisa dibenci dan dibuang dari suku, ujung-ujungnya harus hidup sendiri berhadapan dengan singa, ular, dan marabahaya alam lainnya.</p>
<p>Semakin maju suatu masyarakat, terjadi pembagian tugas. Ada yang bercocok tanam, ada yang menjaga keamanan yang diberi bagian dari hasil bercocok tanam. Muncullah tata kehidupan baru yakni membayar pajak dan mendapat fasilitas keamanan dan kenyamanan. Kita tidak perlu bersatu lagi menghadapi mara bahaya. Kita sudah membayar pajak untuk menggaji polisi dan tentara guna mengamankan lingkungan kita.</p>
<p>Kemajuan teknologi sangat besar pengaruhnya pada interaksi sosial.</p>
<p>Ketika kita punya kendaraan, kita bisa berteman dengan mereka yang ada dalam jangkauan kendaraan kita. Munculnya layanan transportasi umum semakin mendekatkan kita dengan sahabat-sahabat yang jauh. HP dan internet, lebih-lebih lagi. Bisa terjadi sambil nongkrong di toilet, kita bisa ngobrol dengan teman yang lagi sekolah di Inggris. :)</p>
<p>Di sinilah bedanya, masyarakat kolektif tidak bisa memilih komunitas mereka sesuai dengan keinginan mereka. <em>Mau tidak mau</em>, ya hanya tetangga kita. Masyarakat individualis tetap bergaul dan bermasyarakat, tapi kita bisa memilih sendiri komunitas kita.</p>
<p>Jadi bapak ibu tidak usah merasa rikuh kalau tidak akrab dengan tetangga, karena teman-teman kita tersebar baik di kantor, milis teman alumni kuliah, BBM Group alumni SMA, alumni SMP, alumni SD, kelompok diskusi penggemar tas, penggemar kucing, grup keluarga, grup keluarga mertua, dlsb dlsb.</p>
<p>Kalau meninggal, siapa yang layat? Yah kalau Bapak Ibu populer dan baik perilakunya dalam kelompok-kelompok yang bapak ibu ikuti, bisa saja pelayat membludag dan membuat tetangga melongo.</p>
<p>Jangan merasa bersalah jika bapak ibu individualis, karena kolektif-individualis itu bukan dikotomi tapi kontinum. Semua masyarakat, akibat kemajuan sosial dan teknologi, pada akhirnya akan menjadi individualis, <em>sooner</em> or later :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2011/07/liang-kubur-orang-individualis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Saya persilakan anda untuk mati…”</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/12/saya-persilakan-anda-untuk-mati.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/12/saya-persilakan-anda-untuk-mati.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 07:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[guest blogger]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/12/%e2%80%9csaya-persilakan-anda-untuk-mati%e2%80%9d.html</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca yang budiman dan budiwati, hari ini ada guest blogger yang akan mengisi blog yang tidak masuk 100 besar ini. Dia juga dokter, tapi bukan semacam dr. Monika yang sintal tapi identitasnya tidak jelas, tapi seorang dokter tidak sintal yang identitasnya jelas (halah), dan teman baik saya sejak SMA. Saya perkenalkan, Robertus Arian: *** Death [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:85%;">Pembaca yang budiman dan budiwati, hari ini ada guest blogger yang akan mengisi blog yang tidak masuk <a href="http://blogs.indonesiamatters.com/">100 besar</a> ini. Dia juga dokter, tapi bukan semacam dr. Monika yang sintal tapi identitasnya tidak jelas, tapi seorang dokter tidak sintal yang identitasnya jelas (halah), dan teman baik saya sejak SMA. Saya perkenalkan, Robertus Arian:</span></p>
<div style="text-align: center;"><span style="font-size:85%;">***</span></div>
<p><span style="font-style: italic;">Death is a final destination.</span> Tidak ada jalan kembali. Dan karena itulah kematian diasosiasikan dengan kehilangan, duka cita, dan ratapan. Semua makhluk hidup mati, pilihannya adalah bagaimana anda akan mati.</p>
<p>Saya dibekali dengan tiga karakter di depan nama saya: karakter &#8216;d&#8217;, &#8216;r&#8217;, dan &#8216;.&#8217;. Ketiga karakter ini membawa konsekuensi yang menyesakkan: berada di antara kematian dan kehidupan. Kadang hanya dipisahkan tiga menit pemeriksaan fisik. Percayalah, ini bukan pengalaman yang menyenangkan!</p>
<p>Ada beberapa premis yang akan kita gunakan untuk meneruskan bacaan ini:</p>
<ol>
<li>Semua orang berharap orang sakit yang masuk rumah sakit keluar dalam keadaan sembuh</li>
<li>Dokter berharap semua pasien yang masuk rumah sakit keluar dalam keadaan sembuh</li>
<li>Beberapa penyakit menyebabkan kematian</li>
<li>Harapan tidak sama dengan usaha</li>
</ol>
<p><span id="more-406"></span><br />
Pada minggu-minggu pertama saya bertugas, ada satu konsep yang tidak saya pahami tentang premis yang keempat. RS kecil tempat saya bekerja punya keterbatasan yang bisa dipecahkan dengan dua setengah jam bermobil ke kotamadya sebelah. Walaupun premis keempat itu berlaku baik pada pasien, keluarga, dokter, dan perawat, kadang pengingkaran terhadap premis itu membawa konsekuensi bahwa pasien harus ditransfer ke RS yang lebih besar dengan fasilitas yang lebih lengkap. Sebagian kecil &#8216;transfer&#8217; ini bermakna “anda akan mati di tempat ini, tapi anda punya kemungkinan untuk hidup lebih besar di RS yang lebih besar itu”. Dan biasanya mereka menolak.</p>
<p>Ternyata ketidakpahaman saya terhadap konsep ini berawal pada ketidakpahaman saya bahwa dari sudut pandang pasien dan keluarga, permasalahan kesehatan ini bersaing sama kuat dengan pendidikan, makan-minum, pekerjaan, ladang, dan lain-lain. Sulit bagi mereka untuk meninggalkan penghidupan mereka sehari-hari demi si sakit. Bagi saya, kesehatan pasien paling penting. Dia berada di urutan paling atas daftar prioritas karena menyangkut hidup dan mati seseorang. Dengan pemahaman seperti ini, saya melakukan premis yang kedua dan mengingkari premis keempat dengan catatan bahwa semua orang setuju dengan premis ketiga. Pasien dan keluarga di lain pihak seringkali melakukan premis pertama dan keempat sekaligus. Kemungkinan gagalnya lebih besar daripada apa yang saya lakukan bila premis ketiga kebetulan benar.</p>
<p>Pada kasus seperti ini, ketika ada ketidakcocokan premis yang kami yakini, saya berkata kepada pasien walau tak pernah terucap, “Saya persilakan anda untuk mati.” Sebagian besar diikuti dengan penyesalan karena masalah pasien tidak terselesaikan menurut standar saya. Tapi selesai dan lebih baik bagi pasien dan keluarganya untuk membiarkan si sakit meninggal, karena di depan mereka masih ada daftar prioritas yang sama tinggi untuk dilakukan dan akan lebih mudah dilakukan tanpa si sakit di sekitar mereka.</p>
<p>Pemerintah kita masih punya banyak pekerjaan rumah.</p>
<p>Dan saya mengatupkan kedua bibir setiap kali ini terjadi.</p>
<p>Percayalah bahwa ini sangat menyakitkan bagi saya. Sakit sesakit-sakitnya.</p>
<div class="seealso">Robertus Arian pernah menjadi teman sebangku Herman Saksono pada kurun waktu 1997-1998, lulus sebagai dokter dari FK UGM akhir tahun 2006, saat ini bertugas di sebuah RS di kota tanpa traffic light, kira-kira 123 km dari Palembang.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/12/saya-persilakan-anda-untuk-mati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

