hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

FallacyIndonesiana - May 12th, 2010

Boneka Jerami Bernama Neolib

Hari ini, setahun yang lalu, SBY mengumumkan Boediono sebagai pasangan wapresnya untuk Pilpres 2009. Esok hari, juga tepat setahun yang lalu, Boediono akan diserang dengan tudingan agen neolib. Setahun setelah neolib menjadi istilah yang jamak di perpolitikan, kita musti bertanya apakan diskusi selama ini dapat diterima oleh akal logika.

Walaupun menelisik politikus secara kritis itu wajib, tetapi bersikap kritis membutuhkan logika akal yang runtun. Apa yang terjadi pada umumnya adalah lawan politik menempelkan label “neolib” ke Boediono, lalu menghajar neolib habis-habisan, tanpa benar-benar kritis melihat apakah Boediono mempraktikkan motif neolib.

Sesat pikir ini disebut dengan “straw man fallacy“, atau kesesatan boneka jerami. Modus operandinya adalah dengan membuat pernyataan boneka jerami (biasanya berupa sesuatu yang mirip atau terkait), lalu menyerang pernyataan tersebut. Karena boneka jerami itu lebih mudah dikalahkan maka tercipta ilusi bahwa lawan debat sudah terkalahkan.

Susunan serangan “boneka jerami” adalah berupa logika seperti ini:

  1. Dinyatakan bahwa A adalah X
  2. Jika sesuatu adalah X, maka buruk
  3. Kesimpulan: A itu buruk

Kesesatan dimulai tepat pada loncatan logika dalam premis 1. Apakah benar A memang X? Jangan-jangan A bukan X. Tetapi fokus diskusi biasanya teralihkan pada premis 2 apakah X itu buruk atau baik. Karena mahzab ekonomi tidak pernah hitam putih, maka tercipta kesimpulan bahwa X adalah sesuatu yang kontroversial, dengan kata lain A adalah sesuatu yang kontroversial.

Padahal bisa juga kita lebih kritis melihat apakah kebijakan-kebijakan Boediono bermotifkan neoliberalisme. BLBI misalnya, apakah benar “bailout” BLBI sejalan dengan gagasan ekonomi liberal dimana negara mendorong ekonomi pasar bebas. Atau divestasi Indosat, apakah benar bermotifkan mendivestasi aset negara? Diskusi seperti ini relevan dan menyehatkan, tapi nyaris tidak terjadi. Mungkin karena para politikus tahu benar bahwa diskusi yang terlampau kompleks akhirnya tidak menarik perhatian masyarakat.

5 Comments


Leave a Reply