hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Reviews - July 12th, 2010

Despicable Me

Gru bercita-cita menjadi maling yang mahsyur. Kesuksesannya mencuri layar LED di Times Square menjadi remeh ketika seorang maling kemarin sore sukses mencuri Piramida Giza. Gru (Steve Carell) yang mulai tidak relevan di kalangan maling, berencana merebut predikat maling nomer satu dengan mencuri bulan. Rencana jahat itu nyaris gagal ketika mesin penyusut massa Gru direbut oleh maling muda dan mutakhir bernama Vector. Setelah semua usaha merebut kembali mesin itu tidak membuahkan hasil, Gru memanfaatkan tiga anak yatim untuk menyusup masuk ke markas Vector.

Film ini digarap oleh Chris Meledandri, sineas jebolan Fox Animation. Dengan seransel pengalaman semasa produksi Ice Age dan The Simpsons, pada tahun 2007 Meledandri hengkang dari Fox untuk mendirikan studio animasi Illumination dengan film perdana “Despicable Me”.

Maka sebetulnya membandingkan animasi Despicable Me dengan Toy Story 3 atau How to Train Your Dragon tidak bisa adil, karena Pixar dan Dreamworks berbekal pengalaman satu dekade lebih, sementara Illumination baru seumur jagung. Memproduksi animasi memerlukan pengalaman dan alur kerja yang matang. Di lain sisi, seni bertutur cerita (storytelling) adalah abadi, maka satu-satunya senjata Despicable Me ada di storytelling. Dan sayangnya, alur cerita dan dialog yang segar tidak ada di Despicable Me. Film ini terlalu banyak mengandalkan lelucon dan slapstik yang tidak relevan.

Memang tidak semua lelucon nggak relevan itu menjerumuskan. The Simpsons bisa mengocok perut penonton dengan lelucon semacam itu karena mereka telah memberi ruang dan waktu bagi penonton untuk membangun “dunia” dalam imajinasi mereka. Demikian juga Shrek. Tanpa disangga kesepakatan imajinasi dengan penonton; Despicable Me hanyalah rangkaian adegan lucu bersambung-sambung yang mengalir tanpa arah.

8 Comments


Leave a Reply