<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hermansaksono &#187; society</title>
	<atom:link href="http://hermansaksono.com/tag/society/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hermansaksono.com</link>
	<description>Patternless thoughts, pointless wisdom</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 02:06:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Guest Blogger: Liang Kubur Orang Individualis</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2011/07/liang-kubur-orang-individualis.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2011/07/liang-kubur-orang-individualis.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 11:13:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[guest blogger]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1549</guid>
		<description><![CDATA[Pembantu rumah bertanya: kalau hubungan dengan tetangga kurang akrab, nanti kalau meninggal siapa yang menggali liang kubur?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Spesial hari ini, ada guest blogger yang mengisi blog ini. Perkenalkan Noor Rahmani, ibu saya, yang menulis soal individualis. :D</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pagi ini sambil menyapu, Si Mbak pembantu rumah ngobrol dengan saya. Dia bertanya, kalau hubungan dengan tetangga kurang akrab, nanti kalau meninggal siapa yang menggali liang kubur?</p>
<p>Saya jawab: kita bayar orang.</p>
<p>&#8220;Oooo.. kalau di desa saya, tetangga desalah yang menggali,&#8221; jawab si Mbak.</p>
<p>Dalam hati saya geli, membayangkan tetangga RT saya Pak Bambang Sudibyo, dr. Sunarto, Pak Zaki Baridwan dan Pak Samsubar menggali liang kubur saya.</p>
<p>Kemudian si Mbak bertanya lagi: &#8220;Kalau tidak dekat dengan tetangga, siapa yang layat?&#8221;</p>
<p>Dalam masyarakat kolektif, kehidupan sangat tergantung pada pertolongan dan bantuan dari orang2 yang tinggal disekeliling kita, yaitu tetangga. Bagaimana dengan masyarakat individualis? Orang sering salah persepsi, mengatakan bahwa masyarakat individualis itu asosial.</p>
<p>Bagaimana mungkin? Bukankah manusia itu makhluk sosial?</p>
<p>Sebenarnya tidak ada perbedaan antara masyarakat individualis dengan masyarakat kolektif, tetap sama2 makhluk sosial. Hanya bedanya, pada masyarakat  kolektif, hubungan sosial <em>default</em> dengan tetangga.</p>
<p>Kondisi ini berasal dari kehidupan jaman dahulu, ketika manusia masih hidup di tengah hutan yang penuh dengan mara bahaya. Manusia harus bersatu agar bisa selamat bahu membahu menghadapi kekerasan alam. Mereka menciptakan norma-norma bermasyarakat dalam suku, yang harus dipatuhi agar suku menjadi solid dan kuat menghadapi mara bahaya. Hubungan baik, kedekatan dan interaksi intensif harus dilakukan oleh anggota suku untuk memaintain eksistensinya di dalam suku. Kalau melanggar norma-norma suku, seseorang bisa dibenci dan dibuang dari suku, ujung-ujungnya harus hidup sendiri berhadapan dengan singa, ular, dan marabahaya alam lainnya.</p>
<p>Semakin maju suatu masyarakat, terjadi pembagian tugas. Ada yang bercocok tanam, ada yang menjaga keamanan yang diberi bagian dari hasil bercocok tanam. Muncullah tata kehidupan baru yakni membayar pajak dan mendapat fasilitas keamanan dan kenyamanan. Kita tidak perlu bersatu lagi menghadapi mara bahaya. Kita sudah membayar pajak untuk menggaji polisi dan tentara guna mengamankan lingkungan kita.</p>
<p>Kemajuan teknologi sangat besar pengaruhnya pada interaksi sosial.</p>
<p>Ketika kita punya kendaraan, kita bisa berteman dengan mereka yang ada dalam jangkauan kendaraan kita. Munculnya layanan transportasi umum semakin mendekatkan kita dengan sahabat-sahabat yang jauh. HP dan internet, lebih-lebih lagi. Bisa terjadi sambil nongkrong di toilet, kita bisa ngobrol dengan teman yang lagi sekolah di Inggris. :)</p>
<p>Di sinilah bedanya, masyarakat kolektif tidak bisa memilih komunitas mereka sesuai dengan keinginan mereka. <em>Mau tidak mau</em>, ya hanya tetangga kita. Masyarakat individualis tetap bergaul dan bermasyarakat, tapi kita bisa memilih sendiri komunitas kita.</p>
<p>Jadi bapak ibu tidak usah merasa rikuh kalau tidak akrab dengan tetangga, karena teman-teman kita tersebar baik di kantor, milis teman alumni kuliah, BBM Group alumni SMA, alumni SMP, alumni SD, kelompok diskusi penggemar tas, penggemar kucing, grup keluarga, grup keluarga mertua, dlsb dlsb.</p>
<p>Kalau meninggal, siapa yang layat? Yah kalau Bapak Ibu populer dan baik perilakunya dalam kelompok-kelompok yang bapak ibu ikuti, bisa saja pelayat membludag dan membuat tetangga melongo.</p>
<p>Jangan merasa bersalah jika bapak ibu individualis, karena kolektif-individualis itu bukan dikotomi tapi kontinum. Semua masyarakat, akibat kemajuan sosial dan teknologi, pada akhirnya akan menjadi individualis, <em>sooner</em> or later :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2011/07/liang-kubur-orang-individualis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penipuan Dengan Kapal Api</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2010/08/penipuan-dengan-kapal-api.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2010/08/penipuan-dengan-kapal-api.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 04:57:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1219</guid>
		<description><![CDATA[Pagi-pagi Mbak Ami, PRT keluarga saya heboh. Wajahnya berbinar-binar ketika menunjukkan selipat kupon dari bungkus kopi Kapal Api. Ia telah memenangkan sebuah mobil Mazda.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2010/08/penipuan_berkedok_kapal_api.jpg"><img class="size-full wp-image-1220 aligncenter" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2010/08/penipuan_berkedok_kapal_api.jpg" alt="Penipuan berkedok Kapal Api" width="300" height="411" /></a></p>
<p>Pagi-pagi Mbak Ami, PRT keluarga saya heboh. Wajahnya berbinar-binar sambil menunjukkan selipat kupon dari bungkus kopi Kapal Api. Tertulis kalau ia memenangkan satu buah mobil Mazda.</p>
<p>Kupon itu dicetak menggunakan printer <em>inkjet</em>, kelihatan dari tinta yang tidak rata. Juga tertulis kalau pemenang harus membayar pajak hadiah sebesar 20%. Sukar mengakui kalau itu bukan penipuan. Tetapi siapapun yang melihat keriangan Mbak Ami menceritakan kemenangannya, pasti tidak punya hati untuk mengatakan yang sebenarnya. Kita cuma bisa mewanti-wanti kalau itu bisa saja cuma penipuan.<span id="more-1219"></span></p>
<p>Kita mencoba menelpon hotline Kapal Api seperti yang tertera dalam websitenya, tetapi tidak diangkat. Akhirnya Mbak Ami menelpon nomor yang tertera di kupon. Di nomor itu, suara laki-laki kami dengar senyap-senyap. Ia minta didikte nomer PIN yang tertera di kupon itu, dan setelah dicek di komputernya, laki-laki itu mengucapkan selamat kepada Mbak Ami. Ibu dua anak itu memenangkan sebuah mobil Mazda. Begitu katanya.</p>
<p>Selanjutnya laki-laki itu menjelaskan bahwa hadiah akan dikirimkan ke rumah, tetapi Mbak Ami harus mentransfer uang jaminan sebesar 4,75 juta. Ini tidak dapat dinegosiasi, jaminan tidak bisa dibayarkan setelah mobil itu sampai. Ia meminta uang 4,75 juta itu ditransfer ke rekening rahasia Kapolri di Bank Mandiri dengan nomor rekening 127 000 561 666 7, atas nama Taufik Hidayat, SE. Laki-laki itu merapal &#8220;aturannya&#8221; dengan ketukan-ketukan tetap. Agak intimidatif memang.</p>
<p>Bagi saya, persyaratan itu jelas tidak masuk akal. Tapi bagi mbak Ami hadiah ini adalah berkah. Jika mobil hadiah itu dijual, ia bisa segera menyelesaikan kredit motor dan angsuran tanah. Pendapatannya bisa dialokasikan untuk selain membayar kredit. Di keluarga kami, Mbak Ami adalah simbol <em>working class</em> yang wajib menjadi panutan. Bersama suaminya yang tiap malam berjualan mie gerobak, ia menaikkan kesejahteraan keluarganya. Di desanya, ia sudah punya rumah gedong, dan sepetak sawah. Puteranya sekarang sekolah di SMP yang cukup bagus di Jogja.</p>
<p>Penipuan selalu menyakitkan. Dan sangat melukai mereka yang berusaha dengan bekerja. Kita yang tiap hari dihujami spam dan email <em>money laundering</em> dari Rwanda, mungkin langsung tahu kalau itu penipuan. Tapi bagi Mbak Ami, itu adalah harapan. Harapan yang kemudian kosong.</p>
<p>Siang harinya, orang rumah berhasil mendapatkan nomor telepon hotline Kapal Api yang lain. Operatornya menjelaskan bahwa kupon itu memang penipuan. Kapal Api tidak akan memungut uang dari pemenang (jawaban serupa dari <a href="http://twitter.com/KapalApi_Coffee/status/20948741725">Twitter Kopi Kapal Api</a>).</p>
<p>Saya tidak tahu bagaimana Mbak Ami ketika mengetahuinya. Mungkin dia juga tidak apa-apa. Esok paginya saya bertemu dengannya, ia tetap ceria seperti biasanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2010/08/penipuan-dengan-kapal-api.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemblokiran Situs Porno</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2010/08/pemblokiran-situs-porno.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2010/08/pemblokiran-situs-porno.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 02:59:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[politics]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1217</guid>
		<description><![CDATA[Pemblokiran situs pornografi cuma gejala dari masyarakat yang mencampur-campur ruang publik dan ruang pribadi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2010/08/jumperskominfo285.jpg"><img class="size-full wp-image-1218 alignright" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2010/08/jumperskominfo285.jpg" alt="Jumpa Pers Kominfo Pemblokiran" width="285" height="214" /></a>Mulai kemarin hari, beberapa ISP telah <a href="http://www.detikinet.com/read/2010/08/10/174539/1417633/398/operator-mulai-blokir-pornografi-internet">memblokir</a> situs-situs porno. Bulan Ramadan memang bulan yang tepat bagi pemerintah untuk melakukan sesuatu yang kontroversial, karena secara otomatis rakyat menahan diri untuk tidak bikin ribut. (Tapi sebetulnya kita bisa kan berdiskusi dan protes tanpa menjadi panas?)</p>
<p>Tapi apa mau dikata, masyarakat kita masih tergolong paguyuban, dalam artian &#8220;Masalahmu adalah masalah kami, dan masalah kami adalah masalahmu&#8221;. Maka saya tidak heran jika pendukung pemblokiran pornografi memakai argumen bahwa <a href="http://virtual.co.id/blog/online-behavior/mereka-setuju-blokir-situs-porno/">pornografi merusak anak-anak.</a></p>
<p>Argumen ini benar, tetapi tidak utuh.<span id="more-1217"></span></p>
<p>Bahwa pornografi tidak boleh diakses yang belum cukup umur, memang benar. Bahwa pornografi anak-anak adalah pidana, itu juga benar. Yang sering tidak disadari adalah: membatasi pornografi dari anak-anak tidak sama dengan membatasi pornografi dari semua orang. Pola pikir semacam ini tergolong cacat dan cekak. Cacat karena membunuh lalat memakai meriam, dan cekak karena tidak menghormati orang dewasa.</p>
<p>Bagi saya ini memprihatinkan, walaupun argumen seperti ini berasal dari kalangan yang tergolong moderat. Dari kalangan ekstrim, argumentasinya lebih mengerikan: &#8220;saya tidak mau kamu berbuat dosa&#8221;. Pemikiran semacam itu—semestinya—tidak punya tempat di Republik ini, walaupun faktanya iya. Negara kita memang menjunjung tinggi Agama, dan melindungi hak umatnya untuk beribadah (dalam prakteknya tidak demikian sih). Akan tetapi, negara tidak pernah diberi kedaulatan untuk melarang tindakan yang tidak menganggu publik.</p>
<p>Masyarakat memang perlu dilatih membedakan urusan di ruang publik dan di ruang pribadi. Mengakses pornografi di rumah sendiri adalah pribadi, tidak salah selama sudah cukup umur. Lari-lari telanjang di jalan itu salah, karena menganggu publik. Sebagai masyarakat paguyuban, kita masih sering bingung dan mencampur-campur keduanya, walaupun dua itu sebetulnya sudah cukup jelas.</p>
<p>Tapi tentu saja selalu ada yang mengungkit efek-efek samping dari apa yang diduga akibat pornografi, seperti misalnya pemerkosaan dan bayi dibuang. Kekhawatiran pemerkosaan meningkat tentu saja adalah kekhawatiran yang basi, karena berbagai negara tidak mengalami kenaikan (ataupun penurunan) tingkat kejahatan seksual setelah pornografi dilegalkan. Kasus bayi dibuang, sebetulnya ini adalah kesalahan masyarakat yang cenderung menghakimi negatif kehamilan di luar nikah. Memprihatinkan memang, karena kehamilan di luar nikah memang selalu ada dan masyarakat justru mempersulit mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk itu. Sekali lagi, ini karena kita masih menganut &#8220;masalahmu adalah masalah kami&#8221;.</p>
<p>Yang jelas, dengan meningkatnya ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan—kita akan semakin toleran terhadap perbedaan dan menghargai ruang pribadi DAN ruang publik. Tentu saja faham &#8220;your problem is our problem&#8221; tidak akan pernah hilang, tetapi mereka akan menjadi minoritas.</p>
<p>Jadi sebetulnya masalah besar masyarakat kita adalah kebiasaan mencampur-campur ruang pribadi dengan publik. Isu besarnya itu. Pemblokiran pornografi cuma salah satu efeknya. Walaupun ini adalah masalah ideologis yang serius, tetapi pemblokiran bukanlah kiamat. Itu cuma masalah yang tidak penting. Jadi kenapa Menkominfo <a href="http://hermansaksono.com/2010/06/tifatul-sembiring-and-mirip-isayesus.html">Tifatul Sembiring</a> mengurusi masalah tidak penting?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2010/08/pemblokiran-situs-porno.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lomba Menggambar Nabi Muhammad Sekaligus Mempermainkan Umat Islam</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2010/05/lomba-menggambar-nabi-muhammad-sekaligus-mempermainkan-umat-islam.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2010/05/lomba-menggambar-nabi-muhammad-sekaligus-mempermainkan-umat-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 04:07:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1136</guid>
		<description><![CDATA[Lomba Menggambar Muhammad memang seperti berniat mempermainkan umat Islam. Tetapi tujuan mempermainkan benar-benar tercapai setelah KAMMI bereaksi ekstrim menanggapinya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lengkap sudah upaya mengolok-olok umat Islam ketika <a href="http://www.detiknews.com/read/2010/05/19/061434/1359652/10/kammi-desak-pemerintah-blokir-akses-facebook">KAMMI</a> menuntut pemerintah mencekal event <em>blasphemy</em> di Facebook. Judul  event-nya memang seperti berniat mempermainkan umat islam: &#8220;Everybody  Draw Mohammed Day&#8221;, tetapi tujuan mempermainkan benar-benar tercapai  setelah umat Islam bereaksi ekstrim menanggapinya. Ketika pemangsa  memasang umpan jebakan, kita tidak malah menyantapnya bukan?</p>
<p>Yang terjadi justru KAMMI melahap umpan itu bulat-bulat. Saya  berusaha maklum karena M pertama di &#8220;KAMMI&#8221; berarti &#8220;mahasiswa&#8221;, dan mahasiswa  memang mentalnya belum stabil. Tetapi jika M itu melekat di M pada <a href="http://www.detiknews.com/read/2010/05/19/094849/1359754/10/mui-minta-pemerintah-cekal-grup-facebook-kartun-nabi?881103605">MUI</a>,  maka saya serba salah kalau mau menempelkan &#8220;labil&#8221; di sebelah majelis  yang terhormat itu.</p>
<p>Bagi saya ini bukan medan pertempuran yang  musti dihajar dengan tangan besi. Ini adalah pertempuran opini meraih  simpati dan kepercayaan masyarakat Internasional, karena faktanya sudah  mulai muncul generalisasi bahwa umat Islam adalah umat yang harus  diperlakukan seperti balita. Dalam pertempuran sepert ini, kemenangan  yang sebenarnya adalah ketika umat kita meraih kepercayaan penduduk  dunia sebagai umat yang memeluk kebaikan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2010/05/lomba-menggambar-nabi-muhammad-sekaligus-mempermainkan-umat-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Es Teh Tawar Dua</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2010/04/es-teh-tawar-dua.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2010/04/es-teh-tawar-dua.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 05:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1109</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu cara memperoleh kenyang tanpa menimbun nasi di piring adalah minum yang banyak. Saya, kalau makan, biasanya lebih banyak minumnya daripada makannya. Bukankah banyak minum es bikin gemuk? Ah siapa bilang. Yang bener minum es yang diberi gula itu bikin gemuk. Penggemuk ada di kimiawi gula (yak, bahkan gula itu termasuk kimia), bukan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2010/04/es-teh-for-the-soul.jpg"><img class="size-medium  wp-image-1110 aligncenter" title="Es Teh Tawar" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2010/04/es-teh-for-the-soul-333x500.jpg" alt="" width="333" height="500" /></a></p>
<p>Salah satu cara memperoleh kenyang tanpa menimbun nasi di piring adalah minum yang banyak. Saya, kalau makan, biasanya lebih banyak minumnya daripada makannya. Bukankah banyak minum es bikin gemuk? Ah siapa bilang. Yang bener minum es yang diberi gula itu bikin gemuk. Penggemuk ada di kimiawi gula (yak, bahkan gula itu termasuk kimia), bukan di suhu.</p>
<p>Tapi tentu ada orang-orang yang merasa tidak nyaman melihat saya banyak minum. Ekspresi yang paling wajar itu kaget sambil teriak &#8220;Dua Mon?&#8221;. Nah untuk ini saya sudah punya jawaban yang manjur: &#8220;Mampu kok&#8221;, tentu dengan memasang ekspresi kalem. Biasanya manjur, mereka yang reseh itu langsung <em>gondok</em>.</p>
<p>Belakangan ungkapan &#8220;mampu kok&#8221; jadi populer di CahAndong untuk menunjukkan kejumawaan dalam kebercandaan. Padahal aslinya ungkapan itu untuk membuat orang reseh lekas diam.</p>
<p>Tetapi hobi minum banyak ini lebih sering membawa mudharat. Kemarin lusa di Nanamia, gara-gara pesan Aqua dua, pelayannya lupa tidak membikinkan Strawberry Lassi. Lantaran di meja sudah ada dua minuman, pelayannya berasumsi kalau pesanan sudah lengkap jika jumlah gelas di meja sama dengan jumlah orang yang duduk di meja itu.</p>
<p>Dan kemarin ke Nanamia lagi, hal yang serupa terulang lagi. Betul, saya jadi meragukan maksud dan tujuan menulis pesanan di kertas.</p>
<p>Yang paling menyebalkan tentu saja hari ini di kantin Perpustakaan UGM (jika tidak begitu menyebalkan, tentu saya tidak akan menulisnya di sini bukan?). Di kantin itu, sudah lumrah saya pesan &#8220;soto tanpa nasi ples es teh tawar dua&#8221;. Tentu saja pesanan itu sempat membuat ibu-ibu pengelola kantin tertegun, tapi setelah makan di sana berbulan-bulan mereka mulai agak terbiasa.</p>
<p>Hari ini nyaris sempurna. Tidak ada lagi tatapan aneh ketika memesan &#8220;soto tanpa nasi dengan es teh tawar dua&#8221;. Sotopun terasa segar dan gurih. Tak lama kemudian &#8220;es teh tawar dua&#8221; saya mendarat di dekat mangkuk soto yang gurih itu. Dan—dengan inosennya—orang yang duduk di sebelah saya mengambil satu dari dua gelas es teh tawar itu. Dan langsung menyeruputnya. Dan langsung celingukan mengeluarkan ekspresi aneh.</p>
<p>&#8220;Tawar ya mas? Itu punya saya,&#8221; saya bilang.</p>
<p>Saya belajar banyak hari ini. Lain kali saya pesan &#8220;es teh tawar tiga&#8221;. Mampu kok.</p>
<p>Foto dari <a href="http://looneydani.blogspot.com/2009/10/makanan-oh-makanan.html">Swastika Rahmadani</a>.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2010/04/es-teh-tawar-dua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukti Bahwa Langsing ala Disney Adalah Mustahil</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2010/04/sleeping-beauty-versi-film-vs-disneyland.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2010/04/sleeping-beauty-versi-film-vs-disneyland.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 00:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1108</guid>
		<description><![CDATA[Bahkan versi Disneyland tidak bisa selangsing di film.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2010/04/sleeping-beauty-gemuk.jpg"><img class="size-medium wp-image-1107 aligncenter" title="sleeping-beauty-gemuk" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2010/04/sleeping-beauty-gemuk-440x291.jpg" alt="" width="440" height="291" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Bahkan versi Disneyland tidak bisa selangsing di film.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2010/04/sleeping-beauty-versi-film-vs-disneyland.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Kartini</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2010/04/selamat-hari-kartini.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2010/04/selamat-hari-kartini.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 07:19:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2010/04/selamat-hari-kartini.html</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2010/04/poligame5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1102" title="Keadilan &amp; Kesetaraan Gender BULLSHIT" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2010/04/poligame5.jpg" alt="" width="342" height="425" /></a>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2010/04/selamat-hari-kartini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Kawin?</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2009/12/kapan-kawin.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2009/12/kapan-kawin.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 03:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2009/12/kapan-kawin.html</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2009/12/kapan_kawin-380x195.gif" alt="kapan_kawin" title="kapan_kawin" width="380" height="195" class="aligncenter size-medium wp-image-932" />  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2009/12/kapan-kawin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Konspirasi</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/11/teori-konspirasi.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/11/teori-konspirasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 04:28:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Kecantikan angin puting beliung di UGM hari Jum’at lalu berbiaya mahal. Cabikannya pada kompleks UGM menelan kerugian hingga 12 Milyar Rupiah. Itu belum termasuk kerugian pengusaha-pengusaha kecil yang gerobak dan dagangannya ikut rusak terkoyak angin. Mereka harus kembali merogoh saku untuk memodali kerusakan-kerusakan itu. Civitas akademika juga harus mengalah, kegiatan akademik dan fasilitas pendukung harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2008/11/marionette.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-600" title="marionette" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2008/11/marionette.gif" alt="" width="366" height="467" /></a>Kecantikan <a href="http://hermansaksono.com/2008/11/puting-beliung-ugm.html">angin puting beliung di UGM</a> hari Jum’at lalu berbiaya mahal. Cabikannya pada kompleks UGM menelan kerugian hingga <a href="http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&amp;artikel=1612">12 Milyar Rupiah</a>. Itu belum termasuk kerugian pengusaha-pengusaha kecil yang gerobak dan dagangannya ikut rusak terkoyak angin. Mereka harus kembali merogoh saku untuk memodali kerusakan-kerusakan itu. Civitas akademika juga harus mengalah, kegiatan akademik dan fasilitas pendukung harus tertunda untuk sementara.</p>
<p>Bencana kemarin lantas dikaitkan dengan UGM yang dibilang sudah tidak merakyat lagi, dikaitkan dengan SPP UGM yang terlalu mahal, dan dikaitkan dengan sengketa tanah dengan UGM. Takhayul atau bukan, mengkaitkan satu kejadian dengan kejadian lain itu memang bakat manusia. Tapi harus hati-hati: kesimpulan salah yang dikoarkan berulang-ulang bisa [dikira] benar.</p>
<p>Kalangan intelektualpun sebetulnya juga sering bertukar takhayul. Mereka menyebutnya teori konspirasi. Topiknya bukan alam, tapi kejadian-kejadian di sekeliling kita. Boleh soal FPI, Menteri, SBY, dll. Tapi itu tidak salah: menganalisis itu tidak salah dan tidak pernah salah. Yang bikin salah adalah jika sumber informasinya sumir dan abal-abal. Ini jenis informasi yang jika ditanya: “Kok nggak masuk media?”, akan dijawab dengan: “Media juga ikut berkonspirasi!”</p>
<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2008/11/marionette2.gif"><img class="alignright size-full wp-image-601" title="marionette2" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2008/11/marionette2.gif" alt="" width="146" height="293" /></a>Nah kalau gini kan berabe, bagaimana informasi itu bisa dipercaya, kalau sumber informasinya tidak ada? Akan teteapi, tetap saja teori-teori itu menjadi obrolan yang asyik untuk menemani seruputan kopi atau teh anget.</p>
<p>Lalu kenapa kita begitu menikmati teori konspirasi? Mengapa sebuah obrolan intelekpun harus dilengkapi dengan bumbu-bumbu teori konspirasi? Jawabannya adalah, teori konspirasi memberikan logika kenapa kita tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan kita. Teori ini melimpahkan kegagalan kita kepada orang lain, atau kekuatan lain. Teori konspirasi, dengan enteng, membebaskan kita dari tanggung jawab.</p>
<p>Lagi-lagi ini tidak salah. Tapi kalau kita salah mengidentifikasi penyebab sebuah permasalahan, dipastikan kita tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan itu.
<p>&nbsp;</p>
<p class="seealso">Menurut staf pengajar Fakultas Geografi UGM, Dr. Sudibyakto, angin puting beliung tersebut <a href="http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&amp;artikel=1614">disebabkan oleh</a> perbedaan suhu udara akibat penggunaan lahan dan polusi udara.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/11/teori-konspirasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaya Kompas Mengobarkan Permusuhan</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/10/gaya-kompas-mengobarkan-permusuhan.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/10/gaya-kompas-mengobarkan-permusuhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 04:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=583</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah tulisan menarik di blog ini. Setahu saya, semua media massa cenderung leaning. Kompas leaning. Republika leaning. Koran Tempo leaning. Detik leaning. Walaupun begitu, kritik di blog itu pasti akan bermanfaat bagi Kompas dan mereka harus menerimanya dengan lapang dada. Andai saja ada yang mau mengkritik media massa yang lain. Bagaimanapun juga, lebih mudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada sebuah tulisan menarik <a href="http://khabarislam.wordpress.com/2008/10/04/gaya-kompas-mengobarkan-permusuhan/">di blog ini</a>.</p>
<p>Setahu saya, semua media massa cenderung leaning. Kompas leaning. Republika leaning. Koran Tempo leaning. Detik leaning. Walaupun begitu, kritik di blog itu pasti akan bermanfaat bagi Kompas dan mereka harus menerimanya dengan lapang dada. Andai saja ada yang mau mengkritik media massa yang lain. Bagaimanapun juga, lebih mudah mengkritik Kompas, karena kita tidak akan dicap tak ber-Tuhan.</p>
<p>Satu hal, seandainya Kompas memang tidak berimbang, maka tidak berarti apa yang ditulis Kompas salah.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/10/gaya-kompas-mengobarkan-permusuhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>52</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

