Indonesiana - April 21st, 2010
Posts Tagged ‘society’
Opinion - November 12th, 2008
Teori Konspirasi
Kecantikan angin puting beliung di UGM hari Jum’at lalu berbiaya mahal. Cabikannya pada kompleks UGM menelan kerugian hingga 12 Milyar Rupiah. Itu belum termasuk kerugian pengusaha-pengusaha kecil yang gerobak dan dagangannya ikut rusak terkoyak angin. Mereka harus kembali merogoh saku untuk memodali kerusakan-kerusakan itu. Civitas akademika juga harus mengalah, kegiatan akademik dan fasilitas pendukung harus tertunda untuk sementara.
Bencana kemarin lantas dikaitkan dengan UGM yang dibilang sudah tidak merakyat lagi, dikaitkan dengan SPP UGM yang terlalu mahal, dan dikaitkan dengan sengketa tanah dengan UGM. Takhayul atau bukan, mengkaitkan satu kejadian dengan kejadian lain itu memang bakat manusia. Tapi harus hati-hati: kesimpulan salah yang dikoarkan berulang-ulang bisa [dikira] benar.
Kalangan intelektualpun sebetulnya juga sering bertukar takhayul. Mereka menyebutnya teori konspirasi. Topiknya bukan alam, tapi kejadian-kejadian di sekeliling kita. Boleh soal FPI, Menteri, SBY, dll. Tapi itu tidak salah: menganalisis itu tidak salah dan tidak pernah salah. Yang bikin salah adalah jika sumber informasinya sumir dan abal-abal. Ini jenis informasi yang jika ditanya: “Kok nggak masuk media?”, akan dijawab dengan: “Media juga ikut berkonspirasi!”
Nah kalau gini kan berabe, bagaimana informasi itu bisa dipercaya, kalau sumber informasinya tidak ada? Akan teteapi, tetap saja teori-teori itu menjadi obrolan yang asyik untuk menemani seruputan kopi atau teh anget.
Lalu kenapa kita begitu menikmati teori konspirasi? Mengapa sebuah obrolan intelekpun harus dilengkapi dengan bumbu-bumbu teori konspirasi? Jawabannya adalah, teori konspirasi memberikan logika kenapa kita tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan kita. Teori ini melimpahkan kegagalan kita kepada orang lain, atau kekuatan lain. Teori konspirasi, dengan enteng, membebaskan kita dari tanggung jawab.
Lagi-lagi ini tidak salah. Tapi kalau kita salah mengidentifikasi penyebab sebuah permasalahan, dipastikan kita tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan itu.
Menurut staf pengajar Fakultas Geografi UGM, Dr. Sudibyakto, angin puting beliung tersebut disebabkan oleh perbedaan suhu udara akibat penggunaan lahan dan polusi udara.
Opinion - October 7th, 2008
Gaya Kompas Mengobarkan Permusuhan
Ada sebuah tulisan menarik di blog ini.
Setahu saya, semua media massa cenderung leaning. Kompas leaning. Republika leaning. Koran Tempo leaning. Detik leaning. Walaupun begitu, kritik di blog itu pasti akan bermanfaat bagi Kompas dan mereka harus menerimanya dengan lapang dada. Andai saja ada yang mau mengkritik media massa yang lain. Bagaimanapun juga, lebih mudah mengkritik Kompas, karena kita tidak akan dicap tak ber-Tuhan.
Satu hal, seandainya Kompas memang tidak berimbang, maka tidak berarti apa yang ditulis Kompas salah.
Politik - September 15th, 2008
Undang-Undang Anti Pornografi Lagi
Awal September ini DPR akan melanjutkan pembahasan RUU Antipornografi. Dimotori oleh PKS, RUU ini mengusung nama baru (tanpa ditempeli ‘Pornoaksi’) serta mengeliminasi pasal-pasal tentang pornoaksi. Di lain sisi, RUU ini masih membatasi secara penuh peredaran media porno, termasuk untuk kesenian, tanpa usaha untuk memberi batasan spesifik mana yang porno dan mana yang tidak porno.
Ketidakpastian ini yang dikhawatirkan membuka masalah baru. Tarian tradisional kita misalnya, itu bisa porno dan bisa tidak porno. Sebuah foto di majalah busana bisa porno dan tidak porno. Tanpa batasan yang jelas, sebuah novel bisa porno hari ini, dan bisa tidak porno besoknya.
Saya yakin kalau kita sepakat tidak ingin ada orang menari telanjang di jalan. Kita juga sepakat kalau majalah porno tidak boleh dikonsumsi oleh mereka yang di bawah umur. Tapi saya tidak sepakat kalau pemerintah menjadi otoriter dengan menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilihat oleh rakyatnya yang sudah dewasa.
Akan tetapi saya masih yakin kalau pemerintah kita bukan lembaga otoriter, melainkan lembaga penyelaras untuk memenuhi semua aspek kehidupan rakyatnya. Hal-hal seperti moral dan kepatutan harus dikembalikan pada kearifan tiap individu. Jika tidak, maka pemerintah telah merintis langkah menuju totalitarian.
Politik - September 12th, 2008
Lipstick dan Babi
Dalam sebuah pidatonya, Obama berkelakar kalau siapapun bisa merias babi dengan lipstik, tapi babi itu tetap saja babi. Komentar ini terlontar tak lama setelah lawan politik Obama, John McCain, menyampaikan pidato yang menjanjikan perubahan politik di Washington. McCain yang selama ini mengusung tema lain, tiba-tiba mengangkat isu perubahan yang selama ini menjadi inti kampanye Obama.
“You can put lipstick on a pig. It’s still a pig!”
—Barack Obama, Capres Partai Demokrat AS
Tak lama setelah rekaman video soal babi beredar, kubu McCain menuntut agar Obama minta maaf kepada cawapres McCain, Sarah Palin, karena pernyataan itu dinilai merendahkan wanita demi membalas pidato Palin. Sarah memang pernah berkelakar kalau perbedaan ibu agresif (seperti dirinya) dan anjing galak hanyalah lipstick.
“You know the difference between a hockey mom and a pitbull? Lipstick!”
—Sarah Palin, Cawapres Partai Republikan AS
Ungkapan ‘you can put a lipstick on a pig’ sebetulnya cukup lumrah di AS. Bahkan McCain sendiri pernah menyerang bakal capres Demokrat, Hillary Clinton, dengan ungkapan tersebut. Melengkapi ironi babi dan lipstick ini, puteri McCain justru berkata kalau ayahnya juga pernah mengucapkannya. Jadi kenapa ribut? Mungkin karena pemungutan suara tinggal 50 hari lagi.

