Politik - November 28th, 2011
Swasensor Perciuman Obama dan PM Australia
Salah satu alasan mengapa UU Pornografi (dan UU ITE) tidak baik bagi kemerdekaan berekpresi ialah batasan pornografinya yang terlalu luas. Pasal ini menjadi karet, karena sesuatu yang sebetulnya tidak asusila bisa ditarik-tarik sehingga menjadi asusila. Akibatnya: sanksi pidana.
Dan efeknya adalah: orang jadi terlalu khawatir, dan melakukan swasensor yang tidak perlu.
Tempo.co termasuk media besar yang melakukan swasensor ketika menerbitkan berita “Obama Cium ‘Mesra’ Perdana Menteri Australia“. Foto Obama dan Gillard yang sedang berciuman itu dikaburkan, mungkin agar tidak dijerat pasal karet di UU Pornografi dan UU ITE.
Padahal ciuman dua kepala pemerintahan yang di depan umum itu tidak seksual dan tidak asusila. Malah kalau kita lihat foto aslinya, bibir Obama hanya menyentuh pipi Gillard. Akan tetapi sensor justru berpotensi membuat pembaca berpikir aneh-aneh. Akibatnya, berita dimaknai melenceng dari faktanya.
Cepat atau lambat, UU Pornografi dan UU ITE harus direvisi dengan membuat batasan pornografi sejelas mungkin. Selain itu, pornografi haruslah hanya dibatasi pada anak-anak saja, karena orang dewasa memiliki hak untuk mengakses pornografi.
34 Comments
-
saya berhak mengakses pornografi *eh
ahahahha iya padahal gambarnya nggak mesum ya? Emang mereka french kiss sampe disensor segala
saya aja tadinya berpikir ada lidah yang trjulur dari bibir obama makanya disensor eh ternyata salah *loh*
-
“…orang dewasa memiliki hak untuk mengakses pornografi”
Ckck, segitunya membela hak2 pengakses pornografi. Ngga perlulah bawa2 agama disini, karena Anda pasti langsung antipati begitu yg comment bawa2 agama (dan berkelit bahwa kalau dibawa ke ranah agama ya Anda tak bisa komentar). Tp pornografi itu asusila dan banyak dampak negatifnya, bagi dewasa sekalipun.
Lantas bagaimanakah mbedain si pengakses adalah anak-anak atau bukan. Di negara ini semua usia tanpa terkecuali BISA akses pornografi asalkan terhubung internet. Orang tua bisa mengawasi saat di rumah, tp gimana dgn warnet atau tempat2 sejenis?
Salut dengan negara China yang mati-matian memblok pornografi. Mereka mau menyelamatkan generasi mudanya. HEBAT!
-
eh bawa2 warnet :D
ke warnet saya aja mba, dijamin bersih dan ga bisa akses situs porno, kecuali mba masuknya lewat youtube, nyerah deh hehehemungkin ada banyak juga warnet yg sengaja meloloskan tapi tidak semua :D
-
-
Duh itu bukan asumsi sayaa, ada penelitiannya lho Mas Momon yang cerdas, nanti saya cari linknya ya. Btw, berita segudang dan kejadian nyata saja tidak membuktikan sesuatu, apalagi statement anda bahwa pornografi justru menurunkan tingkat kejahatan seksual? Mana buktinya???
Dan, apakah… apakah informasi yg anda maksudkan dalam ‘membatasi informasi’ itu maksudnya ‘konten pornografi’? *sungguhanbingung* -
Kalau jawabannya adalah iya, maka saya memang sedang berusaha membatasi informasi dari anak2 yg tdk berdosa dan dr org2 yg belum tentu dapat mengendalikan dirinya :D
-
Kalau saya menangkapnya, yang dimaksud penulis di atas adalah: kita mesti bisa membatasi informasi dari “anak-anak yang tidak berdosa”, tanpa harus sok mengatur-atur “orang yang belum tentu dapat mengendalikan dirinya”.
-
-
Menjadi orang benar di antara banyak orang yang merasa sok baik memang susah :)
Apalagi kalau standar baiknya berlandaskan agama… argh ;)
-
“…orang dewasa memiliki hak untuk mengakses pornografi” dapet darimana tuh orang dewasa? beli di ebay? atau jatoh dari langit?
-
@dedi
loh memang nggak punya ya, jika dilihat UU Pornografi kepemilikan barang2 pornografi untuk kepentingan sendiri tidak dilarang loh :D-
berari hak itu didapat dari beli, UU bisa dibeli kan ya?
-
-
-
Bah!
Itu bukan dicium juga kali.. dasar Tempo.co..
*ngebahas photonya aja ah..Kalo kita lihat High Res nya, photo itu diambil dari samping, ketika Obama dan Gillard sedang saling cipika cipiki. Sebuah salam pertemuan yg normal dilakukan pemimpin2 negara ketika bertemu (selain salaman)
Karena sudut pengambilan yg dari samping, dan momen “jepret” yg pas, makanya bias terkesan mau dicium..
Dan lebih parahnya, sensor yg dipasang Tempo justru memberi imajinasi lebih jauh dr bias jepret diatas. -
dulu saya juga mikirynya seperti mas momon, tp sejak punya anak, mmm… agak kuatir juga dengan konten pornografi yg bisa diakses dimana saja, bukan cuman internet tp media lainnya.
-
Sama, saya juga merasakan kekhawatiran itu
Karena itu saya memasang filter di laptop rumah yg diakses oleh anak.
Saya mempromosikan penggunaan positif dan menyenangkan dari internet
Tapi saya tetap membela kebebasan informasi
-
-
[...] Tulisan Momon, salah satu blogger yang kukagumi karena kelihaiannya menuangkan kecerdasan otaknya dalam bentuk tulisan, membuatku berpikir apa iya, hanya gara-gara ciuman apalagi melihat foto ciuman antara Presiden Obama dengan Julia Gillard (PM Australia) maka kita lantas menjadi ‘asusila’? [...]
-
ahhh apa2 jadi rame …
susah deh klo mikirnya pada picik
terus ngeliatnya pake kacamata kuda
jadi ya gitu deh hehehe-
balik lagi ah :D
lagian itu kan PM Oz sama Om Obama begitu mestinya yg boleh protes kan cuma ibu Michelle yah tapi napa yang orang lain yang seru sendiri sih hihihihiapalagi adab sopan santuan setiap negara ‘kan beda2 ya, jadi ga bisa dipukul rata …. errrr … *gemes sendiri*
-
Iya tuh, etapi gak seru juga kalo gak rame :D
-
Ah biasa aja, namanya juga berpendapat. kayanya situ deh yg lebay.
Bawa2 kuda, saudara ya? mwahahaha…
-
-
Saya tergelitik melihat adu argumen antara mbak adinda dan mas Herman.
Coba tilik ke jaman ORBA dulu, kalau berdasarkan ingatan saya tayangan TV yang “baik” jauh lebih banyak daripada yang “jelek”
* baik itu seperti klompencapir, cerdas cermat
* jelek itu seperti liputan kriminal, investigasi makanan berbahaya di pasaran
(mirip seperti Cina sekarang)Tapi apa itu kenyataannya?
Statistik yang diajukan oleh mas Herman dan mbak adinda memang gampang dicari di internet. Tapi kembali lagi, semua penelitian tidak hanya memperhitungkan satu faktor (misalnya intensitas terpapar kepada materi pornografi), pekerjaan orangnya, lingkungannya, dan seabrek-abrek hal lain. Ingat saja pepatah lama, lain padang lain belalang.Saya setuju bahwa pendekatan teknis bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan, regulasinya saja yang belum ada.
Menurut saya, benteng awal dari semua adalah nilai-nilai yang dipegang di dalam diri kita masing-masing, saya tidak bilang agama lho.
Akses internet di rumah saya juga gak pakai parental-control, bahkan saya mem-bypass NAWALA. Tapi dari awal niat orang-orang di rumah saya untuk mengakses internet adalah untuk urusan kerjaan dan social media, didukung dengan pengetahuan tentang internet, terhindarlah semua dari paparan materi pornografi. Tapi itu di rumah saya, beda tentunya jika dibandingkan dengan kondisi warnet dan anak-anak yang masih belajar-belajar internet; klak-klik sana sini lalu terpapar ke iklan dewasa dan situs pornografi.
Di tempat seperti warnet memang perlu dipersiapkan penanganan teknis yang tepat, jika niatnya mau menyelamatkan generasi penerus bangsa. Supaya warnetnya nurut, pemerintah bikin regulasi dong aw.
Masa iya di Jakarta bisa ada PERDA dilarang merokok itu, tapi gak bisa bikin regulasi untuk warnet (yang jelas-jelas gedungnya gak mungkin lari kalau dikejar satpol seandainya melanggar peraturan).
-
Tidak yakin juga kalau Tempo melakukan swasensor karena UU Pornografi, saya pikir mereka sengaja menyensor buat bikin heboh beritanya aja, soalnya kalau gak disensor emang gambarnya biasa2 aja, kita tahu kalau media juga biasa cari pembaca dengan cara seperti itu.
