hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘serba-serbi’

Misc - December 14th, 2006

Mengenang 80-an


Skinny Jeans, dengerin iPod, ngeblog dan menggunakan kata hubung konjungtif ‘secara’, secara berlebihan. Itu adalah kenistaan kita-kita yang tumbuh di jaman 2000-an. Tapi biarlah itu kita ketawakan 20 tahun lagi. Sekarang adalah giliran kita mentertawakan tahun 80-an.

Masih ingat serial Losmen, covergirl majalah Mode, dan JK Records? Semuanya terangkum di sebuah blog tentang tahun 80-an, yang diberi nama… blog 80-an.

Walaupun dipenuhi berbagai keterbatasan serta propaganda pemerintah, tahun 80-an—kalau dirasa-rasain—kok menyenangkan ya?

Dah ah, mo ke rental video… errrr… mo browsing ke YouTube dulu!

Anecdotes - December 13th, 2006

simPATI vs. Halo Bebas

Sekitar 5 bulan yang lalu, Telkomsel melebarkan lini kartu Halo menjadi empat varian, yaitu Halo Bebas Abonemen, Halo Bebas SMS, Halo Bebas Komunitas dan Halo Bebas Bicara (ini yang paling gres). Variasi produk ini membuat teman saya yang bernama Didit (bukan nama sebenarnya), bingung.

Didit sebelumnya adalah pelanggan Simpati yang terjerat bujuk rayuan saya untuk migrasi ke Halo, tetapi masih bingung memilih paket yang mana. Untuk mencegah Didit bingung lebih lanjut, saya dan rekan-rekan membuat grafik biaya SMS untuk Simpati dan tiga varian Halo Bebas. Hasilnya adalah seperti ini.


Cara melihat grafik ini sederhana, kalau garis grafik di atas grafik lain, berarti paket tersebut lebih mahal. Perhatikan juga dalam paket Halo memang ada sedikit overhead untuk abonemen (atau biaya pemakaian minimal). Untuk Bebas Abonemen sebesar Rp 25 ribu, dan untuk Bebas Bicara dan Bebas SMS Rp 45 ribu.

Nampak penggunaan SMS untuk Simpati relatif lebih tinggi dibanding Halo Bebas SMS dan Bebas Bicara, tetapi lebih murah daripada Halo Bebas Abonemen. Artinya Bebas Abonemen (Rp 350/sms) kita coret sebagai paket yang disarankan.

Bebas SMS sedikit lebih mahal daripada Bebas Bicara, dan biaya telepon Bebas Bicara lebih murah. Oleh karena itu saya menyimpulkan secara sepihak kalau paket Halo Bebas Bicara adalah pilihan yang paling murah bagi pelanggan. Terutama yang sering SMS.

Ada yang menarik di dalam paket Bebas Bicara. Selain karena tarif SMS yang murah (Rp 250/sms) dan biaya percakapan yang miring, perhatikan juga kalau pelanggan dikenakan pajak untuk komunikasi yang benar-benar dia pakai. Kalau tagihan hape anda Rp 200 ribu, ya pajak yang dikenakan Rp 2 ribu. Bandingkan dengan Bebas SMS: anda membayar tagihan Rp 245 ribu, pajak yang anda bayar adalah Rp 2000 (komunikasi) + Rp 450 (abonemen). Rugi kan?

Nah sekarang kembali ke Didit. Pertanyaan besarnya… berapakah pengeluaran Didit selama sebulan setelah migrasi ke Halo Bebas? Ternyata lebih besar daripada ketika masih memakai Simpati. Hehehehe :)

Untuk Didit, mending migrasi ke Halo BebasTagihan aja deh.

Indonesiana - November 25th, 2005

Siapakah model Playboy dari Indonesia yang pertama?

Tiara Lestari? Bukan.

Percaya atau tidak, sejarah keterlibatan Indonesia dengan Playboy sudah dimulai puluhan tahun yang lalu. Adalah Helfi Artistin Katrina (putri sulung dua seniman kondang Jogja: Kartika Affandi dan Saptohoedojo) yang pertama berpose di majalah Playboy pada tahun 1976.

Saya mengetahui hal ini ketika membaca CV milik Bu Helfi Dirix. Saat itu, Bu Helfi sedang menjadi juri lomba menggambar anak-anak dalam sebuah event komik dan animasi di Benteng Vredeburg Jogja. Lucu juga ada tulisan ‘Model Majalah Playboy’ tercampur dengan kegiatan beliau menjadi penari dan pelukis.

Sayang, karena waktu itu saya sibuk mengurusi kepanitiaan, saya tidak dapat bertemu langsung dengan beliau. Tapi, berdasar dari apa yang saya dengar dari teman-teman saya, cucu kesayangan almarhum Affandi ini adalah orang yang mengagumkan.

Saat ini, Bu Helfi tinggal di Hotel Rivercastle, Yogyakarta, yang dikelola bersama suaminya, Dr. Viscount Dirix de Riviere.

Reports - November 9th, 2005

Rajin blogging bisa menyelamatkan nyawa anda

Rajin blogging bisa menyelamatkan nyawa anda. Atau setidaknya dalam kasus Simon Ng, rajin nge-blog membantu menangkap orang yang membunuhnya.

Simon Ng (19)—seorang warga Queens, New York—ditemukan tewas di rumahnya pada hari Kamis, 12 Mei 2005. Kakak perempuannya, Sharon Ng, ditemukan sekarat akibat luka tusukan, dan meninggal satu jam kemudian di rumah sakit. Polisi New York berhasil mengusut pelaku pembunuhannya berkat salah satu entri dalam blog Simon.

Di dalam blognya, Simon menyebutkan si pelaku pembunuhan atas dirinya berada di dalam rumahnya. Beberapa saat kemudian, sang pelaku membunuh Simon Ng. Kakak perempuannya yang pulang beberapa jam kemudian juga langsung digorok oleh si pelaku.

(Source: NY Daily News )

Anecdotes - October 29th, 2005

Hey Jude

Album Hey Jude Beatles

Almarhum kakek pernah berang bukan main dengan paman saya. Hanya gara-gara lagu Beatles berjudul Hey Jude.

Di tahun 1968, saat lagu ini sedang panas-panasnya, paman yang ngefans berat dengan The Beatles menulis ‘Hey Jude’ di dinding kamar mandi. Ketika kakek—yang pengetahuannya tentang musik memang pas-pasan—membaca tulisan tersebut, beliau tersinggung luar biasa karena mengira tulisan tersebut berarti ‘Hai Yahudi’ (Jude terdengar seperti Judaisme, yang berarti Yahudi). Kakek saya yang memang sedikit pelit, merasa bahwa sindiran itu ditujukan kepada beliau. Tapi jangan khawatir, kakek saya orangnya baik dan menyenangkan, dan beliau tidak jadi marah ketika paman saya menjelaskan kalau Hey Jude itu cuma judul lagu.

Akan tetapi, walaupun lagu ini termasuk lagu Beatles yang banyak dikenal masyarakat, tidak banyak yang tahu kalau lagu ini menyimpan sebuah kisah yang indah.

Di tahun 1968, John Lenon yang sudah hidup bersama Yoko Ono, hendak bercerai dengan Cynthia Lennon. Paul McCartney yang prihatin dan bersimpati, terdorong untuk menghibur putera John dan Cynthia, Julian. Dalam sebuah perjalanan menuju rumah mereka, Paul mengarang sebuh lagu yang ditujukan kepada Julian Lennon yang berjudul ‘Hey Jules’.

Hey Jules,
Don’t make it bad
Take a sad song, and make it better

Waktu itu Cynthia Lennon terkejut ketika Paul McCartney mampir ke rumahnya, membawakan setangkai bunga mawar dan bercanda dengan Cynthia. Dia sangat tersentuh akan kepedulian Paul McCartney akan kesejahteraan mereka.

“Saya tidak dapat melupakan perhatian dan kepedulian Paul yang menemani kami saat itu. Tindakannya membuat saya merasa penting dan diperhatikan, dimana saat itu kami merasa dicampakkan dan tidak penting,” ujar Cynthia.

Akhirnya judul lagu tersebut dirubah menjadi ‘Hey Jude’ oleh Paul. Julian justru baru menyadari kalau lagu itu ditujukan untuknya 20 tahun kemudian. Tetapi dia mengakui kalau pada masa itu dia memang lebih dekat kepada Paul daripada ayah kandungnya sendiri.

Lucunya, John Lennon justru mengira kalau lagu tersebut didedikasikan kepada dirinya.

(Source: Wikipedia)

Reviews - September 27th, 2005

Review 8 Pengamen Minggu-Pagi Boulevard UGM

Sarapan Minggu pagi di UGM tidak cuma soal makan Lontong Opor dan Bubur Ayam, pengamen juga bisa menjadi daya tarik (atau daya tolak) tersendiri:

8. Karaoke Ayah-Anak yang lagunya sama terus

Dengan berat hari pasangan pengemen ini terpaksa dimasukkan di urutan terbawah karena walaupun cukup asyik didengar, lagunya sama terus selama berbulan-bulan! Dan satu lagi yang bikin ilfil, si anak pake jam tangan model G-Shock yang bagus. Mas, kalau udah bisa beli jam tangan, nggak usah ngamen mas. Jangan merebut lahan orang lain dong.

7. Mahasiswa agak pendek, keriting, pake kacamata, bawa gitar

Yang ini teman baik saya, namanya An**. Disumbang ya! :) Tapi kalau kebetulan anda tidak bawa receh, anda dapat menolak dengan halus dengan berkata: “Mas-nya temennya Herman ya?”

6. Siteran

Ibu yang mendendangkan langgam Jawa ini melengkapi penampilannya dengan permainan Siter home-made (dibuat dari kawat). Sangat relaxing, kecuali kalau anda tidak suka suara sengau khas sinden dan Pinkan Mambo.

5. Banci Kuncung yang Effortless

Saran saya, hindari pengamen ini sampai anda selesai makan karena dapat menyebabkan muntah-muntah. Ini karena penampilan si banci sangat effortless: singlet biru kumal yang memamerkan tubuhnya yang sepertinya jarang mandi, celana cekak ala Madura, gincu & bedak menor, dan rambut gundul kuncung. Bukannya saya anti transseksual (saya malah pro-transseksual), tapi kalau mas-nya itu banci mbok dandannya niat sedikit gitu.

4. Medley Lucu

Pengamen yang ini sepertinya jarang tampil di Boulevard. Tapi medleynya lucu-lucu.

3. Saxophone Rame-rame

Secara default pengamen ini biasanya memainkan lagu ‘Rame-rame’, yang sebenarnya asyik untuk didengarkan hingga kunjungan kedua anda ke Boulevard. Tapi dia menerima request lagu lain seperti ‘Pergi untuk Kembali’-nya Ello yang bisa membuat Minggu pagi di UGM menjadi sangat mellow.

2. Jathilan Keliling

Selain menghibur dengan beat musik kendang yang khas, para performer yang berdandan warna-warni gaya Jawa Timuran (lengkap dengan muka diputihkan) sangat ramah dan murah senyum. Sedikit memberi visualisasi suasana clubbing tempo doeloe.

1. Mas gundul yang soul-nya dapet banget

Diantara sekian banyak pengamen, Mas gundul bontot bercelana pendek ini paling menghibur karena dia sangat menghayati lagu yang sedang dinyanyikan. Misalnya kalau dia menyanyikan lagu sedih maka dia akan sangat menghayati lagu tersebut hingga nyaris menangis. Tapi ketika berganti ke lagu mars (seperti lagu wajib ‘17 Agustus’) dia akan sangat bersemangat sampai menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.

Semoga bermanfaat