hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘movies’

Indonesiana - February 18th, 2011

Hilangnya Film Hollywood dari Bioskop

film hollywood hilang dari bioskop

Malam ini (18/02), saat lampu proyektor di bioskop-bioskop mati pendarannya, mungkin ini adalah kali terakhir film Holywood diputar di Indonesia. Terhitung besok, film Holywood akan berhenti tayang di bioskop Indonesia.

Masalah dimulai ketika asosiasi distributor film asing (MPA, Motion Picture Association) merasa keberatan dengan bea masuk baru yang ditetapkan Dirjen Bea Cukai. Akibatnya, MPA berkeputusan utnuk menahan film-film layar lebar sampai ada kejelasan dari pihak pemerintah. Sinyal embargo ini mulai terlihat pada Jum’at siang (18/02) ketika pihak Sinema 21 mengumumkan penundaan penayangan perdana 127 Hours sampai waktu yang tidak ditentukan.

Bukan cuma jaringan 21 yang terkena embargo. Film Hollywood juga akan absen di Blitz dan Grande karena embargo diterapkan oleh pihak distributor.

Kepala Kebijakan Fiskal Kemenkeu, Bambang Permadi Brodjonegoro, menjelaskan kalau bea masuk baru tersebut masih dalam tahap negosiasi dan belum final. Sayangnya, hingga saat ini besaran perubahan bea cukai itu masih misterius. Perlu diketahui bahwa film yang diputar di Indonesia sudah kena bea masuk, PPN, PPH, dan pajak tontonan. Pajak yang terakhir masuk ke kantong pemerintah daerah.

Memang agak diluar kebiasaan jika MPA memutus penayangan film asing ketika negosiasi masih berjalan. Apakah skema pungutan itu memang keterlaluan tamaknya, atau MPA cuma menggertak pemerintah supaya daya tawar mereka lebih baik.

Di atas kertas, yang akan terkena imbas paling buruk dari embargo adalah jaringan bioskop 21 beserta karyawan-karyawannya. 500 layar bioskop yang biasa diisi oleh film-film Hollywood terpaksa harus mengandalkan pasokan film Indonesia yang produksinya masih sedikit. Andaikata pasokan film lokal bisa mengisi seluruh layar 21, tetap saja mereka telah kehilangan pasar film asing yang setia membeli tiket setiap ada film Hollywood baru.

Akan tetapi kondisi industri bioskop kita tidak sepenuhnya sehat. Hubungan antara 21 dan distributor film yang mengarah ke gaya monopolistik (ingat ketika Twilight New Moon hanya tayang perdana di jaringan 21?), tidak terutup kemungkinan pihak 21 juga memiliki keterlibatan dalam embargo ini.

Yang jelas, lagi-lagi penonton harus sabar menonton pertarungan antara pemerintah dan Hollywood.

Update

  • Melalui wawancara dengan detikcom, juru bicara 21 Cineplex Noorca Masardi menjelaskan bahwa selain menerapkan bea masuk barang sebesar 23,75%, pemerintah juga menerapkan bea masuk hak distribusi yang nilainya juga sebesar 23,75%. Kebijakan yang dinilai tidak wajar ini yang membuat MPA menarik film Hollywood dari Indonesia.
  • Jika Anda ingin urun suara dalam masalah ini dapat melalui Facebook 21 Cineplex atau Facebook Blitzmegaplex.
  • Nampaknya embargo masih sebatas film baru. Situs Cineplex 21 dan BlitzMegaplex menunjukkan kalau film Hollywood yang sudah masuk sebelum Kamis (17/02) masih tayang di bioskop.
  • Meluruskan Film Impor, menurut Deddy Mizwar dan Rudy S Sanyoto (Ketua dan Wakil Ketua BP2N) nilai pajak yang dibayarkan film impor sangat kecil karena hanya menghitung nilai fisik film bukan royali “content” film.

Reviews - February 18th, 2011

The King’s Speech

The King's Speech

Pangeran Albert (Colin Firth) sebetulnya bukan pangeran yang berbakat menjadi raja, ataupun ditakdirkan menjadi raja. Anak kedua Raja Inggris George V ini sosok yang hati-hati, lembut, dan gagap. Ia mempermalukan kerajaan saat tergagap menyelesaikan kalimat pertama pidato di depan ribuan orang yang memenuhi stadion Wembley pada tahun 1952.

Adalah istrinya Elizabeth (Helena Bonham Carter) yang mencarikan berbagai dokter dan terapis untuk menyembuhkan gagapnya. Setelah semua cara tidak membuahkan hasil, Elizabeth menemukan Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang terapis gagap yang unorthodox.

Terapi pertama inilah yang mengantarkan penonton ke kisah sejarah tentang seorang karakter lembut yang diangkat menjadi reluctant king di era perang dunia 2, menggantikan tugas kakaknya, Pangeran Edward. Edward memilih melepas tanggung jawab raja demi menikahi seorang janda Amerika.

Premis film ini adalah bisakah seorang raja gagap membawakan pidato untuk menenangkan rakyat Inggris yang membutuhkan seorang pemimpin dalam ancaman perang.

Yang mengagumkan dari script David Seidler adalah bagaimana kejadian-kejadian sejarah anekdotal diramu menjadi adegan-adegan anekdotal yang lantunannya santai. Dialog antara Pangeran Albert dan Lionel begitu lincah dan lucu sehingga mustahil terabaikan. Melalui dialog dengan Lionel, penonton menemukan berbagai sisi karakter si pangeran. Dualisme dalam Pangeran Albert yang rapuh dan yang bertanggung-jawab, dibawakan Firth secara alami.

Akan tetapi, pesona King’s Speech ada di Helena Bonham Carter sebagai istri Albert, yang telaten mendampingi suaminya menjadi raja. Elizabeth bukan jenis tante jahat yang mengejar kedudukan ratu. Anda melihatnya ketika Elizabeth menghela nafas lega setelah suaminya menyelesaikan pidato. Itu adalah kelegaan karena kepedulian dengan suami, bukan kepedulian dengan tahta. Citra tokoh jerk memang terlanjur terpancang di dahi Helena Bonham Carter, tapi kali ini ia menjadi sangat simpatik. Sebelumnya, Carter memerankan Marla Singer di Fight Club dan juga sebagai musuh bebuyutan Harry Potter, Bellatrix Lestrange.

Rush yang memerankan terapis Australia yang nranyak, apa mau dikata, selalu berakting bagus. Walaupun kali ini dia agak “biasa” untuk standar Geoffrey Rush. Seperti halnya Rush, King’s Speech ini terasa kurang satu langkah membawa emosi penonton. Ibarat secangkir kopi yang enak, masih ada seteguk lagi di dasar cangkir, dan penonton tidak bisa menghabiskannya.

Apakah film ini layak mendapatkan Oscar tanggal 28 Februari besok? Film seperti ini memang selalu menjadi favorit juri Oscar yang kesemuanya adalah pekerja film.

Reviews - February 4th, 2011

The Green Hornet

The Green Hornet

Britt Reid (Seth Rogen) tidak punya bakat apa-apa. Dia hanya bisa berpesta hura-hura, mengencani gadis baru tiap malam. Ketika menjadi The Green Hornet, Reid masih tetap seorang superhero dengan nothing. Tanpa dibantu kehandalan silat Kato (Jay Chou) dan alat-alat canggih ciptaannya, Reid mungkin sudah tewas di malam debutnya.

Bahkan dia menjadi superhero karena tidak sengaja.

Jika lantas The Green Hornet membuat gerah bos Mafia Los Angeles, itu berkat koran milik Reid yang tidak pernah berhenti membahas sosok bertopeng hijau itu. Singkat kata The Green Hornet adalah nothing yang tidak sengaja menjadi something.

Film ini bagus karena telah meramu gagasan yang sebetulnya garing, menjadi tontonan layak tonton yang bisa menghibur, dan sesekali lucu. Bintangnya, sayangnya bukan Rogen ataupun Chou, melainkan Cristoph Waltz yang memerankan bos mafia bengis bernama Chudnofsky, yang (lucunya) sangat insecure. Ia sering terlihat kikuk dan canggung, tapi ketika membunuh, ia membunuh. Tanpa basa-basi, tanpa sesal.

Bagi yang sudah nonton Inglorious Bastard, Waltz adalah pemeran Colonel Hans Landa yang membunuh Yahudi hanya karena asyik. Berkat aktingnya di Bastard, Waltz menggondol piala Oscar untuk pemeran pendukung terbaik. Memang sih, The Green Hornet tidak akan menang Oscar (ataupun mendapatkan nominasi), tapi telah sukses membuat saya tidak sabar melihat Waltz main di film-film lain yang bisa memamerkan bakatnya.

Reviews - January 4th, 2011

The Tourist

The Tourist

Pagi hari di Paris. Sepucuk surat misterius mengirim instruksi kepada Elise (Jolie) untuk bergegas ke stasiun Gare de Lyon. Ia disuruh untuk mencari lelaki dengan perawakan mirip Alexander Pearce, dan pergi ke Venesia. Belakangan kita tahu bahwa sosok Pearce yang misterius itu adalah kekasih Elise.

Di kereta menuju Venesia, Elise menemukan Frank (Depp), seorang guru matematika dari AS yang berlibur untuk melupakan perceraiannya. Perkenalan dan percakapan di kereta itu kemudian bergulir menjadi kencan romantis di bawah bintang-bintang Venesia. Esok harinya, kemesraan itu berubah menjadi permainan maut yang melibatkan mafia berdarah dingin dan juga Scotland Yard.

Paris dan Venesia memang dua bintang film ini, selain Johnny Depp dan Angeline Jolie. Walaupun Jolie seperti mengulang karakter wanita berdarah dingin, Depp nyaris sempurna membawakan tokoh Frank yang kikuk dan kuper; kebalikan dari Alexander Pearce yang sering menaklukkan hati Elise. Misalnya, dalam percakapan singkat di gerbong kereta ekonomi, Frank bertanya apakah Elise bersedia makan malam bersamanya. Elise menjawab kalau ia tidak suka pria yang bertanya.

Sayangnya, chemistry antara keduanya seperti berhenti berkembang di duapertiga The Tourist. Dan sesekali Depp masih seperti Jack Sparrow dari Pirates of Carribean.

The Tourist memang tidak akan menjadi film yang menandai jamannya, tetapi sangat asyik untuk dinikmati begitu saja. Makanya agak mengagumkan ketika film ini memperoleh nominasi Golden Globe.

Reviews - January 4th, 2011

Dalam Mihrab Cinta

Dalam Mihrab Cinta

God works in mysterious way. Tapi bagi Habiburahman El Shirazy, God works in sinetron’s way. Dan pengarang Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih itu kembali mengulang resep yang identik di film Dalam Mihrab Cinta.

DMC dimulai dengan Syamsul (Dude Herlino) yang diusir dari pesantren karena difitnah mencuri oleh Burhan (Boy Hamzah). Pulang ke keluarganya, alih-alih dibela, Syamsul justru dimarahi Ayahnya dan ditempeleng oleh kedua kakak laki-lakinya dengan sound effect semutakhir film kung fu. Perlakuan ini akhirnya memaksa Syamsul melarikan diri ke Semarang, dan kemudian Jakarta. Di sana, Syamsul benar-benar menjadi copet, hingga suatu hari dia mendapatkan dompet milik Sylvie (Asmirandah) yang kelak akan mengubah hidupnya 180 derajat.

Film yang disutradari oleh pengarangnya ini terlalu banyak mengandung  kebodohan blooper dan kebodohan plot. Tidak ada salahnya berusaha memaafkan Habiburahman yang masih hijau di bidang penyutradaraan melakukan kebodohan blooper, walaupun beberapa—seperti berita copet di Semarang masuk headline koran Jawa Timur—terlalu absurd. Akan tetapi kebodohan plot sangat susah diterima.

Seperti misalnya nasib Syamsul yang bisa berubah dari copet menjadi ustad dengan sangat cepat dan ajaib, tanpa kerja keras yang istimewa. Seperti juga asmara segitiga Syamsul, Sylvie, dan Zizi yang diselesaikan dengan praktis oleh Habiburahman. Pernikahan memang kembali menjadi tema sentral film ini, setelah semua masalah Syamsul terselesaikan di pertengahan film, maka Dalam Mihrab Cinta dilanjutkan dengan episode Syamsul mencari istri. Dan sama seperti AAC dan KCB, pernikahan itu memang tanpa pacaran.

Nampaknya nikah tanpa pacaraan inilah yang selalu menjadi benang merah semua dongeng Habiburahman. Dan anak muda jaman sekarang harus waspada dari propaganda ideologi yang semacam itu.

Reviews - December 18th, 2010

Tron: Legacy

Tron: Legacy

Tentang anak yang kehilangan sosok ayah. Tentang orang yang tersedot masuk ke dalam game fantastis. Tentang keberanian anak muda versus kearifan orang tua.

Tron menjadi pengulangan demi pengulangan formula cerita lama, dengan efek khusus yang keren tapi tidak baru. Walaupun adegan-adegan laganya seru, tapi sisanya adalah saya yang menunggu kapan film ini akan mengesankan.

Sampai film selesai.