Travel - July 28th, 2010
Vietnamese People We Met
Berwisata adalah menemukan sesuatu yang baru. Di monumen atau perempatan jalan, Anda bisa menemukan langgam keindahan yang tidak pernah ada di rumah. Demikian juga ketika mencicipi makanan asing, yang enaknya berbeda, tetapi tetap lezat disantap. Yang sering terlupakan adalah kebaruan-kebaruan itu disusun oleh orang-orang yang tinggal di sana. Walaupun mungkin mereka tidak meninggalkan kesan bagi Anda, tetapi merekalah pembuat kesan yang Anda bawa pulang ke rumah.
Ibu pemilik losmen Ngoc Minh ini jarang terlihat diam. Selalu mengenakan rok dan sepatu hak tinggi, ia mondar-mandir dari satu sudut ke sudut losmen yang lain. Dia memang tidak sendirian. Penginapan empat lantai ini dikelola bersama suaminya dan tiga pembantu, tetapi satu-satunya saat ia terlihat duduk cuma waktu menerima telpon atau mengurusi reservasi.
Doy menyetir sedan Toyota yang kami tumpangi menuju Cat Ba selama tujuh jam, berhenti hanya ketika menyeberang dengan ferry. Pria satu anak ini nampaknya suka otomotif, ialah yang bercerita kelebihan-kelebihan Toyota yang membuatnya mengalahkan Honda di pasar Vietnam. Kami berusaha ngobrol: saya dan Hanny memakai Inglish, dan dia, Vinglish. Jurang dialek ini agak mempersulit kelenturan percakapan, tetapi salah paham selalu bisa berakhir dengan ketawa.
Mbak pengelola My Ngoc Tours inilah yang menyiapkan tur tiga jam menelusuri gugusan pulau karst di teluk Lan Ha. Tanpa tur singkat itu mungkin perjalanan kami untuk melihat Lan Ha akan gagal, karena waktu yang tersisa tidak cukup banyak. Jangan bayangkan ia agen travel yang persuasif-agresif, bisa dikatakan si Mbak justru sebaliknya. Gerakannya cukup dan tidak memotong pembicaraan. Berbisnis dengannya adalah tanpa keraguan.
Dan demikianlah penutup seri Vietnam ini. Senang berkelana denganmu Hanny. :)













